Sopir membuka pintu. Virion turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan pada Liana. Gadis itu ragu sejenak sebelum menyambut uluran itu dan keluar dari mobil. Langkah mereka menggema saat memasuki lobi bangunan yang dingin. Dinding dalamnya dipenuhi marmer gelap, dan kamera keamanan tersembunyi tampak mengikuti setiap gerakan mereka. Tak ada siapa pun selain dua penjaga berbadan besar yang segera membungkuk hormat begitu melihat Virion. “Kita punya ruangan khusus di lantai atas,” ucap Virion sambil menekan tombol lift. “Kau bisa mandi, berganti pakaian, dan istirahat di sana. Aku hanya perlu menangani sedikit pekerjaan sebelum kita pulang.” Liana mengangguk, masih diam. Namun dalam benaknya, segalanya sudah bergerak cepat seperti pion di papan catur yang kini hampir mencapai barisan tera

