Hujan turun diam-diam di Saint-Véran. Bukan hujan deras. Hanya gerimis yang terus menerus menyentuh atap dengan ritme lembut. Kaylana berdiri di dapur, menggenggam cangkir yang sudah dingin. Di luar, angin malam menyusup lewat celah jendela tua. Jam hampir menunjukkan tengah malam ketika pintu belakang diketuk pelan. Virion. Basah sebagian, rambutnya lepek, tapi sorot matanya tenang. Di tangannya, ada selimut kecil dan sebotol anggur setengah penuh. “Tidurmu ringan sekali malam-malam begini?” tanya Kaylana, tidak membuka pintu lebih lebar dari yang perlu. “Angin kencang. Aku pikir jendela rumah tamu mungkin terbuka. Atau... mungkin aku cuma ingin bicara.” Kaylana menatapnya lama, lalu akhirnya melangkah ke samping. “Masuklah.” ** Mereka duduk di ruang tengah, di lantai kayu, di an

