BRAKK!!
Suara gebrakan keras langsung memecah dapur.
Semua orang tersentak. Dari pintu belakang, seorang wanita tua masuk dengan napas berat dan wajah murka yang tidak main-main.
Mbok Ijah, kepala pelayan di mansion Wiratama. Seseorang yang bahkan Tuan Besar Wiratama, ayah Kharel, pun hormati. Wanita tua yang sudah mengurus dari jaman Tuan Besar Wiratama masih belum remaja sampai sekarang.
Tubuhnya kecil, rambutnya sudah memutih hampir seluruhnya, tapi sorot matanya tajam sekali. Di tangannya ada sendok kayu panjang yang baru saja ia gebrak ke pintu sampai semua orang diam total.
“Siapa,” ucapnya geram, “yang barusan bilang Tuan Muda id iot?”
Tidak ada yang menjawab. Bahkan, tidak ada yang berani bergerak.
Mbok Ijah melangkah masuk lebih jauh. Langkahnya tidak cepat, tapi setiap tapak kakinya terasa seperti tekanan.
“Ayo,” katanya lagi, “mulut siapa yang ngomong? Biar saya dengar jelas.”
Sari yang tadi paling galak langsung menelan ludah. “M-Mbok, saya cuma—”
PLAK!
Sendok kayu itu menghantam meja tepat di depan Sari sampai perempuan itu melompat kaget.
“Cuma apa?!” bentak Mbok Ijah.
Suasana langsung pecah oleh ketegangan.
“Kalian ini dibayar untuk kerja atau buat meludah ke majikan kalian?!” suara Mbok Ijah bergetar oleh amarah, “Tuan Muda itu darah daging keluarga ini! Selama beliau masih bernapas di rumah ini, tidak ada satu pun dari kalian yang punya hak untuk menghina beliau!”
Tidak ada yang berani menatap wajahnya sekarang.
Bahkan Stella ikut terdiam. Karena kemarahan Mbok Ijah bukan tipe yang asal-asalan marah. Ini kemarahan orang yang sudah terlalu lama melihat ketidakadilan dan hari ini kebetulan kesabarannya sedang habis.
“Kalian pikir saya tidak tahu selama ini banyak yang sengaja ngelambatin kerjaan kalau urus Tuan Muda?” lanjut Mbok Ijah tajam, “kalian pikir saya tidak dengar bisik-bisik kalian? Ngerasa aman karena yang kalian hina tidak pernah balas?”
Satu pelayan mulai menunduk dalam-dalam.
Sari tampak pucat.
“Dengar baik-baik ya.” Mbok Ijah menunjuk mereka satu per satu. “Orang yang menertawakan orang lain saat dia lemah, biasanya paling keras nangis waktu giliran dia jatuh.”
Jleb!
Kena semua.
Lalu Mbok Ijah menoleh ke Stella. Tatapannya langsung berubah sedikit lebih lembut, meski masih tegang. “Nduk, Tuan Muda minta makan apa?”
Stella sempat tercekat satu detik. Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu membuat dadany terasa aneh. Karena sejak datang ke rumah ini, hampir semua orang terasa seperti sedang main peran. Tapi wanita tua ini? Tidak. Rasa khawatirnya terasa nyata.
Stella dengan cepat menguasai diri. “Tuan Muda bilang lapar, Mbok. Mungkin makanan hangat. Yang ringan tapi enak.”
Mbok Ijah langsung mengangguk. “Baik. Saya yang buat.”
Sari tampak hendak bicara, tapi Mbok Ijah sudah melotot duluan. “Kamu. Ambil kaldu.”
Sari membeku. “Saya, Mbok?”
“Iya, kamu. Sekalian belajar kerja pakai tangan, bukan pakai mulut.”
Dua pelayan lain langsung bergerak tanpa berani protes. Satu ambil mangkuk, satu lagi menyiapkan kompor.
Stella berdiri di sana, diam-diam memperhatikan. Baru sekarang ia mengerti. Kharel bukan cuma diabaikan. Dia dihina dan dikucilkan. Dibuat seolah tidak penting sampai bahkan staf rumah berani ikut menginjak.Dan rasa nyeri itu kembali menyeruak di d**a Stella. Persis seperti saat dia melihat ibunya diperlakukan seolah tidak punya hak apa-apa di rumah Atmadja. Persis seperti saat dirinya dipandang sebagai noda di keluarganya sendiri, padahal dia anak istri pertama.
Persis … seperti saat orang-orang memutuskan seseorang itu lemah, lalu merasa bebas berlaku kejam.
Mbok Ijah mulai meracik sup hangat dengan gerakan cekatan. Sementara itu, ia bicara tanpa menoleh.
“Kamu jangan terlalu dimasukin ke hati, Nduk. Orang-orang di dapur ini kadang memang lebih panas dari kompornya.”
Kalimat itu begitu tua, sederhana, dan lucu sampai Stella hampir tersenyum.
“Hm,” gumam Stella pelan, “tapi saya kaget, Mbok.”
“Kaget karena mereka jahat sama Tuan Muda?”
Stella mengangguk kecil.
Mbok Ijah mendengus. “Kalau rumah segede gaban isinya orang baik semua, itu namanya dongeng.”
Stella menahan napas, lalu akhirnya tersenyum kecil juga.
Mbok Ijah menoleh sebentar ke arahnya. “Gimana hari pertama? Kamu capek?”
Stella ingin menjawab tidak. Tapi entah kenapa, di depan tatapan perempuan tua itu, kebohongan terasa susah keluar.
“Lumayan,” akunya.
Mbok Ijah menghela napas. “Tuan Muda hari ini ngerjain kamu ya?”
Stella terdiam dua detik, lalu menjawab secara diplomatis, “Beliau … aktif banget.”
Mbok Ijah malah mendengus geli. “Berarti dia penasaran.”
Stella langsung menoleh. “Penasaran?”
“Kamu orang baru,” kata Mbok Ijah sambil mengaduk sup, “kalau dia bikin kamu repot, berarti dia lagi ngetes.”
Deg
Sesuatu di mata Stella berubah.
Ngetes? Maksudnya Mbok Ijah apa?
Mbok Ijah melanjutkan. “Sama kayak kalau kita lagi baca buku. Jangan tertipu kover-nya, Nduk.”
Kalimat itu membuat seluruh kejadian satu jam terakhir berputar ulang di kepala Stella. Tapi, dia masih tidak mengerti apa maksud Mbok Ijah.
Seolah bisa membaca pikirannya, Mbok Ijah tersenyum tipis. “Tapi satu hal … kalau dia masih mau lihat reaksimu, berarti dia belum tutup pintu.”
Stella tidak tahu harus merasa terhibur atau justru lebih waspada.
Beberapa menit kemudian, sup hangat, roti panggang kecil, dan telur lembut siap di atas baki. Mbok Ijah memeriksa semuanya sendiri, lalu menyerahkannya ke Stella.
“Nih.”
Stella menerimanya dengan hati-hati. “Terima kasih, Mbok.”
Mbok Ijah mengangguk, lalu suaranya turun sedikit. “Kalau ada apa-apa soal Tuan Muda, bilang ke saya. Jangan ke yang lain.”
Tatapan itu serius dan penuh makna.
Stella menangkapnya. “Baik, Mbok.”
Saat Stella berbalik membawa baki keluar dapur, langkahnya sedikit lebih lambat dari saat datang. Bukan karena capek saja, tapi karena kepalanya sedang penuh. Tentang dapur tadi. Tentang orang-orang yang menghina Kharel. Tentang kata-kata penuh teka-teki dari Mbok Ijah.
Dan terutama … tentang kemungkinan bahwa pria dengan wajah setampan dosa dan ekspresi sepolos bayi itu mungkin sama sekali tidak seperti yang semua orang kira.
Di sisi lain mansion, di dalam kamar besar bercahaya remang … Kharel masih duduk di ranjang. Lampu tidur menyala hangat. Buku di pangkuannya sudah terbuka, tapi belum dibaca. Matanya sesekali melirik ke arah pintu.
Sudah cukup lama. Jari Kharel mengetuk pelan permukaan buku.
“Ternyata dia sama saja dengan yang lain ….”