Elmira menyusuri lorong rumah sakit yang tenang. Sepatu hak tingginya beradu pelan dengan lantai marmer, suaranya nyaris tenggelam di tengah keheningan malam. Gaun merahnya masih membalut tubuh dengan sempurna, kontras dengan pencahayaan putih pucat di sepanjang lorong. Beberapa perawat yang masih berjaga menoleh sesaat, heran melihat perempuan seanggun itu muncul di tengah malam. Tapi Elmira hanya menunduk sedikit, menghindari sorot mata mereka. Malam ini ia bukan siapa-siapa. Ia hanya cucu dari seorang wanita tua yang kini sedang terbaring di ruang rawat biasa, jauh dari dunia gemerlap yang baru saja ia tinggalkan. Pintu kamar terbuka perlahan. Aroma khas rumah sakit langsung menyambutnya. Di ranjang yang dikelilingi tirai putih tipis, neneknya terlelap dengan napas tenang. Alat bantu

