6. Itik Buruk Rupa

2371 Kata
Matahari belum sepenuhnya naik ketika Sherry membuka mata. Biasanya, pagi hari adalah saat paling berat, ketika tubuhnya masih lelah, ketika selimut tipis terasa begitu hangat, ia harus memaksa dirinya bangun untuk menghadapi hari yang sama seperti kemarin. Tapi pagi ini berbeda. Ia bangun dengan jantung berdebar. Bukan karena semangat. Tapi karena ketidakpastian yang menggantung di kepalanya seperti kabut tebal, tidak bisa ia usir, tidak bisa ia lihat jelas. Sherry mengusap wajahnya, berdiri, dan melangkah ke dapur. Di dalam tas yang tersimpan rapat di bawah ranjang, amplop coklat itu masih utuh. Ia sudah menghitung isinya tiga kali semalam. Cukup untuk tiga bulan kebutuhan, jika ia hemat. Cukup untuk sepatu baru Aleta yang sepatunya sudah kekecilan. Cukup untuk membayar sisa utang pengobatan ibunya. Tapi ia belum melakukan apa pun untuk mendapatkannya. Dan itu yang membuat perutnya mual setiap kali mengingatnya. Pagi ini dia membuat sarapan yang cukup enak untuk kedua adiknya. Kemarin sore setelah pulang dari cafe, dia mampir ke swalayan membeli beberapa bahan makanan. Dia cukup senang melihat kedua adiknya menikmati sarapan dengan lahap. Setelah mereka makan, Sherry mengeluarkan lembaran uang dari saku celananya. Uang saku, biasanya hanya cukup untuk jajan kecil di sekolah. Pagi ini, ia memberi lebih. David menerima uang itu, menghitungnya, lalu menatap Sherry. Matanya menyipit. "Kenapa banyak sekali, Kak?" Sherry merasakan tenggorokannya mengering. Ia menelan ludah. Apakah ia harus menjelaskan? Apakah ia harus mengatakan bahwa ia mendapat uang dari Nyonya Mueller untuk pekerjaan yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa? Bahwa amplop itu ada di bawah ranjangnya, tebal, berat, tapi entah kenapa terasa seperti bara yang membakar? Ia tidak bisa. "Aku punya pekerjaan baru." Suaranya keluar pelan. "Aku tidak yakin apakah akan pulang tepat waktu atau tidak. Jadi aku akan minta Bu Agnes untuk menjaga kalian malam ini." David mengerjap. "Pekerjaan baru? Pekerjaan apa?" Sherry merasakan jari-jarinya dingin. "Itu ..." Ia menghela napas, memotong pertanyaan yang belum sempat ia jawab. "Jangan banyak bertanya. Nanti kalian terlambat sekolah. Pokoknya nanti aku akan minta Bu Agnes untuk menjaga kalian di rumah." Ia berdiri, mendorong pelan bahu David, menggandeng tangan Aleta, membawa mereka ke pintu depan. Di teras, David dan Aleta berbalik. Aleta melambai kecil. "Dah, Kak!" David tidak melambai. Ia menatap Sherry sebentar, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya hanya berbalik, menggandeng tangan Aleta, dan berjalan menyusuri jalan kompleks. Sherry berdiri di teras sampai mereka menghilang di tikungan. Ia hanya berdiri di sana, merasakan detak jantungnya yang terlalu cepat. Dia masuk kembali ke dalam rumah. Di sofa tua ruang tamu masih kosong, ayahnya tidak pulang, dan dia tidak mau bertanya atau mencarinya. Sherry juga tidak mau peduli. Ia membersihkan meja makan, mencuci piring, mengelap kompor. Gerakannya otomatis, seperti mesin. Tapi pikirannya melayang ke amplop di bawah ranjang, ke senyum Nyonya Mueller, ke kata-kata "kamu bisa datang terlambat" dan "aku akan mengajakmu keluar". Dia membereskan rumah dan menyiapkan beberapa makanan siap saji untuk makan siang dan malam, kalau-kalau