Kirana duduk tegang menunggu respons Dirga yang sedang memeriksa materi promosinya. Ekspresi Dirga berbeda dengan Yudistira—lebih santai, tidak menakutkan. Sementara dulu Yudistira selalu menatapnya tajam, tapi justru sorot itulah yang membuat jantungnya berdebar kencang dan berakhir dia terjatuh terlalu dalam pada tatapan tajam itu. “Ini cukup bagus,” komentar Dirga, membuyarkan lamunan Kirana terhadap Yudistira. Pria itu meletakkan tabletnya dan kembali bersuara. “Terdengar segar dibanding konsep sebelumnya. Kamu siap presentasi di depan direksi siang nanti?” “Siap, Pak. Asalkan tidak ada revisi lagi.” “Sudah oke. Laporkan ke tim, dan pastikan semua koordinasi sebelum presentasi.” “Baik, Pak.” Kirana segera berdiri, lalu berbalik menuju pintu. “Kirana.” Suara Dirga menghentikan la