Suara debur ombak samar terdengar dari kejauhan, bercampur dengan desiran angin yang menyusup masuk dari celah jendela. Liana berdiri di tengah kamar mandi yang remang, air hangat yang jatuh dari pancuran membasahi tubuhnya perlahan. Tapi dingin yang merayap di kulitnya berasal dari tempat lain—dari kecemasan yang menumpuk dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Sudah beberapa hari sejak ia menemukan dokumen transaksi ilegal milik Virion. Tapi Liana belum punya kesempatan lagi untuk bergerak. Sejak kejadian dengan pelayan itu, Virion menjadi lebih waspada. Pengawalan semakin ketat, dan Liana tahu, satu langkah salah bisa berujung maut. Ia menunduk, menatap pantulan samar dirinya di genangan air di lantai marmer. Dalam dirinya, dua suara terus bersitegang: satu mengingatkannya pada

