Malam itu udara terasa dingin. Elmira duduk di kursi penumpang, jari-jarinya menggenggam erat tas kecil berisi flashdisk. Wajahnya tegang, matanya terus menatap keluar jendela. Malik yang menyetir pun tak kalah gelisah, tapi ia berusaha menenangkan. “Tenang, Mir. Mereka sahabat lamaku. Aku percaya mereka.” Elmira menoleh cepat. “Tapi bagaimana kalau Surya tahu kita bertemu mereka? Bagaimana kalau ada mata-mata?” Malik mengulurkan tangan, menggenggam jemari istrinya. “Kalau kita terus takut, kita nggak akan pernah menang.” Elmira terdiam. Kata-kata Malik sederhana, tapi terasa menusuk. Ia tahu suaminya benar. --- Mereka tiba di sebuah rumah tua di pinggir kota. Dari luar tampak tak terurus, tapi begitu masuk, suasananya berbeda. Di dalam sudah ada dua orang menunggu: Rendra, seorang p

