Dengan napas tersengal, Liana akhirnya menarik wajahnya perlahan. Matanya bertemu dengan mata Virion yang masih membara. Pria itu menatapnya dengan intensitas yang membuat d**a Liana berdegup lebih cepat. “Apa kau sadar,” gumam Virion serak, “setiap kali aku mencoba menjauh, kau selalu menarikku kembali?” Liana tidak menjawab. Bibirnya masih basah, matanya masih menyimpan sisa dari gejolak tadi. Ia hanya menunduk sedikit, lalu menatap air di bawah mereka yang tenang, kontras dengan apa yang ia rasakan di dalam dirinya. Virion menyentuh pipinya dengan lembut. “Kau berubah, Liana.” Liana menatapnya, senyumnya samar. “Mungkin karena aku sedang memainkan peran terbaik dalam hidupku.” Virion mengangkat alis. “Atau mungkin… karena kau mulai jujur.” Liana membalas dengan lirih, “Kau tak aka

