96. Surat Berdarah

1914 Kata

Pagi yang dinantikan pun tiba. Semburat jingga menyembul di ufuk timur. Kabut tipis sedikit menghiasi pagi itu, udara juga terasa lebih dingin dari biasanya. Irene yang baru dapat memejamkan mata saat pagi menjelang pun masih enggan bangun dari kasurnya. Selimut tebal berbulu halus warna abu-abu dia naikkan untuk menghalau rasa dingin yang mulai menusuk kulitnya. "Sayang, sudah jam enam lebih, tumben belum bangun?" Dengan suara serak khas bangun tidurnya, Zayn menyapa sang istri. Usapan lembut terus dia berikan di wajah juga puncak kepala Irene. "Eumh. Biarkan aku tidur lebih lama lagi, semalaman aku tidak bisa tidur." "Ada yang sakit atau ..." "Aku hanya mengantuk jadi jangan ganggu aku. Tolong matikan pendingin udaranya Zayn, aku kedinginan," pinta Irene. "Baiklah." Zayn pun seger

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN