Ranjang Panas Kakak Tiri

1616 Kata
Di sayap timur mansion Wiratama, kamar Jerry Wiratama, kakak tiri Kharel, berdenyut penuh nafsu liar yang tak tertahankan. Kamar itu diterangi lampu redup berwarna merah keemasan, membuat suasana yang sudah panas menjadi semakin m***m. Tubuh pria itu, yang sejujurnya cukup atletis, mengungkung seorang wanita di atas ranjang kingsize berseprai sutra. Peluh mereka bercampur, aroma cairan maksiat mereka memenuhi udara dengan pekat! “Ahh!!! Jerry! Ouhh! Yesss!” racau wanita itu sambil membelit pinggang Jerry dengan kakinya, sementara kukunya mencakar punggung pria itu sampai meninggalkan goresan merah panas. “Dasar ja lang, kecil. Kamu suka ini, hah? Kamu nagih ini dari kemarin kan?” Jerry menggeram seperti binatang, pinggulnya maju mundur tak beraturan dengan cepat sambil tangannya bermain-main kasar di atas puncak dua apel wanita itu. Wanita itu melengkungkan punggungnya. “Iya … ahh! Aku memang ja langmu, hantam lebih kencang!” Jerry mempercepat ritme, setiap hujaman membuat kepala ranjang berderit keras. Love juice wanita itu mengotori segala yang ada di dekatnya. Entah itu milik Jerry yang sudah terbenam penuh di dalam kenikmatan sampai ke seprai penuh jejak dosa itu. Tiba-tiba wanita itu menarik rambut Jerry, memaksanya menatap matanya yang sudah berkabut nafsu. Bibirnya basah dan bengkak karena ciuman kasar mereka. “Sayang …,” desahnya manja sambil menggoyang pinggulnya mengikuti irama Jerry, “karena adikmu yang tadinya pewaris Wiratama itu jadi id iot … seharusnya kamu dong yang akan menguasai harta Wiratama? Semua kekayaan, perusahaan, mansion ini … harusnya jadi milikmu, kan?” Jerry terkekeh, suaranya berat penuh nafsu. Ia tak menghentikan gerakan pinggulnya sama sekali, malah semakin bersemangat, hingga wanita itu menjerit-jerit karena nikmat luar biasa. “Kalo dia mati, ya … sayangnya belum,” jawab Jerry sambil tersenyum licik. Giginya menggigit bahu wanita itu cukup kuat meninggalkan jejak merah. “Tapi nggak bisa sembarangan juga, Na. Biar gimanapun dia adalah anak istri sah Papa. Dan sampai sekarang, Mamaku tuh cuma istri siri Papa.” Nana mengerang panjang saat puncak kenikmatan menyentak tubuhnya. “Ahhh! Tapi … ahh fcck … kalau adikmu tetap id iot dan … nggak bisa ngapa-ngapain … kamu bisa dorong dia pelan-pelan … biar ‘kecelakaan’ lagi … seperti yang hampir berhasil tahun lalu ….” “Kamu benar-benar ja lang licik ya … tapi aku suka. Mamaku udah punya rencana baru. Untuk sementara, kita harus meyakini publik kalau Kharel Wiratama udah nggak berdaya buat melakukan apa pun, entah itu ngurus perusahaan atau jadi pemimpin perusahaan di masa depan.” Nana tertawa, tangannya turun bermain-main dengan duo kembaran Jerry di bawah sana. “Kalau gitu … hati-hati. Biar orang-orang nggak curiga. Aku bisa bantu. Asal kamu janji, setelah jadi Tuan Besar Wiratama, kamu bakalan kasih aku apa yang aku mau. Title Nyonya Wiratama masa depan dan juga … kemewahan tiada akhir.” Jerry menggeram ganas, membalik tubuh Nana dengan kasar hingga wanita itu sekarang berada di posisi yang lebih rapuh. Ia mencengkeram pinggul Nana kuat-kuat, lalu menghujam dengan kekuatan penuh. “Deal ja lang kecil!” desis Jerry sambil menampar b****g Nana keras hingga meninggalkan bekas merah telapak tangan. “Kamu boleh minta uang sebanyak-banyaknya … setelah Kharel lenyap dari muka bumi. Dan pelayan baru itu … kalau dia ternyata berguna, kita pakai dia dulu. Kalau nggak, lenyapkan