Beberapa bulan setelah surat dari Marseille itu datang, desa Saint-Véran berubah pelan-pelan. Virion bukan lagi sekadar “orang asing dengan masa lalu kelam”, melainkan “lelaki yang membangun rumah kaca dan selalu datang kalau ada yang butuh tenaga.” Kaylana pun melihat sesuatu yang berbeda. Virion tak hanya tinggal—ia benar-benar bertumbuh, mengakar di tanah yang dulu asing baginya. Suatu sore, ketika matahari tenggelam di balik puncak gunung Alpen, Virion berlutut di kebun bunga Kaylana. Aurelia berdiri di sampingnya, memegang cincin kecil yang ia taruh di dalam kelopak mawar. “Kaylana,” suara Virion rendah tapi mantap, “aku tak bisa menjanjikan dunia yang sempurna. Aku hanya bisa menjanjikan bahwa setiap hari, aku akan berusaha jadi pria yang pantas untukmu… dan ayah yang pantas bagi
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


