“Maksud Tuan?” tanya Anita lirih. Haris menatapnya beberapa detik, seolah memastikan Anita benar-benar mendengarkan. “Kamu mungkin sudah paham maksud saya,” ucapnya pelan. Ia bangkit dari kursinya. Gerakannya cukup membuat jantung Anita berdegup lebih cepat. Senyum tipis terukir di bibir Haris. Senyum yang tampak berbeda dari biasanya Langkahnya mendekat, berhenti tepat di hadapan Anita. Tubuhnya sedikit membungkuk, cukup dekat hingga Anita bisa merasakan napasnya. Jemari Haris terangkat perlahan, menyentuh dagu Anita dengan hati-hati, seolah memberi kesempatan baginya untuk menolak. Mata Anita membulat. “Tu—Tuan…” suaranya bergetar. “Sst…” Haris mengusap dagunya lembut, gerakan yang sama sekali berbeda dari sikap dominan yang biasa ia tunjukkan. Tatapannya mengunci mata Anita. “Sa

