101. Mimpi Irene

1504 Kata

Hera menatap jendela kantornya dengan tatapan kosong. Angannya terus berkeliaran. Bayangan kisah masa lalu yang membawanya pada titik ini terus menghantuinya. Dengan cepat Hera menyeka butiran bening yang meleleh membasahi wajahnya. Kejadian saat Vernon menolaknya menjadi menantu malam itu masih terekam jelas, seolah Hera baru saja mengalaminya. Pintu diketuk. "Permisi, Nyonya memanggil saya?" Tanya Richard. "Iya. Duduklah," ujar Hera tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela. "Tidak usah, saya berdiri di sini saja Nyonya." "Duduk!" Tegas Hera. Pasrah, Richard pun duduk di sofa. "Apa kamu punya keluarga?" Richard mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Hera. Pasalnya, selama ini Hera tidak pernah sedikitpun menyinggung mengenai kehidupan pribadinya. "Saya ... Saya sebat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN