Klek!
Tiba-tiba, Pintu terbuka.
Stella masuk membawa baki. Di atasnya ada semangkuk sup hangat yang masih mengepulkan uap tipis, roti panggang kecil yang tersusun rapi, dan telur lembut yang aromanya samar-samar menghangatkan udara kamar yang sejak tadi terlalu dingin.
Kharel yang semula masih duduk bersandar langsung menggeser bukunya cepat ke dalam selimut.
Ia menahan napas sedikit ketika Stella mendekat. Karena ini … berbeda.
Selama setahun terakhir, pelayan-pelayan “pribadi” yang dikirim untuk mengurusnya hampir selalu sama saja. Kalau tidak pura-pura lupa, mereka pura-pura ketiduran. Kalau tidak memasang wajah manis di depan, mereka mengumpat saat membelakanginya.
Ada yang sengaja membiarkan makanannya datang dingin. Ada yang terang-terangan menatapnya dengan jijik. Ada juga yang bahkan terang-terangan menghinanya seolah menunggu momen saat dia benar-benar meledak, supaya bisa dijadikan bukti bahwa “si id iot” itu memang berpura-pura.
Tapi perempuan yang sekarang berdiri di samping ranjangnya ini … datang sambil membawa makanan hangat. Makanan yang layak dimakan untuk manusia. Dan entah kenapa, itu justru membuat d**a Kharel sedikit sesak oleh sesuatu yang tidak nyaman untuk diakui.
Stella menaruh baki itu pelan di meja samping ranjang. Kharel melihat ada yang berbeda di sorot matanya yang sekarang. Ada sesuatu di sana yang tadi belum ada.
Sebuah empati?
Kharel memandanginya diam-diam. Perasaan itu asing baginya.
“Kakak lama,” ucap Kharel akhirnya. Suaranya datar seperti biasa. Namun, ada nada tipis yang sulit dijelaskan.
Stella menghela napas pendek, lalu berusaha tersenyum. “Ya, maaf, Tuan Muda. Tadi di dapur orangnya sedikit, jadi agak lama.”
Bohong. Tentu saja bohong.
Karena untuk alasan yang bahkan ia sendiri belum benar-benar pahami, Stella tidak ingin Kharel tahu kenyataan pahit itu. Tidak ingin pria itu tahu bahwa di rumahnya sendiri, namanya jadi bahan ejekan di dapur. Entah kenapa, Stella tidak tega.
Kharel menatapnya lurus dalam diam. Stella yang sedang menuang sup ke sendok kecil akhirnya mulai tidak nyaman. “Kenapa lihat saya begitu?”
“Kakak bohong.”
Tangan Stella berhenti di udara saat mendengar perkataan itu. Ia menoleh cepat.
“Ha?”
“Di dapur bukan karena orangnya sedikit,” balas Kharel dengan tenang.
Stella menatapnya beberapa detik.
Aduh. Apa ini yang dimaksud Mbok Ijah tadi?
Stella tersenyum tipis. Senyum diplomatis andalan orang capek. “Tuan Muda ini. Saya cuma telat sedikit, langsung diinterogasi.”
“Karena Kakak beda.”
Jawaban itu keluar begitu saja dari bibir Kharel. Dan justru karena itu, baik Stella maupun Kharel sama-sama membeku.
Kharel sendiri sedikit mengernyit. Seolah baru sadar apa yang keluar dari mulutnya.
Sementara Stella mengerjap dua kali.
“Beda gimana?” ulangnya pelan.
Kharel mengalihkan pandangan sebentar ke mangkuk sup. “Biasanya kalau telat, makanan datang dingin.”
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, d**a Stella seperti diremas pelan dari dalam. Ia menunduk, menatap uap sup yang masih naik tipis. Dan tanpa diminta, bayangan dapur tadi lewat lagi di kepalanya. Kalimat-kalimat menghina itu. Tawa-tawa kecil itu. Cara mereka bicara soal Kharel seolah dia tidak punya perasaan.
Stella menarik napas pelan. Lalu, dengan suara lebih lembut dari sebelumnya, ia berkata, “Kalau soal makan, saya nggak akan main-main.”
Kharel mengangkat mata lagi.
“Kenapa?” tanya Kharel.
Stella sempat ingin menjawab enteng saja. Karena ini kerjaan saya. Karena saya dibayar. Karena kalau Anda kelaparan, saya yang repot. Tapi, tidak satu pun dari kalimat itu keluar. Yang keluar justru sesuatu yang lebih jujur.
“Karena orang lapar itu … kasihan.”
Kharel tidak bergerak. Tatapannya tetap di wajah Stella, tapi untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang berubah tipis di matanya. Sesuatu yang semula tertutup rapat, sekarang seperti bergeser sepermilimeter.
Stella sendiri baru sadar apa yang ia ucapkan setelah kalimat itu terlanjur keluar.
Astaga.
Kenapa aku ngomong begitu?
Ia cepat-cepat berdeham kecil, lalu mengambil sendok. “Udah, Tuan Muda. Makan dulu sebelum jadi dingin.”
Kharel masih belum bergerak.
“Tuan Muda?” ulang Stella.
Kharel mengerjap lambat. “Kakak mau nyuapin Kharel?”
Stella mematung. “Hah?”
“Kharel maunya disuapin.”
Stella menatap pria itu tidak percaya.
“Tuan Muda kan udah gede bisa makan sendiri,” protes Stella.
Kharel menatapnya tanpa dosa. “Tapi tangan Kharel capek.”
“Tangan Tuan Muda capek habis ngapain?”
“Pegel aja.”
Stella terdiam, lalu menutup mata sebentar. Jawaban itu terasa terlalu absurd sampai lucu.
Ia akhirnya mendesah panjang. “Baik. Mulutnya dibuka.”
