Elmira tersentak.
Tangannya terangkat, mendorong d**a Malik sekuat tenaga hingga pria itu mundur sedikit.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Malik.
“Dasar manusia dingin!” teriak Elmira, matanya berkaca. “Kau benar-benar tidak punya hati!”
Ia turun dari ranjang, melangkah cepat, dadanya naik turun menahan amarah dan air mata yang tak terbendung lagi.
Elmira berlari keluar kamar, membuka pintu vila, dan berlari ke arah pantai tanpa tahu harus ke mana. Ia ingin menjauh sejauh mungkin dari pria yang baru saja menghancurkan harga dirinya.
Ketika pintu tertutup dengan keras, keheningan menyelimuti kamar vila mewah itu.
Malik mendesah panjang, lalu mengacak rambutnya dengan geram. Napasnya berat, ia merasa kehilangan kendali.
“Apa yang sudah aku lakukan?” gumamnya frustasi.
Ia masih merasakan panas di pipinya akibat tamparan Elmira. Tapi bukan itu yang mengganggunya. Yang membuat dadanya terasa sesak adalah… ucapan gadis itu.
Kepalanya dipenuhi kilasan semalam.
Elmira dengan gaun sederhana berdiri di balkon, tertawa sendiri pada angin malam. Lalu tiba-tiba menangis saat membicarakan neneknya. Setelah itu menari kecil di bawah cahaya bulan sambil bersenandung lagu tak jelas, dengan langkah sempoyongan dan mata sayup. Ia terlihat seperti anak kecil yang terluka dan lelah… namun masih ingin terlihat kuat.
Dan di tengah kegilaan itu, Elmira sempat bertanya padanya dengan suara pelan dan linglung,
“Apa kau benar-benar tidak tahu apa itu cinta?”
Malik menghentikan langkahnya. d**a kirinya terasa aneh.
“Apa kau tidak pernah ingin mencintai seseorang… meski sekali saja?”
Suara Elmira malam itu kembali menggema di kepalanya, menyusup masuk seperti racun lambat.
Malik mengepalkan tangan. Ia telah mengunci dirinya dalam logika dan perhitungan sejak bertahun-tahun lalu. Baginya, cinta adalah konsep rapuh, pengalih fokus, dan tidak efisien. Ia membangun segalanya tanpa bantuan siapa pun. Ia tidak butuh pasangan, apalagi perasaan.
Tapi Elmira…
Satu pertanyaan sederhana dari mulut seorang gadis yang bahkan tak mengenalnya benar-benar, cukup untuk mengguncangnya.
Ada hal yang tidak ia mengerti, dan dengan cepat Malik keluar dari kamar menyusul Elmira.
***
Langit mulai berwarna oranye keemasan saat matahari perlahan turun ke balik cakrawala. Ombak menyapu pelan pasir pantai, meninggalkan jejak buih yang cepat menghilang. Elmira melangkah menyusuri garis air, sepatunya digenggam di tangan, sementara kaki telanjangnya menyentuh pasir yang mulai dingin.
Angin sore membelai wajahnya yang masih basah oleh sisa air mata. Tapi tatapannya lurus ke depan, pada lautan luas yang seolah tak berujung seperti pikirannya saat ini.
Langkah kaki lain terdengar di belakangnya.
Elmira tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang menyusulnya.
“Kenapa kau ke sini?” tanya Elmira dingin.
“Aku tidak mengerti.” suara Malik terdengar akhirnya.
Elmira menghentikan langkahnya. Tak menatap ke belakang, hanya menunggu.
Malik berdiri tak jauh darinya, menatap punggungnya yang diam di bawah cahaya senja.
“Kenapa kau menamparku?” tanyanya akhirnya. “Bukankah… kau yang melanggar kontrak lebih dulu?”
Elmira perlahan menoleh, alisnya terangkat, wajahnya tak percaya.
“Serius?” suaranya tajam tapi gemetar. “Kau datang ke sini, setelah semua yang kau lakukan, dan menanyakan itu?”
Malik tak menjawab.
Elmira menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandang ke laut. “Aku mabuk, Malik. Aku bahkan tak sadar sepenuhnya apa yang kulakukan malam itu. Tapi kau sadar sepenuhnya saat mendorongku ke ranjang dan menciumku begitu saja.”
“Kau bilang ingin ciuman pengantin,” jawab Malik pelan.
“Ya Tuhan...” Elmira memejamkan mata. “Itu bukan permintaan. Itu... itu cuma ucapan dari orang mabuk yang tidak tahu apa-apa.”
Ia menatap Malik dengan sorot terluka.
“Kalau kau memang tidak punya perasaan, bukankah seharusnya semua itu tidak berarti? Kenapa harus marah? Kenapa harus memperlakukanku seperti aku melakukan dosa besar?”
Mata mereka bertemu di tengah cahaya senja yang hampir padam. Ombak terus bergulir, mengisi keheningan yang panjang dan menggantung.
Malik tak menjawab. Perlahan sorot matanya berubah tak lagi sedingin batu.
Di antara mereka, sesuatu bergeser. Bukan permusuhan. Bukan juga cinta. Tapi mungkin… awal dari sebuah pemahaman yang belum sempat tumbuh.
****
"Aku tidak tahu caranya," ujar Malik akhirnya, pelan, nyaris seperti bisikan.
Elmira menatapnya. "Caranya apa?"
"Meminta maaf."
Elmira memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas. Kemudian ia menatap Malik lurus-lurus.
"Jangan minta maaf karena kau merasa bersalah. Minta maaf karena kau benar-benar ingin berubah."
Malik terdiam. Matanya menatap ke arah laut namun jelas pikirannya sedang tidak di sana.
"Aku terbiasa membuat orang menjauh. Itu lebih mudah," lanjutnya. "Saat seseorang terlalu dekat, aku… kehilangan kendali. Dan itu membuatku takut."
Elmira nyaris ingin tertawa. "Kau? Takut?"
"Ya." Malik menoleh, dan untuk pertama kalinya, sorot matanya bukan dingin. Tapi rapuh.
Elmira tak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangan kembali ke laut. Hening itu lagi-lagi hadir. Tapi kini, terasa berbeda.
"Besok pagi, ada jadwal naik helikopter keliling pulau," ucap Malik pelan. "Kau mau ikut?"
Elmira mengerutkan dahi. "Aku pikir kau benci tempat terbuka."
"Aku benci apa pun yang tak bisa kukendalikan," jawab Malik singkat. "Tapi kalau kau mau, aku akan ikut."
Ia melangkah pergi, meninggalkan Elmira dengan jantung yang berdebar tanpa sebab jelas.
****
Pagi datang dengan cahaya emas yang menerobos tirai. Elmira mengenakan jumpsuit putih sederhana dan menyematkan scarf kecil di leher, membiarkan rambutnya tergerai. Ketika ia turun ke ruang makan vila, Malik sudah menunggu, duduk dengan secangkir kopi dan tablet di tangan. Namun kali ini, ia menoleh saat Elmira masuk.
"Kau siap?"
Elmira mengangguk. "Kalau aku muntah di helikopter, itu salahmu."
Sudut bibir Malik terangkat. Cukup untuk membuat Elmira terdiam sesaat.
Mereka naik mobil golf menuju landasan kecil di sisi tebing. Sebuah helikopter privat sudah menunggu, baling-balingnya mulai berputar pelan. Malik membantu Elmira menaiki tangga logam kecil, tangannya menyentuh pinggang Elmira sekilas.
Di dalam, suara mesin memekakkan telinga. Elmira mengenakan headset, lalu duduk di samping jendela. Malik duduk di sebelahnya, menatap lurus ke depan.
Helikopter perlahan naik, tubuh Elmira terhuyung sedikit, tapi pemandangan yang terhampar di bawah membuatnya tak bisa berkedip.
"Holy… ini gila," gumamnya, terpaku pada air terjun tinggi yang menyembul di antara dinding tebing hijau. Hutan lebat terbentang, dan ombak menghantam karang dengan irama yang menghipnotis.
"Ini pertama kalinya aku lihat dunia dari atas," ucap Elmira lirih.
Malik melirik.
"Indah. Tapi juga… menakutkan."
Malik tak menjawab, tapi ia menyentuh tangan Elmira sebentar. Sebuah gerakan kecil, tapi cukup untuk membuat Elmira menoleh padanya.
"Jangan takut."
Kata-kata itu sederhana. Tapi Elmira tahu, bagi Malik, itu adalah bentuk kepedulian yang hampir langka.
****
Setelah penerbangan selesai, mereka mendarat di sebuah area tersembunyi yang ternyata merupakan bagian dari resor mewah milik perusahaan Malik. Sebuah pondok bambu kecil di pinggir laguna menjadi tempat makan siang mereka.
Makanan laut segar disajikan, tapi Elmira lebih sibuk mengamati sekitar daripada makan. Anak-anak lokal bermain bola di pantai. Seorang ibu muda menggendong bayi, menyuapinya dengan pisang lembek.
"Kau tahu," Elmira tiba-tiba bersuara, "kadang aku iri pada mereka. Hidupku penuh kerja keras, tapi aku tidak pernah benar-benar merasa bahagia. Sementara mereka."
Malik membuka botol air mineral, lalu menatap Elmira.
"Karena mereka tidak tumbuh dengan trauma kehilangan seperti kita."
Elmira tertegun. "Apa maksudmu?"
"Ayahku bunuh diri ketika aku berumur dua belas. Ibuku menikah lagi seminggu setelah pemakaman."
Elmira menutup mulutnya, syok.