“Ayah!” Anita tersentak. Sekelompok anak kecil berlarian keluar dari halaman. Wajah mereka cerah, beberapa masih mengenakan sandal jepit, sebagian rambutnya belum tersisir rapi. Mereka berlari tanpa ragu, langsung mengerubungi Haris. Belum sempat ia mencerna, suara lain menyusul. “Ayah, lihat gambar aku!” “Ayah datang pagi hari ini!” Anita membeku. Ayah? Pandangan Anita berpindah cepat dari satu anak ke anak lain, lalu kembali ke Haris. Jantungnya berdegup tidak karuan. Dalam kepalanya hanya ada satu pikiran yang berputar tanpa henti. Apa mereka… anak Haris? Mustahil. Tapi… Haris berjongkok, menepuk kepala anak yang memeluknya. “Iya, iya. Pelan-pelan.” Anita menelan ludah. Seorang pengurus panti mendekat sambil tersenyum hangat. Ia wanita paruh baya dengan raut wajah tenang

