Bab 18; Bayangan Anita

973 Kata

Panggilan itu membuat langkah Bu Meri terhenti mendadak. Bahunya tersentak. Ia berbalik dengan wajah yang jelas belum pulih dari keterkejutannya. “T-tuan?” suaranya sedikit bergetar. “Ada yang bisa saya bantu?” Haris tidak langsung menjawab. Tatapannya turun, tertuju pada saku seragam Bu Meri, tempat ponsel itu baru saja diselipkan. Matanya menyipit tipis penuh curiga. “Apa yang Bu Meri lakukan barusan?” Bu Meri menelan ludah. Tangannya refleks menyentuh saku seragamnya sendiri, lalu buru-buru diturunkan. “Saya… saya cuma lewat, Tuan. Mau ke belakang, ambil cucian.” “Di depan kamar Anita?” Haris menatapnya lurus. “Saya melihat Bu Meri berhenti cukup lama di sana.” Bu Meri terdiam. Napasnya sedikit tersengal. Wajahnya pucat, jelas sedang berusaha menata kata-kata. “Saya hanya khaw

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN