Tanpa menunggu reaksi mereka lagi, Stella berbalik. Tas-tas yang berhasil ia rebut kembali langsung ia bawa ke kamarnya sendiri. Pintu ditutup keras. Napasnya masih naik turun seperti baru selesai berlari marathon.
Yang melelahkan sejujurnya bukanlah tubuhnya. Melainkan, hidupnya.
Beberapa saat kemudian, kamar itu sudah jauh lebih rapi. Stella memunguti satu per satu barang yang tadi diacak-acak Lisa, melipat baju yang tercampak ke lantai, merapikan isi laci, menata kembali kotak perhiasan yang nyaris kosong. Sampai akhirnya, setelah semuanya kembali pada tempatnya, Stella duduk di kursi depan meja rias. Bahunya terasa berat. Lengan dan jarinya pegal. Ada bekas goresan-goresan merah di kulitnya yang baru terasa perih.
Saat ia menghela napas, tatapannya jatuh pada sebuah bingkai foto. Perlahan, ia meraihnya. Foto itu adalah foto bertiga. Dia, ibunya … dan ayahnya. Di hari wisudanya, senyum mereka dulu terlihat begitu utuh.
Stella menatap wajah ayahnya lama. Matanya tidak berkaca-kaca lagi walaupun dadanya masih terasa sesak. Mungkin air matanya sudah habis untuk hari ini. Dengan gerakan pelan, ia membuka bingkai itu. Mengeluarkan foto tersebut. Jemarinya berhenti tepat di sisi tubuh ayahnya.
SREKKK!
Foto itu robek. Tepat di sisi ayahnya, menyisakan hanya dirinya dan ibunya.
Stella menatap hasil robekan itu beberapa detik. Lalu meletakkan potongan bergambar ayahnya di atas meja, terpisah. Seolah-olah sejak sekarang, pria itu benar-benar sudah ia keluarkan dari hidupnya.
“Kalau Papa memang semudah itu ninggalin kami …,” bisiknya pelan, “ya udah.”
Namun, Stella bahkan belum sempat menarik napas panjang.
BRAK!
Pintu kamarnya dibuka kasar sampai membentur dinding.
Stella langsung mengangkat kepala. Dan di ambang pintu, berdiri tiga orang. Sinta, ibu tirinya. Lisa dan Cindy, kedua adik tirinya.
Sinta melangkah masuk paling depan dengan wajah penuh murka. Wanita itu masih terlihat rapi dan mewah seperti biasa, tapi matanya sekarang seperti hendak membakar apa saja yang ada di depan.
Di sisi kirinya, Lisa masuk sambil memegangi pipi yang sedang dikompres kantung es. Wajahnya sudah babak belur. Satu sisi pipinya merah membengkak. Matanya sembap penuh air mata dan kebencian.
Sementara Cindy, adik tirinya yang satu lagi, berdiri dengan tangan bersedekap, sorot matanya tajam dan sinis seperti biasa.
Suasana kamar Stella langsung berubah menjadi panas dan mencekik. Sinta menatap keadaan kamar itu sekilas, lalu pandangannya jatuh ke Stella yang masih duduk di kursi.
“Kurang ajar kamu, Stella!” bentaknya tanpa basa-basi, “berani-beraninya kamu mukul adikmu sendiri sampai begini?!”
Stella diam, tatapannya berpindah ke Lisa. Pandangannya kosong.
Itu justru membuat Sinta makin marah. “Kamu denger saya bicara atau nggak?!” teriaknya lagi sambil melangkah mendekat.
Lisa langsung menimpali dengan suara bergetar penuh drama. “Mama, dia udah gila! Dia tiba-tiba masuk, mukul terus jambak aku kayak orang kesurupan!”
Cindy mendecakkan lidah. “Emang dari dulu dia mentalnya nggak beres. Sok paling menderita.”
Stella tertawa kecil melihat tingkah para badut-badut di depannya, membuat tiga wanita itu sama-sama berhenti. Karena tawa itu … jelas tidak normal.
Stella berdiri perlahan dari kursinya, masih sambil memegang foto yang tersisa.
“Adik?” ulang Stella pelan sambil menatap Lisa, “dia adik aku?”
Sinta menyipit. “Jangan ngeles. Kamu yang salah di sini.”
Stella menatap Sinta lurus. “Dia tidur sama pacar aku.”
Sinta mendengus dingin, seakan hal itu tidak ada artinya sama sekali. “Kalau pacar kamu gampang pindah ke perempuan lain, itu berarti kamu yang nggak becus jagain.”
Kalimat itu jatuh seperti racun. Cindy bahkan menyeringai tipis. Lisa menunduk pura-pura lemah.
“Oh …,” gumam Stella pelan.
Ia meletakkan potongan foto di atas meja.
“Jadi begitu cara kalian mikir?”
Sinta melangkah makin dekat. “Saya nggak peduli cara kamu mikir. Yang saya peduli, kamu barusan mempermalukan Lisa dan bikin keributan di rumah saya!”
“Rumah anda?” Stella mengulang sambil tersenyum sinis. “Beberapa jam lalu saya dengar notaris bilang nama saya dan Mama saya nggak ada di warisan. Ternyata … rumah yang saya tempati lebih lama dari kalian cepat juga ya berubah pemilik.”
Wajah Sinta menegang.
Cindy langsung ketus. “Memang bukan hak kamu. Papa lebih sayang sama kami.”
PLAK. Suara itu bukan tamparan. Tapi suara sesuatu yang diletakkan Stella di meja. Ponselnya dengan layar menyala menampilkan foto Nick dan Lisa tadi. Dalam keadaan yang sangat jelas vulgarnya.
