Mulut Stella langsung menganga terbuka. Otaknya serasa korslet. Semua pelatihan kesabaran seumur hidupnya di keluarga Atmadja, semua niat profesional hari ini, semua usaha untuk bertahan sebagai pelayan pribadi baru … langsung buyar dalam satu detik ketika bokser itu melorot di depannya.
Di hadapannya, Kharel berdiri dengan santai seolah tidak ada yang aneh. Belalai itu melambai-lambai seperti dosa besar terbungkus madu. Jujur? Stella belum pernah sama sekali melihat belalai pria seumur hidupnya. Bahkan punya Nick, mantan pacarnya selama empat tahun itu!
Dan sekarang?
Jiwanya rasanya baru saja keluar dari tubuh, melayang sebentar ke langit-langit kamar mandi mewah itu, lalu … belum juga balik.
“T-Tuan Muda!” pekiknya spontan, nada suaranya sudah mirip dengan tikus yang mencicit karena terpojok.
Kharel menoleh pelan ke arah Stella. Wajahnya tetap datar, tidak ada gurat malu sedikit pun, malah dengan santainya dia menggenggam belalainya dengan percaya diri.
“Kharel mau pipis,” katanya polos.
Stella langsung memutar badan secepat kilat sampai hampir keseleo sendiri. Tangannya refleks bergerak ke rak sabun, botol shampoo, handuk, apa saja deh! Pokoknya sesuatu untuk dilihat selain dari arah si belalai!
“Silakan!” katanya terburu-buru, “tapi nggak perlu briefing juga, Tuan Muda!”
Ia pura-pura sibuk merapikan rak yang sebenarnya sudah rapi. Satu botol sabun digeser ke kanan. Lalu ke kiri lagi lalu ditegakkan, diputar labelnya menghadap entah ke mana.
Astaga!!!!
Ini baru hari pertama dan udah ada aja gebrakannya!
Pantesan nggak ada yang betah!
Stella sabar … dia id iot … sabar …
Ya Tuhan, kenapa hidupku begini banget …
Napas Stella kembang kempis tidak karuan. Wajahnya panas, telinganya juga ikutan panas merambat sampai ke tengkuknya.
Di belakangnya terdengar suara gemericik ringan. Ssshhhh …
Stella menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Ini cobaan.
Ini jelas ujian hidup yang lebih gila daripada tiga badut Atmadja.
“Kak.”
Stella tersentak ketika namanya dipanggil. “A-apa?”
“Minta handuk.”
Dengan gerakan super kaku, dia meraih handuk besar dari gantungan tanpa menoleh sama sekali. Tangannya mengulurkan handuk itu ke belakang seperti robot rusak.
“Nih.”
Jari-jari Kharel menyentuh ujung tangannya saat mengambil handuk tersebut. Sapuannya ringan, tapi cukup membuat Stella refleks menarik tangannya seperti tersengat listrik.
Kharel tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Kemudian suaranya terdengar lagi.
“Kakak kenapa?”
Stella masih membelakangi. “Saya sedang berusaha mempertahankan profesionalisme.”
“Hm.”
“Hm apanya?”
“Kakak kayak orang lagi panik. Lucu.”
Stella langsung berbalik setengah dengan mata membesar. “Saya nggak panik!”
Kharel yang kini sudah membungkus tubuhnya dengan handuk cuma menatapnya datar.
“Kakak tadi nyusun shampoo tiga kali.”
Stella membeku dan matanya turun ke rak.
Benar.
Shampoo itu sekarang berdiri paling depan seperti peserta upacara.
“Terus sabunnya terbalik,” lanjut Kharel.
Stella menutup mata sebentar. Harga dirinya resmi meninggal.
Namun, ketika dia membuka mata lagi, pria itu masih menatapnya dengan ekspresi polos yang menyebalkan.
“Mulai sekarang,” kata Stella sambil menarik napas panjang, “kalau Tuan Muda mau ke toilet, kasih tahu dulu.”
“Kan tadi Kharel udah bilang.”
“Maksud saya sebelum buka …!” Stella berhenti, lalu mendesah frustrasi. “Pokoknya kasih aba-aba yang lebih jelas. Tidak baik kalau Tuan Muda mengumbar bagian tubuh Tuan Muda begitu saja ke orang lain.”
Kharel tampak berpikir sampai akhirnya dia mengangguk. “Ok.”
Stella menatap curiga. “Janji?”
“Iya.”
Hening sebentar, lalu Kharel menambahkan dengan nada serius, “Nanti Kharel bilang, ‘Kakak, tolong jangan kaget, Kharel mau ke toilet.’”
Stella menatapnya dengan pasrah. Situasi ini sangat absurd honestly. Namun, entah kenapa, di tengah stress, malu, dan kelelahan yang bertumpuk sejak kemarin, sebuah tawa kecil lolos juga dari bibirnya.
POV Kharel
Dari awal perempuan itu masuk ke kamarnya, Kharel sudah tahu satu hal.
