118. Debaran Cinta Yang Menggelora

2116 Kata

Malam tempat jiwa-jiwa berpulang telah usai. Hangatnya mentari menggantikan siraman cahaya perak yang semalaman mendominasi. Irene tampil anggun dengan gaun broken white model sabrina dengan panjang di atas mata kaki. Sang suami tercinta pun nampak gagah dengan tuxedo hitam yang membalut tubuh kekarnya. "Sudah siap Sayang?" Zayn berbisik di telinga istrinya. "Sudah." "Sebenarnya aku khawatir?" "Kau mengkhawatirkan soal apa Sayang? Bukankah pernikahan Paman Leo dan Bibi Sasa sudah diurus pihak wedding organizer?" "Bukan soal itu. Aku takut para tamu akan mengira jika kita mempelainya nanti," canda Zayn. "Kau ini, ada-ada saja. Memang mana ada mempelai dengan perut buncit begini," dengus Irene. "Tapi kenyataannya memang kita tampak seperti raja dan ratu, Sayang." "Terserah Tuan Muda

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN