Saint-Véran selalu punya cara menilai orang baru. Tidak dengan curiga. Tapi dengan... diam. Warga akan mengamati. Membiarkan waktu menjadi penguji karakter. Dan jika seseorang tetap konsisten—dalam keramahan, kesabaran, dan ketulusan—barulah mereka akan mulai menyebut namanya tanpa nada bertanya. Virion tahu itu. Maka ia tidak memaksa. Ia datang ke toko roti Madame Claudine setiap pagi, membeli dua baguette hangat dan sebotol kecil selai plum. Ia ikut membantu Monsieur Denis menambal pagar di belakang kapel kecil, meski tangannya lebih terbiasa dengan senjata daripada palu. Dan ia selalu menyapa anak-anak yang melewati rumah kayu tempat ia tinggal—dengan lambaian pelan, dan sebutir permen peppermint dari saku jasnya. ** Di sekolah, Kaylana mencatat perubahan yang tak ia harapkan.