saja dia benar-benar tidak pulang. Ia berdiri lama di dapur, memandangi ruangan yang sudah bersih itu. Rasa penasaran tentang pekerjaan yang menunggunya menggerogoti dadanya seperti ulat. Ia sudah tidak bisa membedakan antara degup jantung dan getaran ketakutan. Keduanya menyatu, menjadi satu suara berisik yang terus berteriak di kepalanya. Pekerjaan apa? Pekerjaan apa? Ia menggenggam celemeknya, mengusap keringat di telapak tangan, lalu menarik napas panjang. Tidak ada gunanya berpikir. Nanti ia akan tahu. Sebelum berangkat, ia singgah ke rumah di sebelah, rumah kecil dengan cat biru yang sudah pudar. Bu Agnes membukakan pintu, rambutnya sudah hampir memutih, tapi matanya masih tajam dan hangat. "Apa kamu tidak akan pulang malam ini, Sherry?" Bu Agnes mengernyit, menatap Sherry dari ujung rambut ke ujung sepatu. Sherry menggeliat di tempatnya. "Aku tidak begitu yakin, Bu." Ia menggenggam tali tasnya lebih erat. "Itu sebabnya aku ingin Ibu menemani David dan Aleta. Kalau aku benar-benar tidak pulang, tolong pastikan mereka makan. Dan—" Ia menyodorkan beberapa lembar uang, "ini untuk Ibu." Bu Agnes menatap uang itu, lalu menatap Sherry. Ia tidak segera mengambilnya. "Sherry, kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat." "Aku baik-baik saja, Bu." Sherry memaksakan senyum. "Hanya sedikit gugup. Pekerjaan baru." "Pekerjaan baru?" Bu Agnes mengulang, tapi tidak bertanya lebih jauh. Ia akhirnya mengambil uang itu, memasukkan ke saku bajunya. "Tidak apa-apa, Sherry, kita sudah lama bertetangga, jangan sungkan. Aku juga sangat menyukai adik-adikmu. Mereka anak-anak yang baik. Kamu dan ibumu berhasil mendidik Mereka." Sherry tersenyum tipis. Diingatkan tentang ibunya sedikit membuat hatinya melow. "Terima kasih, Bu. Aku pamit." Ia berbalik, berjalan cepat, tidak memberi kesempatan pada Bu Agnes untuk bertanya lebih lanjut. ~.~ Cafe Petals & Pour tampak seperti biasa. Pintu kaca yang mengilap, papan nama beraksen emas, tanaman hias di pot-pot besar di kedua sisi pintu. Tapi pagi ini, bagi Sherry, semuanya terlihat berbeda. Lampu-lampu terasa lebih terang, suara mesin kopi terdengar lebih keras, dan udara di dalam terasa lebih tipis. Ia masuk melalui pintu belakang, seperti biasa. Tapi begitu tiba di ruang ganti, ia tidak segera membuka lokernya. Ia berdiri di sana, menatap seragam kerja yang tergantung di dalam, kemeja krem, rok hitam, celemek. "Sherry, kenapa diam saja? Kamu tidak mau memulai pekerjaan?" Suara Nova memecah keheningan. Sherry menoleh. Nova berdiri di ambang pintu ruang ganti, satu tangan di pinggang, senyum sinis mengembang di bibirnya. Matanya mengamati Sherry dari kepala sampai ujung kaki, lalu berhenti di seragam yang belum ia kenakan. "Atau jangan-jangan kamu sudah tidak bekerja di sini lagi?" Nova menyeringai. Sherry tidak sempat menjawab. Langkah kaki dari belakang, Sam muncul, berdiri di samping Nova, menatap Sherry dengan alis berkerut. "Apa yang terjadi di sini?" Sam melangkah masuk, matanya beralih dari Nova ke Sherry. "Sherry, kenapa kamu masih belum mengenakan seragam kerjamu?" Sherry menggenggam tali tasnya. "Sam, kamu ingat kemarin aku dipanggil Nyonya Mueller?" Sam mengangguk. Wajahnya berubah serius. "Apa kamu dipecat, Sherry?" Suaranya pelan, penuh perhatian. Sherry menggeleng cepat. "Bukan. Bukan itu. Cuma—" Pintu