Dia orang baru.
Bukan cuma soal baju kerja yang disetrika sampai sangat licin atau cara rambutnya diikat super rapi. Bukan juga soal parfum, yang untungnya tidak terlalu menyengat seperti pelayan sebelumnya.
Ada hal lain. Dari cara Stella berdiri, cara dia menahan napas, cara matanya bergerak cepat, mencatat semua hal kecil di ruangan ini, seolah otaknya sedang bekerja lebih keras daripada mulutnya.
Kharel duduk diam di ranjang, sementara pikirannya bergerak ke tempat lain.
Ibu tirinya mengirim mata-mata baru lagi.
Tentu saja. Setelah kecelakaan setahun lalu gagal membunuhnya, wanita itu tidak pernah berhenti mencoba. Kalau bukan racun yang dibuat tampak seperti obat, maka “dokter keluarga” yang terlalu mencurigakan. Kalau bukan staf rumah yang melapor diam-diam, maka pelayan pribadi yang diselipkan ke dekat tubuhnya sendiri.
Semua rencana dibungkus dengan rapi. Semua diberi nama ‘perhatian’. Namun? Semua itu sebenarnya adalah pengawasan.
Kharel menatap perempuan itu dari sudut matanya.
Namanya Stella Atmadja.
Nama yang tadi pagi ia dengar dari kepala pelayan, Mbok Ijah, satu-satunya orang di rumah itu yang masih ia percaya sepenuh hati. Seorang wanita tua yang sudah merawatnya sejak kecil.
Menurut bisik-bisik yang diketahui Mbok Ijah, Stella adalah wanita berumur dua puluh empat tahun. Baru masuk dan butuh uang cepat. Latar belakang keluarganya berantakan. Ibunya sakit keras dan sedang berjuang di rumah sakit. Ayah meninggal kurang dari seminggu lalu. Semua itu bisa saja benar.
Atau … bisa juga sengaja dirangkai oleh ibu tirinya yang manipulatif.
Bagaimana pun, wanita putus asa adalah alat terbaik. Lebih mudah dikendalikan, lebih mudah dibeli, dan biasanya terlalu sibuk bertahan hidup untuk sempat punya prinsip.
Tapi, dari dulu Kharel tidak suka menyimpulkan terlalu cepat. Dia lebih suka … membuktikan.
Itulah sebabnya dia diam saat Stella mulai mengusap lengannya. Dia membiarkan perempuan itu bekerja, membiarkan ruangan diisi suara air hangat dan napas tertahan. Dia ingin melihat seberapa stabil tangan Stella. Seberapa cepat perempuan itu marah. Seberapa kuat dia menahan jijik. Seberapa pandai dia berbohong.
Dari awal, perempuan itu sudah tegang sekali. Tangannya halus, tapi gerakannya terlalu kikuk. Bukan seperti pelayan profesional yang sudah biasa menangani tubuh majikan. Lebih seperti orang yang sedang memaksa dirinya sendiri untuk tidak lari.
Hm, menarik.
“Kakak marah?” Ia sengaja memakai nada polos itu. Nada yang sejak setahun terakhir selalu ia pakai di depan semua orang rumah. Nada yang membuat orang meremehkannya. Nada yang membuat ibu tirinya nyaman.
Perempuan itu langsung mengerjap gugup, bingung. Jawabannya keluar cepat, tapi tubuhnya berkata lain. Ia sama sekali tidak santai. Tidak licin, tidak sepenuhnya pandai berpura-pura.
Itu membuat Kharel semakin tertarik. Namun tertarik bukan berarti percaya. Ia menunggu perempuan itu sedikit lengah, lalu menepis pergelangan tangannya pelan sampai handuk jatuh. Perempuan itu refleks menunduk mengambilnya. Saat itulah kaki Kharel menendang baskom sampai air tumpah membasahi pakaiannya.
Sengaja. Ia ingin melihat reaksinya.
Orang kiriman ibu tirinya biasanya ada dua jenis. Jenis pertama adalah yang terlalu patuh, terlalu manis, terlalu cepat bilang “tidak apa-apa” padahal matanya menghitung semuanya. Jenis kedua adalah yang terlalu cepat marah, lalu tidak sengaja menunjukkan tujuan aslinya karena menganggapnya orang id iot.
Perempuan kali ini? Dia diam. Tubuhnya tegang, senyumnya tipis, suaranya manis sekali sampai hampir terdengar berbahaya.
“Tidak apa-apa, Tuan Muda. Namanya juga … kecelakaan.”
Kharel menatapnya beberapa detik.
Oh.
Yang ini bukan tipe bodoh. Dia bisa marah. Sangat marah, bahkan. Tapi, dia tahu cara menahan. Jadi Kharel memutuskan melangkah lebih jauh.
