Lidya masih menatap Haris dengan ekspresi yang tak berubah—dingin dan sarat penilaian. Perlahan, pandangannya beralih ke arah Anita. Gadis itu menunduk dalam-dalam, sama sekali tak berani membalas tatapan tersebut. Jarinya mencengkeram selimut erat, seolah itu satu-satunya perlindungan yang ia miliki. “Apa yang kamu lihat, Lidya?” tanya Haris dingin, menyadari arah pandang wanita itu. Lidya kembali menatap Haris, sudut bibirnya terangkat sinis. “Jadi… dia seleramu?” ucapnya perlahan, menusuk. “Dia yang bisa membuatmu jatuh cinta? Lebih dari aku? Lebih dari pilihan orang tuamu?” Ia tertawa kecil tanpa humor. “Perempuan yang sepadan denganmu itu dia?” Tatapan Lidya kembali mengarah ke Anita. “Perempuan miskin seperti dia? Seorang pembantu?” “Cukup, Lidya!” bentak Haris dengan nada tak b

