Dewi menuntun Lidya duduk di tepi ranjang yang berantakan. Tangannya tetap mengusap bahu putrinya, ritmenya pelan dan menenangkan, namun sorot matanya sudah berubah—tajam, penuh perhitungan. Ia tidak lagi hanya seorang ibu yang menghibur anaknya yang patah hati. Ia adalah perempuan yang terbiasa memenangkan permainan sosial, dan kini ia melihat papan catur itu terbentang jelas di hadapannya. “Kamu dengar Mama baik-baik,” ucap Dewi pelan, namun setiap katanya terasa mantap. “Di rumah itu, yang memegang kendali bukan Haris. Bukan juga perempuan murahan itu.” Ia tersenyum tipis, dingin. “Yang memegang kendali adalah orang tuanya. Dan kamu sudah berada di posisi yang sangat menguntungkan.” Lidya mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih basah, tetapi amarah di baliknya mulai mengeras, beru

