Mikaela bukannya tak sadar dengan sepasang mata yang mengintainya, lapar. Mata itu secara terang-terangan mengawasi setiap gerak-geriknya. Enggan melepas, meski yang ia lakukan hanyalah hal remeh, seperti memindahkan dokumen ke dalam rak penyimpanan.
Sebenarnya apa yang salah dari diri atasannya?
Pria itu, mengapa memperlakukan Mikaela layaknya hewan yang kapan saja bisa ia terkam? Kalau alasannya karena satu malam yang pernah mereka lewati bersama, tunangan sang atasan yang maha sempurna, setidaknya dapat menjadi jawaban, tentang atasannya yang seharusnya melupakan wanita penuh kekurangan seperti dirinya.
Mikaela yakin, malam bersama tunangannya, pasti jauh lebih mengesankan sekalipun pria itu bermain sebagai pria pertama di dalam hidupnya.
Apalah arti sebuah keperawanan jika lawannya adalah seorang model ternama dengan lekuk tubuh menawan, sekaligus citra diri terawat hingga ke ujung kuku yang dimilikinya.
“Mika..”
Tak!
Panggilan tiba-tiba itu membuat Mikaela menekan kuat tuts keyboard yang sedang ia operasikan.
Tanpa menunggu sahutannya, Arkanu Diprojo, pria yang menggelisahkan hatinya, kembali bersuara.
“100 juta..”
“Tidak, Pak.” Balas Mika cepat, memotong kalimat Arkanu, karena memang ia sudah mengetahui kemana arah pembicaraan atasannya.
“Sial! Your breasts.. They're getting bigger, and I know it. Aku mengetahuinya hanya dengan melihatnya. Mereka membuatku gila, Mika.”
Mikaela mengangkat satu alisnya. ‘Kemana perginya sapaan formal yang pagi tadi saja masih terdengar ditelinganya?’
“Excuse me, Sir.. ini pelecehan namanya. Saya tidak bertahan untuk dilecehkan.”
“Oh, God!” Arkanu mengerang sembari mengacak kesal rambutnya.
Meski tampak lelah dalam menghadapi penolakan asisten pribadinya, sinar penginginan pada kedua mata pria itu, tetap menyala, menembus netra berisikan amarah, pada wanita yang duduk terengah dibalik meja kerjanya.
Ketika Arkanu mengangkat tubuhnya, Mikaela yang menangkap tanda bahaya, ikut berdiri secepat yang ia bisa.
“Gosh! Untuk apa kamu berdiri? Saya masih punya harga diri. Tenang saja. Selagi kamu tidak mengizinkan, saya tidak akan memaksakan kehendak dengan memperkosa kamu di ruang kerja saya.”
Penggunakan kata ‘saya,’ menenangkan hati Mikaela. Kegilaan atasannya sudah mereda. Pun, atasannya adalah pria terhormat. Ia pasti tidak akan mencoreng nama baiknya sendiri dengan merudapaksa asistennya.
Setidaknya, begitulah yang Mikaela pikir. Namun belum lima menit berlalu, ketika pria itu terlihat hendak melewatinya, langkahnya terhenti bersama dengan uluran tangan yang menarik paksa batang lehernya.
“Eumphh..”
Sebuah ciuman membungkam diri Mikaela. Bibir itu tak hanya mendarat, ia bergerak, menerkam Mikaela dengan lumatannya.
“Mphh..”
Ketika Mikaela akhirnya pasrah dengan ciuman sepihak yang didaratkan kepadanya, gejolak di dalam perutnya kembali muncul, membuat kedua tangannya yang melemah, mendorong tubuh pria dihadapannya.
Mual melanda. “Huk.. Hoek..” Mikaela kontan membekap mulutnya.
“Are you pregnant? Anak saya?”
Deg!
Dua pertanyaan terlontar, menggetarkan tubuh lemahnya yang sudah lelah menghadapi perilaku tak biasa atasannya.
Dengan kegugupan yang kentara, Mikaela membalas, “N-No.. Bapak salah. Saya hanya masuk angin saja. Iya!”
Mata yang mendamba pun berubah kelam. Mata itu memicing. Mencoba untuk mencari kesungguhan dibalik balasan gugup yang asistennya berikan.
“Batalkan seluruh agenda saya. Termasuk fitting dengan Elea. Lalu,” suara penuh penekanan itu terhenti ketika Mikaela berlari ditengah-tengah instruksinya. Dari ekor matanya yang kelam, ia menyaksikan Mikaela berlalu, masuk ke dalam toilet di ruang kerja mereka.
“Hoek!!” Suara muntahan terdengar, bersama dengan suara yang Arkanu yakini sebagai keluarnya isi perut Mikaela.