Kalau benar mata-mata, dia harus tahu batas reaksi perempuan itu saat diberi situasi yang membuatnya tidak nyaman. Mata-mata yang baik akan tetap tenang. Mata-mata yang buruk akan salah langkah. Mata-mata yang cerdas akan pura-pura panik, lalu mencari celah untuk mengendalikan keadaan.
Kharel berdiri. Ia bisa merasakan tubuh Stella langsung menegang bahkan sebelum perempuan itu menoleh.
Bagus.
Reaksinya jujur.
Perempuan itu masih baru di sini. Mungkin masih belum paham bahwa seluruh rumah ini penuh topeng, dan Kharel adalah topeng terbesar di antaranya.
Ia bergerak seolah hendak buang air kecil, sengaja membuat Stella salah tingkah.
“T-Tuan Muda?!” Nada panik itu keluar begitu alami sampai Kharel harus menahan dirinya sendiri agar tidak tertawa. Perempuan itu langsung membalikkan badan, walaupun sempat shock saat melihat belalainya. Sibuk pura-pura merapikan rak yang sebenarnya sudah rapi.
Botol sabun digeser, lalu digeser lagi. Shampoo diputar. Tangan perempuan itu gemetar tipis.
Kharel memperhatikan semuanya dalam diam. Kalau dia sedang bermain peran, maka dia aktris yang sangat bagus. Tapi, intuisi Kharel jarang salah. Dan intuisinya sekarang mengatakan satu hal.
Perempuan ini memang menyembunyikan sesuatu, tapi bukan karena dia sedang berakting untuk menjebaknya.
Setidaknya … belum.
Ia mengulurkan tangan meminta handuk hanya untuk melihat apakah perempuan itu akan menoleh. Apakah matanya akan berusaha mencuri pandang, apakah dia cukup berani memanfaatkan situasi memalukan ini untuk bermain licik.
Tidak.
Dia tetap membelakangi. Tangannya kaku seperti robot. Saat ujung jari mereka bersentuhan, perempuan itu malah menarik diri seperti kena listrik.
Lucu.
Terlalu alami untuk ukuran perempuan yang dikirim sebagai alat pengawas.
“Kakak kenapa?”
Jawabannya membuat Kharel hampir kelepasan tertawa. Almost.
Saya sedang berusaha mempertahankan profesionalisme katanya?
Kharel mengamatinya lebih lama. Perempuan ini lelah. Sangat lelah, tapi dia belum pecah. Matanya menyimpan sesuatu yang gelap. Bukan kelicikan, melainkan luka yang belum sempat dibalut. Sama seperti dirinya sendiri.
Yang jelas, kalau Stella adalah mata-mata kiriman ibu tirinya, maka ibu tirinya sedang mengambil risiko yang aneh dengan memilih orang sekikuk dan sejujur ini. Tapi … resiko yang semakin besar juga diimbangi oleh hasil yang lebih menguntungkan, kan?
Semakin lama Kharel memperhatikan, semakin dia menyadari kalau sudah lama sekali dia tidak melihat orang bereaksi sejujur ini padanya. Semua orang di rumah ini berhati-hati. Semua orang menjaga nada bicara. Semua orang menyembunyikan tujuan. Semua orang ingin sesuatu.
Perempuan ini juga pasti ingin sesuatu. Uang, jelas. Kesempatan bertahan hidup. Biaya rumah sakit. Mungkin tempat aman sementara?
Tapi saat ini, di kamar mandi ini, reaksinya tidak terasa seperti orang yang sedang menjalankan misi dari orang lain. Lebih seperti perempuan sial yang dilempar hidup-hidup ke tempat paling absurd di saat paling buruk.
Tetap saja, Kharel belum bisa percaya.
Belum.
Kepercayaan adalah kemewahan yang hampir membunuhnya setahun lalu. Jadi ketika Stella menyuruhnya memberi aba-aba lebih jelas lain kali, Kharel mengangguk patuh. Seperti biasa. Tapi di balik wajah datarnya, pikirannya mencatat lebih banyak.
Stella tidak menyanjung, tidak coba mengendalikan, tidak memanfaatkan momen.
Aneh.
Sangat aneh.
Dan justru karena itu, Kharel mulai ingin tahu lebih jauh. Apakah Stella Atmadja benar cuma perempuan putus asa yang butuh uang? Atau dia hanya mata-mata terbaik yang pernah dikirim ibu tirinya?
Lalu tiba-tiba, perempuan itu tertawa kecil. Sangat ringan, tapi suara itu membuat Kharel diam. Sudah lama di rumah ini dia tidak mendengar bunyi seperti itu. Bukan tawa sopan para tamu. Bukan cekikikan palsu staf yang menjilat. Bukan tawa puas ibu tirinya saat merasa menang. Bukan pula tawa menghina yang selalu dilontarkan padanya selama setahun ini.
Ini tawa yang lolos tanpa izin. Tawa capek seorang manusia. Dan entah kenapa, hati Kharel yang selama ini membeku mendadak sedikit berdesir aneh.
Tidak nyaman.
Tapi juga … tidak buruk.