kitchen terbuka. Berta berdiri di sana dengan wajah datarnya yang khas, tanpa ekspresi. Matanya langsung menangkap Sherry, seperti kucing yang sudah lama mengintai mangsanya. "Sherry." Suaranya tidak tinggi, tidak rendah. Cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu. "Nyonya Mueller memanggilmu ke ruangannya." Keheningan instan menyelimuti ruang ganti. Nova menyeringai lebih lebar. Sam menatap Sherry dengan campuran khawatir dan bingung. Tapi Sherry tidak melihat mereka berdua. Matanya hanya tertuju pada Berta, pada wajah datar yang tidak memberi petunjuk apa pun, pada pintu kitchen yang terbuka di belakangnya, pintu yang mengarah ke ruang utama, ke tangga, ke lantai dua, ke ruangan di mana Nyonya Mueller menunggu. Ia menarik napas. "Saya datang." Suaranya keluar lebih tenang dari yang ia duga. Ia melangkah, melewati Nova yang masih menyeringai, melewati Sam yang meraih tangannya sebentar dan menggenggamnya pelan, sokongan kecil yang membuat Sherry hampir menangis. Tapi ia tidak menangis. Ia menelan air mata itu, membiarkannya tenggelam di tenggorokan, dan terus berjalan. Berta sudah berbalik, berjalan di depannya, menaiki anak tangga pertama. Sherry mengikuti. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung. Di lantai dua, koridor terasa lebih panjang dari biasanya. Karpet merah di lantai menyerap suara langkahnya. Di ujung koridor, pintu kayu jati dengan nama Ivana Mueller terukir di papan kuningan. Berta mengetuk dua kali. "Masuk." Suara dari dalam. Tenang. Terkendali. Berta membukakan pintu, menepi, memberi jalan. Sherry melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi yang terdengar begitu nyaring. Di balik meja kayu besar, Ivana Mueller duduk dengan anggun, senyum tipis di bibirnya, senyum yang sama seperti kemarin. Senyum yang membuat Sherry merasa hangat dan takut dalam waktu bersamaan. "Sherry." Ivana menyapanya seperti menyapa teman lama. "Selamat pagi. Apa kabarmu?" Sherry berdiri di hadapannya, jari-jarinya menggenggam ujung bajunya. Di dadanya, jantung berdetak begitu kencang hingga ia yakin Ivana bisa mendengarnya. "Saya baik, Nyonya." Suaranya kecil. "Saya ... sudah siap." Ivana tersenyum lebih lebar. Matanya menyapu wajah Sherry, memindainya seperti membaca buku yang menarik. "Bagus." Ia berdiri, meraih tas tangan kecil di atas meja, dan melangkah keluar dari balik mejanya. "Kalau begitu, ayo. Hari ini kita mulai." Sherry mengangguk, tidak bisa berkata apa-apa. Ia mengikuti langkah Ivana keluar ruangan, menuruni tangga, melewati kitchen, melewati Sam yang menatapnya dengan mata penuh tanya, melewati Nova yang membisikkan sesuatu pada rekan kerjanya. Ia tidak tahu apa yang menunggunya di luar pintu cafe. Tapi ia sudah tidak punya pilihan untuk mundur. *** Mobil berhenti di depan sebuah bangunan dengan fasad kaca dan marmer putih. Dua pohon palem kecil berdiri di kedua sisi pintu masuk, daunnya bergoyang pelan ditiup angin. Di atas pintu, tulisan Alexa's Atelier terukir dengan huruf emas tipis. Sherry menatap bangunan itu dari balik kaca mobil. Jari-jarinya menggenggam ujung bajunya, meremas kain murah yang tiba-tiba terasa begitu kotor, begitu tidak pantas berada di tempat seperti ini. "Turun," kata Ivana dengan suara santai, sudah membuka pintu di sisinya. Sherry menurut. Kakinya terasa berat