Haris berdehem pelan. “Anita,” panggilnya rendah. Anita menoleh. “Iya, Tuan?” Haris memberi isyarat kecil dengan matanya ke arah kemejanya. Anita mengikuti arah pandang itu dan... Matanya melebar seketika. Wajahnya langsung memanas. “Oh—” Ia buru-buru merapikan kemejanya, mengancingkan kembali dengan tangan gemetar. Anita tersenyum kikuk, lalu menepuk pelan punggung Rafa, mencoba menenangkannya. Namun Rafa justru kembali menggerakkan tangannya ke arah kemeja Anita. Jari kecilnya meraih kancing, menariknya pelan sambil bergumam dengan mimik polos. “Mimik… cucu… mimik cucu…” Anita tertegun, belum sempat bereaksi. “Rafa, tidak,” tegur Bu Sari lembut tapi tegas. Ia segera mendekat dan mengambil Rafa dari pangkuan Anita. Anak itu sedikit merengek, masih berusaha meraih ke arah Anita.

