"Bertarung. Satu lawan satu. Seperti dulu. Kalau kamu menang, kamu bebas. Tapi kalau kamu kalah... nama Calderon hilang dari sejarah." Kaylana menahan napas. "Kau bisa menolak." Tapi Virion tahu: ini harga dari kebebasan. "Kapan?" "Sekarang." ** Dua jam kemudian, Virion berdiri di tengah ring kosong yang dikelilingi lampu redup. Lawannya, pria muda dengan mata haus darah, berdiri di seberangnya. Kaylana menonton dari kejauhan. Jantungnya seolah berhenti tiap kali suara pukulan terdengar. Pertarungan berlangsung brutal. Tapi bukan soal kekuatan. Ini pertarungan kehendak. Dan ketika Virion jatuh, bangkit, lalu menangkis dengan gerakan lama yang tak pernah lupa, penonton di sekelilingnya mulai berdiri. Mengakui. Menghormati. Akhirnya, lawannya tersungkur. Dan tidak bangun lagi. Pri