saat menjejak trotoar yang bersih mengilap. Ia mendadak sadar dengan sepatunya, sepatu yang solnya sudah mulai mengelupas di bagian depan, yang sudah ia beri perekat berulang kali agar tetap menempel. Pintu kaca terbuka sebelum mereka sempat menjangkaunya. Seorang wanita berambut pendek dengan blazer hitam dan senyum profesional menyambut mereka dari dalam. Parfumnya semerbak, mahal, jenis parfum yang tidak pernah Sherry cium kecuali dari pelanggan cafe yang duduk di meja VIP. "Nyonya Mueller!" Suaranya hangat, akrab. "Senang melihat Anda datang." Ivana melangkah masuk dengan anggun, seperti ikan yang kembali ke air. "Alexa, aku datang untuk dia." Sherry merasakan tangan Ivana menyentuh lengannya lembut, tapi tegas menariknya ke depan hingga ia berdiri tepat di hadapan wanita berblazer hitam itu. Kini Sherry bisa melihat nama Alexa terpampang di bros di kerah blazernya. "Aku ingin kamu membuat dia lebih cantik. Bersih. Dan menarik." Kata-kata Ivana keluar datar, seperti memesan menu di restoran. Alexa mengamati. Matanya bergerak perlahan dari ujung sepatu Sherry yang usang, naik ke rok yang sudah mulai kusut, ke kemeja lengan panjang yang warnanya sudah pudar, ke rambut yang diikat asal dengan karet hitam, hingga akhirnya ke wajah Sherry yang pucat. Sherry merasa dirinya seperti barang yang sedang dinilai. Ia ingin menunduk, ingin menyusut, ingin menghilang. Tapi kakinya tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, di bawah sorot mata Alexa yang tajam, di bawah tatapan Ivana yang tenang. "Wow." Alexa bersiul kecil. "Serahkan pada tim kami, Nyonya Mueller. Anda tidak akan kecewa." Ia tersenyum, senyum seorang seniman yang melihat kanvas kosong. "Kami akan jadikan itik buruk rupa ini menjadi angsa yang memukau." Itik buruk rupa. Kata-kata itu menusuk pelan di d**a Sherry. Ia menggigit bagian dalam pipinya, menahan sesuatu yang tidak bisa ia sebut. Ivana tidak tersenyum. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya menatap Alexa dengan pesan yang lebih serius. "Aku ingin dia melakukan perawatan luar dalam. Jangan sampai ada yang terlewat." Sherry tidak mengerti. Rambutnya dikeramas, dipotong, diwarnai? Kulitnya dilulur, dipijat, dipakaikan masker? Semua itu terdengar seperti kemewahan yang tidak pernah ia bayangkan. Tapi pikirannya melayang ke tempat gelap. Apakah ini persiapan untuk dijual? Apakah Nyonya Mueller akan menyerahkanku ke mucikari? Tapi suara Alexa memecah kebuntuan pikirannya. Wanita itu sudah menggandeng tangannya dan menariknya ke dalam. "Kami akan berikan yang terbaik, Nyonya Mueller." Alexa menatap Sherry dengan senyum lebar. "Ayo, kita akan makeover dirimu, Girl!" Sherry mengikuti langkah Alexa. Kakinya berjalan sendiri, melewati ruang tunggu yang mewah dengan sofa kulit putih, melewati rak-rak berisi botol-botol cantik dengan cairan berwarna-warni, melewati cermin-cermin besar berbingkai emas yang memantulkan bayangannya sendiri—bayangan seorang gadis lusuh di tengah kemewahan yang tidak ia pahami. Ia menoleh ke belakang. Ivana sudah duduk di sofa kulit putih, satu kaki disilangkan, ponsel di tangan. Jari-jari wanita itu bergerak cepat di layar, mengetik sesuatu, lalu mengirim. Sherry ingin berteriak, ingin bertanya. Tapi tenggorokannya terasa tersumbat. Ia hanya membiarkan Alexa menggandengnya lebih