Virion melangkah pelan ke tengah ruangan, gerakannya tenang namun penuh arah. Ia menyalakan satu lampu di sudut langit-langit, menyisakan cahaya redup yang memancar ke sekeliling. Cahaya itu menciptakan bayangan panjang di lantai, dan dinding foto di sebelah kiri menjadi pusat perhatian. Liana tak bergerak dari tempatnya berdiri. Matanya terpaku pada jejeran bingkai—beberapa berisi lukisan, sebagian lainnya terselubung kain hitam beludru. Suasana dalam ruangan itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Bukan karena takut. Tapi karena ada sesuatu yang… hampir terlalu personal di sana. Seolah ia sedang dihadapkan pada sisi Virion yang selama ini tak boleh disentuh siapa pun. “Tempat ini…” bisik Liana, akhirnya membuka suara, “kenapa kau tunjukkan padaku?” Virion menatapnya dari samping,