Kharel langsung membuka mulut terlalu cepat. Seolah dia memang dari tadi hanya menunggu kemenangan kecil itu.
Stella menyipit curiga, lalu menyuapkan sesendok sup ke mulutnya.
Kharel mengunyah pelan.
“Gimana?”
Kharel menelan. “Lumayan.”
“Lumayan?” ulang Stella, “itu supnya buatan Mbok Ijah, tahu.”
“Pantes kayak kenal rasanya.”
Stella menahan senyum. Ia mengambil roti kecil, merobek sedikit, lalu menyuapkannya lagi.
Aneh sekali, tapi suasana kamar yang tadinya terasa tegang sekarang justru berubah pelan-pelan. Masih canggung, iya. Masih absurd, jelas. Tapi ada sesuatu yang melunak di sela-sela mereka.
Kharel memperhatikan Stella diam-diam di antara tiap suapan.
Perempuan itu lelah. Itu jelas. Ada bayangan gelap di bawah matanya yang tidak bisa ditutupi bedak tipis. Lengan bajunya juga sempat sedikit tersingkap waktu dia mengangkat sendok, memperlihatkan goresan merah halus di kulit.
Kharel melihat itu. Matanya turun sebentar ke bekas goresan tersebut.
“Kakak kenapa?”
Stella yang sedang fokus memotong telur lembut itu menoleh. “Mm?”
Kharel mengangkat dagu sedikit ke arah lengannya. “Itu.”
Stella mengikuti arah pandangnya.
Oh.
Bekas cakaran Lisa.
Ia cepat menarik lengan bajunya turun. “Nggak apa-apa. Cuma kecelakaan kecil.”
Kharel menatapnya lebih lama. “Kakak bohong lagi.”
Stella memijat pelipis dengan tangan satunya. “Tuan Muda suka banget ya nuduh saya tukang bohong.”
“Karena Kakak emang tukang bohong.”
“Dan Tuan Muda super nyebelin,” balas Stella.
Kharel terdiam dua detik. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya seperti bergerak sedikit. Nyaris tidak terlihat. Tapi Stella melihatnya.
Lho?
Ini … dia barusan hampir senyum?
Kharel cepat menunduk ke arah mangkuk, seolah tidak terjadi apa-apa. “Supnya enak.”
Stella menatapnya dengan ekspresi aneh. “Tadi katanya lumayan.”
“Sekarang enak.”
“Cepat banget revisinya.”
“Karena sekarang Kakak yang nyuapin.”
Stella langsung tersedak ludah sendiri. “Apa hubungannya?”
Kharel mengangkat bahu kecil. “Nggak tahu. Tapi beda. Kakak jangan bawel.”
Stella menatapnya lekat-lekat, lalu menggeleng pelan. Ia buru-buru mengambil gelas air dan menyerahkannya. “Minum dulu.”
Kharel menerima gelas itu, tapi alih-alih langsung minum, ia malah menatap Stella lagi.
“Kakak.”
“Iya?”
“Di dapur … ada yang ejek Kharel?” Pertanyaan itu jatuh begitu saja.
Stella langsung terdiam. Jantungnya berdetak terlalu keras. Matanya refleks mencari wajah Kharel. Ekspresi pria itu masih sama. Tenang dan hampir kosong. Namun justru karena itu, Stella merasa jawabannya akan penting.
Ia bisa bohong lagi. Bilang tidak. Tapi untuk pertama kalinya, Stella merasa kalau ia berbohong lagi sekarang, entah kenapa rasanya akan jauh lebih buruk. Akhirnya, ia duduk lebih tegak. Sendok di tangannya diletakkan pelan.
“Ngomong jelek sih … iya,” katanya pelan.
Tatapan Kharel tidak berubah. Seolah ia memang sudah menduga.
Stella menelan ludah, lalu melanjutkan. “Tapi Tuan Muda nggak usah ambil hati. Ngejek itu tandanya orang iri.”
Kharel mengerjap pelan. Ia seharusnya sudah terbiasa. Seharusnya ini bukan hal baru. Seharusnya kata-kata dari dapur, koridor, atau ruang keluarga tak lagi punya dampak apa-apa. Tapi anehnya, justru kalimat pendek dari Stella itu yang membuat sesuatu bergerak kecil di dalam dadanya.
Stella memalingkan wajah sedikit. “Lain kali kalau mereka ngomong begitu lagi saya slepet mulut mereka pakai centong.”
Kharel menarik napas, ia hampir saja kelepasan tertawa.
“Saya paling benci lihat orang yang lagi lemah malah diinjak rame-rame.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka. Dan untuk sesaat, dua orang yang baru saling kenal beberapa jam itu seperti sama-sama mendengar gema luka masing-masing di dalamnya.
Kharel menunduk. Jari-jarinya perlahan mencengkeram ujung selimut. Lalu suaranya keluar lebih pelan dari sebelumnya.
“Jadi Kakak kasihan sama Kharel?”
Stella terdiam. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi ada sesuatu yang begitu telan jang di baliknya.
Ia menatap Kharel beberapa detik. Pria itu tidak sedang memainkan wajah polosnya sekarang. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Seseorang yang mungkin sudah terlalu lama tidak diperlakukan seperti manusia.
Akhirnya Stella menggeleng kecil.
“Bukan kasihan,” katanya pelan.
“Terus?”
Stella menarik napas. “Saya cuma … nggak suka lihat orang diperlakukan jahat, padahal belum tentu dia selemah yang semua orang kira.”
Kharel tidak menjawab. Namun, matanya tidak lepas dari wajah Stella. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada satu pikiran yang muncul di kepala Kharel dan tidak langsung ia singkirkan.
Mungkin … perempuan ini memang tidak sama.