juga.” Nana menjerit lagi, wajahnya terbenam di bantal sementara Jerry memompa seperti mesin. Di luar kamar, angin malam berhembus dingin, tak tahu bahwa di dalam mansion mewah itu, benih-benih pengkhianatan dan nafsu kotor sedang bertumbuh dengan subur. * * Satu jam kemudian, di kamar Kharel … Stella berdiri di dekat sofa dengan bahu yang rasanya mau copot. Dalam satu jam terakhir, entah sudah berapa kali Kharel mencobai batas kesabarannya. Mulai dari pura-pura salah pakai piyama sampai minta air hangat, lalu bilang airnya “kurang hangat”, lalu lima menit kemudian bilang malah “terlalu hangat”. Belum lagi saat dia meminta bantal tambahan, lalu justru mendorong bantal itu ke lantai dan menatapnya polos seolah gravitasi adalah musuh umat manusia. Stella tersenyum. Atau lebih tepatnya, memaksakan senyum. Pandangannya melirik jam dinding di dekat rak buku yang sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Ya ampun … saking hectic dan kacaunya, benar-benar tidak terasa sudah jam segini. Stella menarik napas, lalu menoleh ke arah ranjang besar di mana Kharel sedang duduk bersandar sambil menatapnya dengan ekspresi yang mencurigakan. “Baiklah, Tuan Muda, selamat malam, aku akan—” “Kakak,” potong Kharel. Senyum di bibir Stella bergerak sedikit. Retak, hampir ingin ngamuk. “Iya, Tuan Muda?” tanyanya manis sekali. “Kharel lapar.” Stella mengerjap sekali. “Lapar?” ulangnya, “jam segini, Tuan Muda?” “Iya.” Jawabannya itu singkat, polos, dan menyebalkan! Di dalam hati, Stella sudah memegangi jidat sendiri. Oke sabar. Ingat bonus mingguan. Ingat kalau melempar sesuatu ke muka majikan bukan keputusan karier yang bagus. Dengan pasrah, Stella mengangguk kecil. “Baik. Akan saya siapkan.” Kharel menatapnya beberapa detik, lalu berkata sekali lagi. “Kharel maunya yang enak.” Senyum Stella kembali berkedut. “Baik,” jawabnya lagi, kali ini lebih lirih. Ia berbalik cepat sebelum wajahnya benar-benar membocorkan isi hatinya. Klek! Begitu berada di koridor, Stella langsung berhenti dua detik dan mendongak ke langit-langit mansion. “Ya Tuhan …,” gumamnya pelan, “kalau ini latihan kesabaran, levelnya kejam banget.” Namun ia tetap melangkah. Lorong-lorong mansion Wiratama malam itu terang, tenang, dan dingin. Marmer putih memantulkan cahaya lampu gantung besar di langit-langit. Segalanya terlihat mewah dan sempurna dari luar. Tapi entah kenapa, semakin lama Stella berada di rumah ini, semakin ia merasa ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tidak terlihat, tapi terasa. Ia menuruni tangga menuju area dapur keluarga yang letaknya agak terpisah dari dapur utama staf. Saat sampai, benar saja, beberapa pelayan dapur masih ada di sana. Ada yang sedang memotong buah, ada yang menyusun piring, ada yang sekadar berdiri sambil mengobrol pelan. Stella melangkah masuk dengan sopan. “Mbak, maaf …,” ujarnya sambil mendekat, “Tuan Muda Kharel lapar. Bisa minta tolong disiapkan makanan ringan atau sup hangat mungkin?” Kalimat itu baru saja selesai keluar, tapi suasana dapur mendadak berubah aneh. Satu pelayan yang sedang menyusun mangkuk langsung melengos. Yang satunya lagi menatap Stella sekilas, lalu pura-pura sibuk mengelap meja. Ada juga yang saling pandang, lalu bibirnya bergerak membentuk senyum tipis yang jelas bukan senyum ramah. Stella mengernyit. Perasaan tidak enak langsung merambat ke tengkuknya. “Maaf …?” ulang Stella pelan, mengira mungkin mereka tidak dengar. Seorang pelayan perempuan