Langit sore mulai menggelap ketika desa kecil di lereng bukit itu menyala oleh ribuan lampion gantung berwarna jingga keemasan. Aroma manis dari kue-kue khas perayaan menguar, bercampur dengan wangi bunga kenanga yang digantung di setiap sudut gapura. Festival musim gugur di desa itu bukan sekadar tradisi tahunan—ia adalah momen semua orang berkumpul, berbagi sukacita, dan mengikat kembali silaturahmi yang mungkin terputus karena kesibukan harian. Dan tahun ini, untuk pertama kalinya, Virion Calderon berdiri di tengah keramaian itu—tanpa jubah, tanpa topeng, tanpa pelindung dari dunia lamanya. Kaylana menatapnya dari kejauhan, mengenakan gaun biru muda sederhana yang ia jahit sendiri dari kain pemberian ibu angkatnya. Rambutnya dikepang ke samping, dibiarkan jatuh longgar. Ia tampak sepe