jauh, masuk ke lorong dengan pencahayaan hangat, menuju ruangan di belakang yang tidak bisa ia lihat dari pintu masuk. Di Ruang Tunggu Ivana mengirim pesan terakhir, lalu meletakkan ponselnya di samping gelas jus jeruk yang baru saja diantar pelayan. Ia menyandarkan tubuh ke sofa, memejamkan mata sejenak. Sepuluh menit kemudian, pintu kaca terbuka lagi. Cynthia melangkah masuk dengan tumit tinggi yang berdetak di lantai marmer. Wajahnya segar, rambutnya tersisir sempurna, tapi matanya langsung menyapu ruangan, mencari, dan menemukan Ivana di sudut sofa. Ia duduk di samping Ivana tanpa basa-basi. Bahkan sebelum pramusaji sempat menawarkan minuman, Cynthia sudah mencondongkan tubuh, menatap sahabatnya dengan tajam. "Dia pegawaimu?" Suaranya rendah, seperti tidak ingin didengar orang lain. Ivana mengangguk. Ia mengambil gelas jus jeruk, menyesap pelan. Cynthia menghela napas. Kepalanya menggelak pelan, seperti orang yang melihat kecelakaan akan terjadi tapi tidak bisa menghentikannya. "Kupikir kamu akan mencari wanita di luar sana. Yang biasa kita temui." "Aku tidak yakin mereka masih suci, Cyn." Ivana meletakkan gelasnya. Matanya menatap lurus ke depan, ke lorong tempat Sherry menghilang. "Dan aku lebih mengenal gadis ini." Ia berhenti. "Kami seperti melakukan simbiosis mutualisme." Cynthia menyipitkan mata. "Apa Ray setuju?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Ivana tidak menjawab segera. Ia menatap gelas di tangannya, memutar-mutar jus jeruk di dalamnya, seolah mencari jawaban di antara gelembung-gelembung kecil. "Aku tidak akan berada di sini mengajak gadis itu kalau Ray tidak setuju, Cyn." Suaranya tenang. Mungkin terlalu tenang. Cynthia menghela napas lagi. Lebih panjang kali ini. Ia menyandarkan tubuh ke sofa, menatap langit-langit salon yang dihiasi lampu kristal. "Gila." Satu kata, tapi penuh makna. Ivana tersenyum tipis. Matanya masih ke depan, ke lorong tempat Sherry dibawa pergi. "Aku yakin dia akan menyukainya, Cyn." Cynthia menoleh. Wajahnya serius. Tidak ada senyum, tidak ada gurauan. "Bagaimana jika keinginanmu ini menjadi bumerang bagi dirimu sendiri?" Ivana mengerjap. Tangannya berhenti di gelas. "Maksudmu?" "Ray." Cynthia menatap sahabatnya lekat-lekat. "Dia bisa saja semakin menjauh darimu. Dan memilih bersama wanita lain untuk bercinta." Kata-kata itu masuk pelan, tapi menusuk. Ivana terdiam. Wajahnya yang tadi tenang kini sedikit berubah, ada kerutan halus di keningnya, ada gerakan kecil di sudut bibirnya yang menggigit. "Ini dilakukan hanya satu kali, Cyn." Suaranya lebih pelan sekarang. "Dan Ray pasti akan lebih cepat melupakannya. Karena setelah ini, rasa penasaranku terbayarkan. Kami akan kembali seperti semula." Cynthia menggeleng pelan. Matanya tidak lepas dari Ivana. Ada sesuatu di sorot matanya, bukan kemarahan, bukan kritik. Tapi kekhawatiran yang tulus. "Entah mengapa, aku lebih mengkhawatirkan dirimu, Iv." Ivana menatap sahabatnya. Ia ingin tersenyum, ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi di matanya, ada keraguan yang bahkan ia sendiri tidak mau mengakuinya. Ia menoleh ke lorong. Di ujung lorong itu, di balik pintu tertutup, Sherry sedang diubah menjadi sesuatu yang baru. Dan Ivana tidak tahu apakah itu yang benar-benar ia inginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN