Pintu kaca di belakangnya terbuka. Malik muncul dalam setelan linen santai, rambut sedikit berantakan namun tetap tampak seperti model iklan mahal.
“Kau siap?” tanyanya datar.
Elmira menoleh, mengangguk singkat. “Kau tidak bilang kita akan ke mana.”
Malik mengambil kunci mobil dari meja. “Ada acara makan siang di resort milik rekan bisnis. Kau akan ikut sebagai istriku.”
Elmira membeku sejenak. Kata “istriku” masih terasa asing di telinganya. Tapi ia tetap berjalan mengikuti Malik, memasuki mobil yang sudah menunggu di depan vila.
Restoran tepi pantai tempat acara itu berlangsung begitu mewah, dengan kursi-kursi berhiaskan taplak linen putih dan kelopak bunga tropis berserakan di atas meja. Para tamu mengenakan pakaian semi-formal, dengan sunglasses mahal dan suara tawa yang menggema ringan.
Elmira berjalan di sisi Malik. Ia bisa merasakan banyak mata memandang ke arah mereka, terutama ke arah pria di sebelahnya. Malik memang mencuri perhatian ke mana pun ia pergi. Dan kali ini, Elmira sadar betul bahwa perhatian itu tidak hanya datang dari satu arah.
“Malik!” seru sebuah suara ceria dari arah kanan. Seorang wanita tinggi dengan rambut pirang bergelombang dan gaun biru langit mendekat cepat. Wajahnya cantik, senyumnya lebar, dan cara jalannya percaya diri.
Elmira langsung tahu kalau wanita ini bukan orang biasa.
Malik tersenyum tipis. “Delphine.”
Mereka saling berpelukan sebentar, terlalu dekat, terlalu akrab. Elmira berdeham pelan, namun tak ada yang memperhatikan.
“Kapan terakhir kita bertemu? Paris? Atau Tokyo?” tanya Delphine, matanya berbinar.
“Tokyo,” jawab Malik, masih tenang.
Delphine lalu menoleh pada Elmira. “Dan ini...?”
“Istriku,” jawab Malik sebelum Elmira sempat membuka mulut.
Delphine menatap Elmira beberapa detik, senyumnya tidak berubah, tapi mata itu menilai, menelanjangi. “Oh! Jadi kamu gadis beruntung itu.”
Elmira mengulurkan tangan, berusaha sopan. “Elmira.”
Delphine menjabat tangan itu sejenak. “Kau cantik. Tapi berbeda sekali dari tipe Malik biasanya.”
Kalimat itu meluncur dengan halus namun penuh racun.
Elmira tersenyum, mencoba tidak terpancing. “Mungkin Malik juga sedang butuh perubahan.”
Delphine menatapnya lebih lama, lalu terkekeh pelan. “Menarik.”
Makan siang berlangsung penuh basa-basi. Elmira duduk di sebelah Malik, tapi sepanjang acara, Delphine terus berbicara pada pria itu, mengenang masa lalu, tertawa, menyinggung hal-hal yang jelas tak Elmira ketahui.
“Aku masih menyimpan lukisan itu, kau tahu,” kata Delphine sambil menyeruput anggur putihnya. “Yang kita beli di pameran seni di Paris. Kau bilang hanya aku yang bisa melihat maknanya.”
Elmira memaku pandangan. Ia menatap Delphine yang santai, namun penuh keyakinan saat menyentuh lengan Malik dengan ringan. Tubuh Elmira menegang tiba-tiba.
Malik menatap Delphine sejenak, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu, ekspresinya tidak sepenuhnya dingin. ada sesuatu yang berbeda. Matanya seolah melunak, alisnya sedikit terangkat, dan bibirnya menegang, seperti menahan senyum atau kata-kata yang ingin ia ucapkan.
Elmira memperhatikan dengan cermat, merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Ada kehangatan yang muncul di mata Malik, berbeda dari sikap biasanya yang acuh dan dingin. Tapi ia tidak tahu apa penyebabnya. Ia hanya bisa menelan ludah dan menahan diri, mencoba tetap terlihat tenang, meski hatinya berputar liar dengan rasa penasaran.
Setelah acara berakhir, mereka berjalan kembali ke mobil. Malik membuka pintu untuk Elmira.
“Aku tidak tahu kalau kau punya selera wanita seperti itu,” ucap Elmira tiba-tiba, saat mobil melaju pelan meninggalkan resort.
Malik menoleh cepat. “Apa maksudmu?”
Elmira mengangkat bahu. “Wanita seperti Delphine. Cantik. Kaya. Percaya diri. Punya sejarah bersamamu. Rasanya seperti menonton film asing tanpa terjemahan.”
“Kau cemburu?” suara Malik terdengar tenang, nyaris mengejek.
Elmira tertawa pendek. “Tidak lucu.”
“Aku tidak bercanda.”
“Aku hanya mengomentari. Bukan cemburu.”
Malik tidak menjawab. Tapi Elmira bisa merasakan atmosfer di dalam mobil berubah lebih pekat dan tajam.
“Kau tahu, Delphine dan aku sudah tidak ada apa-apa sejak lama,” ucap Malik akhirnya. “Kami dulu hanya… sempat dekat.”
“Hanya sempat dekat?” Elmira mendesis pelan. “Dia menyimpan lukisan yang kalian beli bersama. Sepertinya lebih dari sekadar dekat.”
“Kau ingin tahu semuanya?” tanya Malik mendadak.
Elmira terdiam.
"Tapi aku tidak bisa menceritakan masa laluku." Ucap Malik.
Elmira menelan ludah, menatap Malik sejenak. Ia menghela napas pelan,
“Tak apa, aku mengerti. Jika memang belum waktunya kau bercerita, aku tidak akan memaksa.”
Ia mencoba mengusir pikiran itu, tapi tak bisa. Sejak pertemuan di restoran hotel siang tadi, semuanya terasa ganjil. Malik yang biasanya cuek, mendadak terlihat gelisah. Tidak seperti dirinya yang dingin dan tak peduli. Bahkan saat memperkenalkan Elmira sebagai istrinya, dengan nada sarkastik yang membuat perut Elmira mual, tatapan Malik pada Delphine tak pernah benar-benar lepas.
Dan Delphine? Perempuan itu menyambut Elmira dengan senyum manis lalu menyebut dirinya teman lama Malik. Tapi Elmira tak buta. Tatapan yang Delphine berikan pada Malik tidak seperti tatapan teman. Itu tatapan yang penuh ingatan.
****
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyusup lewat tirai. Elmira bangun lebih awal dari biasanya. Entah karena hawa asing atau hati yang belum tenang. Saat keluar dari kamar, ia menemukan ruang tengah kosong. Tak ada tanda-tanda Malik.
Ia melangkah ke dapur kecil untuk membuat kopi, tapi suara tawa perempuan dari halaman membuat langkahnya berhenti.
Elmira menoleh ke arah suara. Tirai tipis tertiup angin, dan dari celah kaca, ia melihat Malik duduk di kursi rotan di teras samping. Dan di sebelahnya... Delphine?
Mereka duduk cukup dekat. Terlalu dekat untuk dua orang yang hanya pernah saling mengenal.
Elmira berdiri diam, membeku di tempatnya. Ia tak bisa mendengar jelas percakapan mereka, tapi bahasa tubuh mereka berkata lebih dari cukup. Malik bersandar santai, sesekali mengangguk, lalu tertawa kecil. Tawa yang... nyaman dan akrab.
Delphine menyentuh lengan Malik pelan saat ia tertawa, dan Malik tidak menghindar.