91. Apartemen Maxim

1717 Kata

Irene terus memutar otak, memikirkan bagaimana caranya dia bisa ke luar dari rumah itu tanpa menimbulkan kecurigaan. Situasinya masih belum kondusif dan dia tahu, akan ada serangan yang lebih besar lagi yang bisa saja menghancurkan keluarganya suatu saat nanti. "Sayang." Suara bariton yang terdengar lembut itu membuyarkan lamunan Irene. Kontan gadis itu menoleh. "Kenapa belum tidur? Apa ada masalah? Ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?" Berondong Zayn ketika keduanya telah sama-sama dekat. Irene menggeleng. "Kepalaku masih pusing, dibawa berbaring bukannya tidur malah semakin nyut-nyutan," adunya. "Panggil dokter saja ya biar diperiksa," bujuk Zayn. "Nggak usah! Palingan nanti juga sembuh sendiri." "Dasar bandel!" Zayn membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. "Zayn." "Hm."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN