Suara dari ujung telepon membuat Sherry sedikit lega. Bukan lega yang sebenarnya, lebih seperti napas yang tertahan lama akhirnya bisa keluar, meski dadanya masih terasa sesak. Dia baru saja menelepon Bu Agnes mencari tahu keadaan dua adiknya. David sudah cukup dewasa, pikirnya. Lima belas tahun. Bukan anak-anak lagi. Ia bisa menjaga Aleta, bisa memasak mi instan, bisa mengunci pintu kalau ayahnya pulang dalam keadaan mabuk. Tapi itu yang mengganggu pikirannya. Ayahnya. Sherry mengingat terakhir kali ia tidak ada di rumah. Itu dua tahun lalu, ketika ia harus menginap di rumah teman karena ada acara cafe. Waktu itu David masih tiga belas. Ayahnya pulang larut malam, mabuk, dan entah apa yang terjadi, Sherry hanya tahu ketika ia pulang keesokan harinya, David duduk di teras dengan mata me

