Liana menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi vila yang temaram. Tubuhnya masih terasa nyeri setelah pertarungannya dengan Silvanno, dan emosi dalam dadanya belum juga reda. Kilas balik wajah Silvanno saat ia menyebut nama mendiang ayahnya—dengan penuh hormat dan pengabdian—masih berputar dalam kepalanya. "Kau dibesarkan dengan nama yang salah, Kaylana Varlente..." Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada pukulan mana pun. Silvanno bukan musuh biasa. Ia adalah bagian dari masa lalu yang selama ini Liana kubur dalam-dalam. Namun kenyataan bahwa pria itu bekerja untuk Virion sekarang, membuat kepalanya pening. Apakah Virion tahu siapa aku sebenarnya? Pikiran itu menghantuinya. Tapi ia segera menepisnya. Tidak, jika Virion tahu, dia pasti sudah bertindak. Dia pasti akan... b

