Delphine berdiri di balik tirai tipis apartemennya yang luas, menghadap jendela kaca setinggi langit-langit yang kini dibasahi gerimis. Kota berkelip di kejauhan, tapi sorot matanya tak menangkap keindahan malam. Hanya kehampaan yang menyusup di balik pupilnya. Tangannya yang biasanya mantap menggenggam segelas wine kini sedikit bergetar. Bukan karena dingin, bukan pula karena takut. Tapi karena kemarahan yang tertahan. Ia tahu siapa Malik. Ia tahu sejak dulu pria itu bukan tipe yang mudah ditaklukkan. Tapi ia tak pernah menyangka bahwa ada satu nama, satu wajah yang bisa membuat pria itu kehilangan arah di hadapannya. Elmira. Delphine menggumamkan nama itu seperti racun, pelan dan beracun. Ia meletakkan gelas wine-nya di meja kaca tanpa suara, lalu berbalik. Sebuah laptop tipis sud

