Kirana menyadari lift bergerak naik, bukan turun seperti yang dia inginkan. Ini salah. Dia ingin ke kantin di lantai bawah, bukan ke atas. Tangannya bergerak untuk menekan tombol, tapi Yudistira menghalanginya. “Satu lantai lagi,” ucap pria itu dengan tenang. Kirana menatap panel lift—mereka sudah melewati lantai delapan, dan sekarang menuju lantai sembilan. Lantai itu hanya dipakai untuk meeting penting, tapi minggu ini sepi karena tidak ada agenda. Dia mulai was-was, mau apa Yudistira membawanya ke sana? “Saya mau turun,” protes Kirana. Namun, lift sudah berhenti di lantai sembilan. Pintu terbuka. “Ayo.” Yudistira mendorong tubuh Kirana dengan mudah keluar dari lift. “Pak!” teriaknya, terkejut karena dorongan itu terlalu keras. Mereka kini berdiri di lorong sepi, sali