Napas Lisa langsung tersangkut. “Mama …!”
Sinta menatap layar itu. Matanya melebar kaget.
Stella menyandarkan pinggul ke meja. “Sekarang kita main yang jujur aja, yuk.”
Lisa mulai panik. “Stella, hapus itu!”
Stella mengabaikannya. “Tadi saya masuk kamar saya. Berantakan. Barang-barang saya diacak-acak. Terus saya cari pelakunya.” Senyumnya dingin. “Eh, malah dapat bonus.”
“LO—” Lisa maju satu langkah, tapi langsung berhenti saat Stella mengangkat ponselnya sedikit lebih tinggi.
“Jangan macem-macem, Lis. Hari ini gue lagi capek banget. Jadi jangan bikin gue nambah dosa.”
Sinta menahan lengan Lisa. Tatapan wanita paruh baya itu kini tak lagi sekadar marah yang justru lebih berbahaya daripada teriakan Lisa. Ia menahan lengan putrinya sedikit lebih kuat, lalu menatap Stella tepat di matanya.
“Karena ayahmu sudah meninggal,” ucapnya pelan, jelas, dan menusuk, “mulai sekarang kamu sudah tidak punya hak tinggal di rumah ini lagi.”
Stella tidak bergerak. Namun, jemarinya di sisi tubuh perlahan mengepal.
Sinta melanjutkan dengan tenang. “Semua atas nama rumah ini dan properti ayahmu sudah berpindah ke saya. Jadi jangan terlalu nyaman berdiri di sini seolah kamu masih penghuninya.”
Cindy langsung tersenyum puas. Lisa, yang tadi panik, kini ikut menegakkan bahu sedikit. Mendadak merasa punya sandaran lagi.
Stella belum bicara, matanya hanya terpaku pada Sinta. Lalu pelan-pelan, suaranya keluar.
“Kartu kredit saya … Anda yang blokir?”
Pertanyaan itu membuat sudut bibir Sinta terangkat.
“Iya,” jawabnya ringan. “Kenapa? Itu atas nama ayahmu. Dan dia sudah meninggal.”
Ruangan itu terasa mendadak lebih pengap. Stella menatap wanita itu tanpa berkedip.
Dan Sinta, seolah menikmati tiap detik perubahan di wajah gadis itu, melangkah satu langkah lebih dekat.
“Supaya sekalian ibumu mati nyusul ayahmu.”
Kalimat itu jatuh dengan tenang. Justru karena itulah … rasanya lebih kejam.
Dada Stella langsung bergemuruh. Sesak, sakit, amarah … semua campur aduk jadi satu! Amarah yang begitu besar sampai untuk sesaat pandangannya buram dan jemarinya dingin menggigil. Rahangnya mengeras sampai nyeri.
Kalau Lisa yang bicara seperti itu, mungkin sekarang wajahnya sudah menempel di lantai lagi. Tapi ini Sinta dan di situlah masalahnya.
Wanita ini tidak bodoh. Permainannya bukan teriak, jambak, atau tampar. Permainannya manipulatif. Kalau Stella menyentuhnya sekarang, kalau dia terpancing, yang rugi justru dirinya sendiri.
Kalau sampai Sinta benar-benar melapor ke polisi, bagaimana dengan ibunya di rumah sakit? Bagaimana kalau dia ditahan? Bagaimana kalau tiga hari itu habis sia-sia? Bagaimana kalau ibunya benar-benar …. Stella memaksa pikirannya berhenti di sana.
Tidak.
Dia tidak boleh hancur sekarang. Tidak boleh memberi mereka kepuasan itu.
Sinta memiringkan kepala sedikit. “Dan satu lagi … kalau kamu berani mem-posting foto itu tanpa persetujuan, saya juga akan laporkan kamu ke pihak berwajib. Paham?”
Lisa langsung menyeringai kecil, kini bersembunyi di balik ancaman ibunya.
Cindy menambahkan dengan nada sinis. “Jadi jangan sok kuat, deh!”
Stella tertawa kecil. Tawa seseorang yang baru menyadari betapa kotornya permainan lawan di depannya.
“Hebat,” gumam Stella, “Satu keluarga paket komplit ya. Yang satu maling. Yang satu tukang bacot. Yang satu …,” matanya jatuh ke Sinta, “gu ndik manipulatif.”
“Jaga mulut lo!” bentak Cindy.
Namun Sinta hanya mengangkat tangan sedikit, menghentikan putrinya. Tatapannya tak lepas dari Stella.
“Saya beri kamu waktu dua jam,” ucapnya akhirnya, “dua jam untuk membereskan semua barangmu dan keluar dari sini.”
Lisa menahan napas, lalu senyum puas mulai merayap di wajahnya yang babak belur.
Stella berdiri diam. Tidak menjawab atau pun memohon. Karena untuk pertama kalinya hari ini … dia benar-benar tahu rasanya kalah. Bukan kalah debat atau tenaga. Tapi kalah posisi. Kalah kuasa. Kalah perlindungan. Dan itu jauh lebih menyesakkan rasanya.
Sinta berbalik lebih dulu. “Ayo.”
Lisa ikut bergerak, tapi sebelum keluar dia sempat berhenti di ambang pintu. Menoleh ke Stella dengan mata penuh dendam dan kemenangan mu ra han.
“Dasar sampah,” ejeknya.
Sinta menarik pintu, lalu sebelum benar-benar pergi, ia berkata tanpa menoleh. “Kalau setelah dua jam kamu masih ada di sini, satpam yang akan mengeluarkanmu.”
BRAK!