Suasana ballroom semakin ramai, dipenuhi gelas-gelas anggur, tawa formal, dan deretan tamu penting yang datang dari berbagai penjuru industri. Malik bergerak dengan percaya diri, menyapa satu per satu tokoh yang sudah menantinya, sementara Elmira tetap berada di sisinya, seperti bayangan elegan yang tak pernah meleset dari langkahnya. “Tuan Malik! Akhirnya bisa bertemu langsung!” seru seorang pria paruh baya dengan jas abu-abu gelap. Ia tersenyum lebar sebelum matanya beralih ke Elmira. “Dan ini pasti istrimu yang selama ini hanya kami dengar dari kabar angin?” Elmira mengangguk sopan. “Senang bertemu dengan Anda, Tuan.” “Cantik sekali, sungguh cocok denganmu Malik. Kalian berdua terlihat seperti pasangan paling serasi di ruangan ini,” puji pria itu ramah. Elmira tersenyum, senyum yang

