Suatu siang yang biasa di Saint-Véran. Langit bersih. Burung-burung rendah. Dan anak-anak sekolah berlarian di halaman belakang setelah jam pelajaran berakhir. Kaylana baru saja menutup pintu ruang kelas saat suara langkah berat dan tawa khas Virion terdengar dari arah taman belakang. Ia keluar, mendapati pria itu tengah membimbing dua anak lelaki menaikkan rak kayu ke atas troli kecil. “Berat, ya?” tanya Virion sambil menyemangati mereka. “Sangat, Om!” seru salah satu anak, wajahnya merah padam. Virion tersenyum, lalu ikut mengangkat sisi rak yang lain. “Kalau berat, itu artinya kalian sedang tumbuh kuat.” Dari kejauhan, Kaylana hanya menggeleng perlahan. Ia tidak menyuruhnya membantu. Tapi Virion ada di sana. Selalu. ** Di ruang guru yang sempit dan penuh aroma teh, Madame Corin

