Entah bagaimana bisa begini ceritanya.
Di hadapan Stella sekarang, sedang duduk seorang pria berumur sekitar dua puluh tahun yang hanya mengenakan bokser hitam. Bahunya lebar bidang. Dadanya bidang. Otot-otot di lengan dan perutnya terbentuk rapi seperti hasil pahatan yang terlalu niat.
Wajahnya? Keterlaluan tampan. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, bulu matanya lentik, dan mata tajam itu … sayangnya justru menatap Stella dengan ekspresi datar yang bikin suasana makin canggung.
Sangat aneh. Sangat, sangat aneh.
Stella berdiri kaku sambil memegang handuk kecil.
Pria itu menatapnya tanpa berkedip. Lalu dengan suara bariton rendah yang justru terlalu merdu didengar, dia berkata, “Kakak nggak mulai mandiin Kharel? Dingin ….”
Stella meneguk ludahnya sendiri. Dia memandangi pria itu lagi, lalu ke handuk di tangannya, lalu balik lagi ke pria itu.
Sebenarnya … bagaimana ceritanya hidupnya bisa jungkir balik sampai ada di titik ini?
Padahal kemarin sore, setelah diusir Sinta dari kediaman Atmadja, Stella nyaris benar-benar putus asa. Dengan koper, dua tas, dan harga diri yang tinggal serpihan, dia duduk di halte pinggir jalan sambil memandangi layar ponselnya yang nyaris lowbat. Di tengah kepala yang rasanya mau pecah, dia menghubungi satu orang.
Amy, teman baiknya. Satu-satunya manusia waras yang masih ada di hidupnya.
Begitu telepon tersambung, suara Amy langsung meledak dari seberang. “STELLA? Ya ampun, lo di mana?”
Stella menutup matanya sebentar. “Am … gue butuh kerjaan. Cepat. Yang bisa dapet uang gede dalam waktu singkat. Apapun.”
Hening dua detik di seberang telepon, lalu suara Amy terdengar jauh lebih pelan.
“Hah? Lo kenapa? Segitu putus asanya?”
Stella membalas hambar. “Mama gue di rumah sakit. Gue cuma punya tiga hari buat lunasin.”
Amy langsung menghela napas panjang.
“Waduh …,” gumamnya, “selain jadi LC, simpenan Om-om gembira, atau jual ginjal, gue nggak kepikiran kerjaan lain yang bisa dapet uang secepat itu dalam waktu tiga hari.”
Stella diam. Kata-kata itu harusnya terdengar bercanda. Tapi karena kondisinya sekarang, semuanya terdengar seperti ancaman.
Dia menunduk. “Ya udah … makasih, Am.”
“Eh, eh, eh! Tunggu!” suara Amy tiba-tiba meninggi. “Ada! Ada sih!”
Stella langsung menegakkan kepala. “Apa?”
“Tapi ….” Amy mendadak ragu.
“Apapun itu, gue lakuin, Am. I’m serious.”
Amy menarik napas. “Jadi pelayan pribadi Tuan Muda Wiratama.”
Stella langsung mengernyit. “Hah?”
“Pelayan pribadi,” ulang Amy.
“Pelayan pribadi model apa?” Stella menyipit curiga. “Kok gajinya gede banget? Jangan-jangan ….”
Pikiran Stella sudah travelling kemana-mana. Mulai dari Fifty Shades sampai Bridgerton.
“Yaaa ….” Amy berdehem. “Masalahnya memang ini bukan tuan muda biasa.”
Stella menunggu.
“Amy,” katanya datar, “jangan bikin jantung gue tambah rusak, please. Maksud lo apa? To the point.”
Amy menurunkan suaranya. “Kata orang-orang dalam sih … tuan mudanya id iot.”
Stella membeku. “Hah …?”
“Bukan id iot yang gimana-gimana!” Amy langsung buru-buru meralat. “Maksudnya … ya ampun, susah jelasinnya. Dia tuh beneran id iot. Pokoknya ribet!”
Stella memijat pelipisnya. “Am, hidup gue udah cukup ribet.”
“Dengerin dulu!” potong Amy. “Tapi gajinya gila. Per minggu aja bisa beli Iphone 17 Pro Max! Dan kalau Nyonya Wiratama seneng sama cara kerja lo, bonusnya makin gede.”
Stella terdiam mendengar benefit yang disebutkan Amy. Biaya rumah sakit. Tiga kata itu langsung menampar akal sehatnya.