“b******n! Dia hamil, dan malah mencoba menghindar?!” Monolog Arkanu, marah.
Arkanu geram. Hidup 30 tahun dengan segala keistimewaan, baru kali ini, dengan asistennya, ia merasa keistimewaan itu tak ada gunanya.
Disaat banyak wanita mengantri bahkan untuk dijadikan sebagai peliharaan dibelakang tunangannya, satu wanita itu, yang tak lebih menawan dari wanita-wanita yang berlalu-lalang di hidupnya, berani mengoyak harga dirinya dengan penolakan yang ia terima.
Dengan marah melingkupi d**a, Arkanu melangkah lebar. Pria itu membuka ruang kerjanya. “Kamu! Carikan testpack dan hubungi rumah sakit manapun yang memiliki dokter kandungan.”
“Sekarang, Mas?” Dewita, sekretaris utama Arkanu yang kedudukannya berada tepat dibawah Mikaela, bertanya. Biasanya ia tidak mengerjakan urusan seperti ini karena Mikaela-lah yang akan melakukannya.
“Tahun depan, Dew! Ya, sekarang! Nggak denger kamu Mikaela muntah-muntah?”
Brak!!
Ditempatnya, Dewita hanya menatap kosong daun pintu yang Arkanu hempaskan. Kepalanya berisikan tanda tanya, tapi ia menahannya, karena Arkanu Diprojo pasti tidak akan mengizinkannya untuk ikut campur, sekalipun ia adalah sepupunya.
“Come on, Mas Arkan nggak mungkin make si Mika kan? Kebangetan sih juniornya kalau Mika aja sampe dipake.”
**
Lupakan tentang alat tes kehamilan. Arkanu sudah tak tahan dengan ketidakjelasan kondisi Mikaela.
Pria yang baru saja menghempaskan daun pintu ruangannya itu, berjalan cepat, menghampiri Mikaela yang tak kunjung keluar dari bilik toilet ruang kerja mereka.
Ketika pintu terbuka, Arkanu dibuat tercengang dengan Mikaela yang tak sadarkan diri.
Wanita itu tergeletak di atas lantai dengan tubuh setengah meringkuk seolah dirinya tumbang karena menanggung banyaknya ketakutan.
“Sialan kamu, Mikaela!”
Bergegas, Arkanu pun mengangkat Mikaela ke dalam gendongan.
“Telepon supirku. Minta dia standby di depan lobby. Kamu bantu Mika buat cancel semua jadwalku. Hari ini aku off.”
Oh, gila! Burung kakak sepupunya memang sudah bersarang di dalam diri asisten pribadinya. Karena kalau bukan karena itu, sepupunya pasti tidak akan kalang kabut mengurusi asistennya yang tampaknya tengah berbadan dua.
“Ah, halo Pak Dirman. Tolong standby di lobby ya. Pak Arkan dan Bu Mika sedang menuju kesana. Cepat ya Pak. Pak Arkan sedang uring-uringan soalnya.”
Beruntung, ketika Arkanu keluar melewati pintu utama gedung perusahaannya, mobil hitam yang biasa ia gunakan untuk bekerja telah terparkir dengan pintu penumpang terbuka seolah menyambut kedatangannya.
“Rumah sakit, Dirman.” Begitu titahnya setelah Dirman, berada dibalik roda kemudi mobil yang ditungganginya.
Arkanu bergegas membawa turun Mikaela ke Unit Gawat Darurat.
“Tiba-tiba pingsan,” jelasnya ketika tenaga medis menanyakan apa yang terjadi sehingga pasien dibawa dengan keadaan tak sadarkan diri.
“Hamil. Kemungkinan dia sedang hamil.” Papar Arkanu, lagi, agar penanganan yang diberikan tak memengaruhi janin di dalam kandungan Mikaela, andai kehamilan itu memang benar-benar ada, bersarang pada diri asisten pribadinya.
“Anda suami atau wali pasien?”
“Bukan, saya atasannya.”
Mendengar Arkanu bukanlah siapa-siapa, tenaga medis itu pun meminta Arkanu untuk menunggu di luar. “Dan tolong untuk menghubungi keluarga pasien.”
Kesal karena mendapatkan pengusiran, dengan mudahnya Arkanu berkata, “Jadikan saja saya sebagai penanggung jawabnya. Wanita itu hamil anak saya.”
Mikaela tersadar bersamaan dengan terlontarnya kalimat pengakuan yang Arkanu layangkan. Wanita itu memeluk erat perutnya. Merasa begitu terancam sebab Arkanu telah mengetahui kondisi kehamilannya.
“No, saya mohon jangan gugurkan anak di rahim saya. Dia tidak tahu apa-apa. Saya yang salah karena masih mempertahankan dia.”
“?”