Malam itu Elmira hampir tidak bisa tidur. Kata-kata Malik terus terngiang di telinganya, dingin dan penuh keraguan. Ia tahu suaminya terluka. Foto itu jelas jebakan, namun efeknya begitu nyata: kepercayaan mereka terkoyak. Elmira memandang layar ponselnya lama, jari-jarinya bergetar sebelum akhirnya ia menekan satu nomor. Nomor yang hanya sekali ia pakai: Rangga. “Mir?” suara di seberang terdengar serak, seperti baru bangun tidur. “Aku butuh bukti itu sekarang,” suara Elmira lirih tapi tegas. “Kalau tidak, pernikahanku bisa hancur sebelum semua ini selesai.” Rangga terdiam sejenak. “Aku sudah duga. Surya mulai main di ranah pribadi. Dia tahu kalau kalian rapuh di titik itu.” “Berikan aku rekaman itu,” pinta Elmira lagi, kali ini lebih mendesak. “Aku nggak bisa kasih begitu saja. Loka