Amy melanjutkan, “Kerjanya cuma nemenin, mantau, bantuin rutinitas harian, pastiin dia makan, minum obat, dan ngawasin dia nggak bikin chaos. Intinya personal attendant. Laporan langsung ke Nyonya Wiratama. Bukan kerjaan yang aneh-aneh.”
“Kalau begitu banyak dong harusnya yang ngelamar?”
“Well … banyak yang resign.”
“Kenapa banyak yang resign?”
Hening sesaat, Amy menghembuskan napas.
“Katanya … nggak kuat.”
Stella menutup mata. Tentu saja. Tentu saja hidup ini tidak akan memberinya jalan mudah.
“Tapi,” kata Amy cepat, “gue punya kenalan orang dalam di Wiratama Group. Kalau lo mau, gue bisa masukin nama lo malam ini juga.”
Stella memandangi lalu lintas di depannya. Lampu mobil berkelebat. Kepalanya berdengung. Perutnya kosong dan hatinya … lebih kosong lagi.
Lalu dia berkata pelan, “Masukinlah.”
Dan begitulah.
Dua belas jam kemudian, Stella berdiri di salah satu kamar mandi paling mewah yang pernah ia lihat seumur hidupnya, di dalam mansion keluarga Wiratama, sambil memegang handuk kecil dan seorang pria dewasa yang nyaris telanjang di depannya.
“Kalau Kakak nggak mulai,” suara bariton itu terdengar lagi, “airnya keburu dingin.”
Stella tersentak dari lamunannya. “Eh, iya, Tuan Muda.”
Pria itu masih duduk di kursi khusus dekat bathtub marmer hitam. Rambutnya sedikit basah di ujung, tapi juntaian itu terlihat seksi. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Stella mendekat selangkah. Lalu selangkah lagi.
Ya Tuhan.
Dari dekat, pria ini lebih gawat. Kulitnya bersih. Tulang selangkanya tegas. Lehernya … Stella langsung memalingkan muka.
Fokus, Stella!
Dia memeras handuk kecil itu ke dalam air hangat, lalu mulai mengusap lengan pria itu pelan. Dan pria itu benar-benar diam.
Sepuluh detik kemudian, pria itu menatapnya dan berkata, “Kakak marah?”
Stella mengerjap. “Hah? Maksud Tuan Muda?”
“Kakak ngusapnya kayak lagi nyuci motor.”
Stella membeku. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Stella hampir … tertawa.
Dia menahan diri mati-matian. “Maaf.”
“Gapapa.”
Stella baru saja mau lanjut mengusap lengan Kharel saat tiba-tiba tangan pria itu bergerak tanpa sengaja menepis pergelangan tangannya. Handuk kecil itu langsung lepas jatuh ke lantai.
Stella refleks menunduk untuk mengambilnya. “Eh, sebentar.”
Namun detik berikutnya …
BYURR!!
Baskom di dekat kaki Kharel mendadak terlempar. Air tumpah seketika, membasahi celana panjang, dan sebagian blouse Stella.
Stella langsung membeku. Tubuhnya terasa basah dan dingin. Ia menatap pakaiannya sendiri yang sekarang menempel tidak nyaman di tubuh, lalu perlahan mengangkat wajah ke arah sumber bencana.
Kharel masih duduk di sana. Ekspresinya tetap datar, tetap polos.
“Maaf, Kakak …,” katanya dengan suara bariton rendah itu, “kaki Kharel nggak sengaja kena baskom.”
Stella menatapnya. Awalnya dia mau percaya. Sampai dia sadar satu hal … ini sudah kejadian kecil aneh yang ketiga dalam beberapa menit terakhir.
Handuk jatuh. Baskom tumpah. Dan entah kenapa, Kharel selalu bikin kerjaannya jadi dua kali lebih susah.
Jangan emosi, Stella …
Sabar … sabar …
Ingat gaji.
Ingat bonus.
Ingat biaya rumah sakit Mama.
Stella menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sebenarnya lebih mirip ancaman halus.
“Tidak apa-apa, Tuan Muda,” ucapnya manis sekali, “Namanya juga … kecelakaan.”
Kharel menatapnya beberapa detik. Seolah sedang memproses nada suaranya. Sampai akhirnya, ia mengangguk kecil. “Kakak baik deh.”
Kalau bukan karena uang, aku udah lempar gayung ke kepala kamu, batin Stella.
Dia melangkah mengambil handuk lain dari rak dekat bathtub.
Namun baru saja dia berdiri tegak kembali, Kharel ikut berdiri. Mendadak, pria itu menurunkan boksernya.
PLUK!
Bokser itu meluncur cepat ke lantai kamar mandi.
“T-TUAN MUDA?!”