Jari-jari Mikaela bergetar. Napasnya memberat kala menemukan dua garis terpampang jelas pada seluruh alat tes kehamilan yang ia gunakan.
“Eror. Pasti eror! Aku nggak mungkin hamil cuman gara-gara ngelakuin itu sekali kan?” – Sekali yang berlangsung semalaman suntuk hingga atasannya berkali-kali meledak di dalam kehangatan dirinya, lebih tepatnya.
“Ya Tuhan..” Mika, begitu gadis 27 itu dipanggil, mengerang. Ia memejamkan mata. Menikmati denyutan yang meremas kepala bahkan juga jantungnya.
Bagaimana bisa kehamilan ini terjadi? Terlebih dengan atasannya yang bertindak sebagai si penyumbang benih?
Gila, Gila! Ia memang tidak waras. Harusnya malam itu ia menolak. Meski melakukannya dengan keadaan yang sama-sama sadar, tapi sosok yang membuainya malam itu jelas hanya menganggap kegiatan mereka sebagai hubungan selibat. Terlebih, ia juga telah menerima kompensasi dengan bertambahnya jumlah bonus pada gaji bulanannya.
“Bodoh sekali kamu, Mika. Kenapa malam itu kamu mau saja ditiduri tanpa pengaman?” Monolog Mika, menyesali lemahnya iman yang membuat dirinya terbawa ke dalam buaian panas atasannya.
Setelah ini, ia harus apa? Laki-laki yang menanamkan benih ke dalam rahimnya itu sebentar lagi akan menikahi tunangannya. Pun, dia pasti juga tidak akan mau bertanggung jawab. Apalagi mempertanggung jawabkan hasil perbuatan yang jelas-jelas hanya dianggapnya sebagai, ‘pengisi kejenuhannya.’
“Apa aku resign aja?”
Mika terus saja menyematkan pemikiran itu dikepalanya. Ia berkali-kali membuat surat resign, akan tetapi, surat-surat yang menumpuk di dalam draft laptopnya itu, nyatanya tak pernah benar-benar bisa ia berikan kepada Arkanu Diprojo, atasannya.
“Morning, Mik. Kenapa tidak membangunkan saya kalau kamu sudah sampai?”
Mika yang baru saja memuntahkan isi perutnya ke dalam sink wastafel dapur apartemen Arkanu, memutar tubuhnya sebelum kemudian membentuk senyuman profesionalitas yang selama tiga tahun ini selalu menghiasi wajah teduhnya.
“Belum pukul enam, Pak. Pak Arkan mau disiapkan baju gantinya sekarang?”
“Kamu sakit? Kalau saya lihat-lihat, wajah kamu lebih pucat dibandingkan kemarin.” Ujar Arkanu yang tak melepaskan sedetikpun pandangan dari pucatnya wajah asistennya.
“Ah, tidak Pak. Hanya sedikit kelelahan saja. Mungkin jet lag karena kita kemarin mendarat tengah malam.”
Tanpa disangka, pria berusia 30 tahun itu berdecak. “Harusnya kamu menurut waktu saya bilang menginap saja. Hari ini jadwal saya padat. Saya juga ada fitting kan? Kamu yakin bisa bekerja dengan kondisi yang seperti ini?”
“Bi-Bisa, Pak.”
Mika menelan ludah. Sejujurnya ia ingin muntah. Berada di dekat Arkanu entah mengapa membuat isi perutnya teraduk.
“Oke. Tolong siapkan pakaian saya kalau begitu.” Masih dengan ekor mata memperhatikan Mika, Arkanu akhirnya memilih pergi untuk membersihkan diri.
Sejujurnya Mika tersiksa. Ia ingin menempa keberaniannya. Memutuskan kontrak kerja, lalu menghilang agar ia dapat memulai hidup baru dengan janin yang sampai detik ini kian melahirkan kebingungan di dalam hatinya.
Semakin lama, kebingungan yang tak bisa ia pilih akan menempatkan dirinya ke dalam masalah. Masalah itu mungkin akan merenggut segalanya darinya. Jadi, sebelum segalanya berubah menjadi rumit, ia harus benar-benar menentukan pilihan.
“Pak.” Erang Mika kala sebuah lengan tiba-tiba saja melingkari pinggangnya.
“Sepertinya saya butuh kamu lagi, Mik.” Setelah pelukan yang tiba-tiba, bisikan itu mengalun bersama hembusan napas yang menerpa panas di cuping telinganya.
“Jangan seperti ini, Pak.” Ucap Mika, tak nyaman. Ia menggeliatkan tubuh, berusaha untuk melepaskan diri dari rengkuhan Arkanu.
“Saya akan kasih bonus lagi seperti dua bulan lalu.”
“No, saya tidak mau.”
Satu malam saja sudah cukup. Mika tak ingin lagi terbuai pada bujukan setan yang nyatanya malah menjerumuskan dirinya ke dalam lubang penderitaan.
“Kenapa? Kamu sudah memiliki kekasih?”
Menyentak lengan Arkanu hingga pelukan pria itu memudar, Mika yang terbebas pun bergegas mengambil jarak.
“Bapak sudah akan menikah. Kalau Bapak lupa, Bapak sendiri yang berpesan agar kejadian malam itu, sebaiknya tidak terjadi lagi dikemudian hari.”
Arkanu yang hanya berbalutkan handuk, menaikkan satu alisnya. “Sebaiknya kan?” lontarnya kemudian dengan seringaian yang mengembang. “Saya berubah pikiran sekarang.”
“Maaf, saya tidak bisa.”
“Even saya menaikkan lagi bonus bulanan kamu?”
“Terima kasih, Pak. Saya tidak pernah memiliki niat untuk menjual diri saya.”
Arkanu mengangkat kedua tangannya ke udara.
“Fine.. Saya tidak akan memaksa. Hanya saja, entah kenapa kamu kelihatan semakin seksi sekarang.”
Mika mengerang. Sungguh, ia semakin ingin keluar dari pekerjaannya, tapi kapan ia berani untuk melangkah?! Draft di laptopnya saja tak pernah ia cetak.
“Katakan saja saat kamu juga menginginkan saya. Untuk kamu, kamu adalah pengecualian.” Lagi, seringaian terbit di wajah Arkanu.
Pria yang tak tahu jika benihnya telah berkembang di rahim asistennya itu, melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya. Mika yang melihatnya tentu saja langsung beranjak, membuat Arkanu terkekeh sembari menatap kepergian terburu-burunya.
“Menarik. Saya tahu kamu menghindari saya. Lakukan saja. Saya ingin lihat selama apa kamu bisa bertahan.”
Bagi Arkanu, Mika adalah mainan menggemaskan yang diam-diam selalu ia pantau eksistensinya. Keberadaannya layaknya angin segar yang berhembus ditengah kepenatan hidupnya.
Dan malam itu, Arkanu yang telah lama mengincarnya, akhirnya dapat menuntaskan dahaga yang selama ini ia tahan.
Mika sangatlah mempesona. Saking mempesonanya, satu kali rasanya tak cukup hingga ia melakukannya berulang sampai asistennya itu kelelahan.
Lalu, jika bisa, Arkanu ingin menyimpan Mika untuk dirinya, termasuk juga setelah hari pernikahannya.
“Sial! Kamu membangunkan milik saya, Mika.”