yang berdiri paling dekat dengannya akhirnya mendecakkan lidah. Usianya sekitar tiga puluhan, wajahnya lumayan cantik, tapi tatapannya tajam dan jelas meremehkan. “Malas ah,” katanya enteng, “ngapain bikinin makanan buat si id iot itu.” Stella membelalak. Ia benar-benar sampai tidak langsung bisa bereaksi. Seorang pelayan … berani menghina Tuan Muda keluarga Wiratama? Dan bukan cuma satu orang. Pelayan lain yang sejak tadi memotong buah malah ikut tertawa. “Kamu juga, nggak usah niat-niat banget ngelayanin dia. Dia itu udah kayak sampah di keluarga Wiratama sekarang.” Yang lain menimpali, “Papanya aja nggak peduli sama dia waktu dia masih normal. Apalagi sekarang?” “Hidupnya juga paling cuma makan, diem, bikin repot, terus tidur.” “Kalau aku jadi kamu sih, mending pura-pura lupa aja. Biar dia kelaparan sekalian.” Mereka tertawa cekikikan. Suara itu tidak keras. Tapi justru karena santainya, rasanya lebih menjijikkan. Jantung Stella seperti ditusuk sesuatu yang tajam. Nyut! Untuk sesaat, dapur mewah itu mendadak terasa seperti kehidupannya di rumah Atmadja. Tempat orang-orang bicara semaunya tentang dirinya dan ibunya. Tempat orang-orang merasa punya hak untuk merendahkan seseorang hanya karena tahu orang itu sedang jatuh. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh. Tatapannya berubah. “Oh …,” katanya pelan. Salah satu pelayan itu menyeringai. “Kenapa? Kaget? Nanti juga kamu lama-lama tahu sendiri.” Stella tertawa kecil. Tawa yang sangat dingin. “Jadi …,” katanya sambil melangkah pelan mendekat, “di rumah ini pelayan bebas ya menghina Tuan mudanya sendiri yang sedang sakit?” Beberapa dari mereka tampak sedikit berubah ekspresi. Tidak nyaman, tapi perempuan yang tadi bicara paling dulu justru mengangkat dagu. “Lah emang kenapa? Semua orang juga tahu kondisinya.” “Semua orang tahu,” ulang Stella pelan, “tapi tidak semua orang sebodoh itu untuk mengatakannya terang-terangan.” Wajah perempuan itu langsung menegang. “Kamu ngomong apa? Jangan sok baik deh!” Stella tersenyum tipis. “Aku cuma bilang, kalau aku jadi kalian, aku bakal lebih takut sama CCTV dan telinga orang daripada sibuk ngerumpi kayak murid bengal habis istirahat.” Dua pelayan di belakang langsung refleks saling pandang. Namun perempuan pertama tadi masih berusaha galak. “Sok suci banget, sih. Baru juga masuk sehari.” “Betul,” kata Stella ringan, “baru sehari. Dan di hari pertama aja aku udah bisa lihat kualitas staf di sini ternyata separah ini.” “Heh—” “Tapi masuk akal juga,” potong Stella, kini senyumnya lenyap, “Kalau tuan rumahnya sedang lemah, tikus-tikus biasanya memang jadi berani keluar dari lubang.” Ruangan itu langsung hening. Kali ini benar-benar hening. Mata beberapa pelayan membesar. Bukan karena Stella berteriak. Justru karena dia tidak berteriak sama sekali. Nada suaranya tetap tenang, tapi tiap katanya menampar. Perempuan tadi maju setengah langkah. “Siapa yang lo bilang tikus?” Stella menatapnya lurus, menantang balik. “Lo mau gue ulangi?” Perempuan itu langsung tersulut. “Mentang-mentang jadi pelayan pribadi Tuan Muda Kharel Wiratama, lo pikir posisi lo tinggi?” “Enggak,” jawab Stella cepat, “tapi setidaknya gue masih tahu bedanya kerja dan jadi parasit.” “Mbak Sari, udah …,” bisik salah satu pelayan di belakang, mulai panik. Namun yang bernama Sari justru makin emosi. “Apaan sih? Emang salah kalau ngomong fakta? Dia itu id iot!” BRAKK!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN