Sherry berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya masih terlipat di depan, jari-jarinya saling menggenggam erat. Wajahnya pucat, tapi bukan karena takut dipecat lagi, karena ia tidak tahu apa yang baru saja ia setujui.
Tapi ia sudah mengucapkan ya.
Karena pilihannya hanya dua, setuju, atau keluar dari ruangan ini tanpa pekerjaan.
Dan tanpa pekerjaan, David dan Aleta tidak akan makan. Tanpa pekerjaan, tagihan listrik yang sudah menunggak dua bulan tidak akan dibayar. Tanpa pekerjaan, hidup mereka yang sudah rapuh akan hancur berkeping-keping.
Jadi ia mengucapkan, ya. Meski mulutnya terasa kering saat mengatakan itu. Meski suaranya keluar seperti bisikan yang nyaris tak terdengar.
Ivana menyandarkan tubuhnya di kursi, jari-jarinya menyilang di atas meja. Di wajahnya, senyum kecil yang sulit diartikan, bukan senyum puas, bukan juga senyum ramah. Hanya senyum yang mengatakan bahwa segalanya berjalan sesuai rencananya.
"Jadi kita sudah deal, ya. Kamu terima tawaranku, Sherry."
Sherry mengangguk. Gerakannya pelan, seperti orang yang mengangguk dalam mimpi. Ia membuka mulut, ragu, lalu memberanikan diri.
"Boleh saya bertanya, Nyonya?"
Ivana mengangkat alis. "Ya, silakan."
Sherry menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering kerontang. "Apa pekerjaan itu ... sangat berbahaya?"
Ia menahan napas. Pikiran liar langsung membanjiri kepalanya, narkoba, penyelundupan, sesuatu yang akan membuatnya berurusan dengan polisi, dengan penjara. Dengan hidup yang lebih hancur dari sekarang.
Ivana tersenyum. Kali ini lebih lebar, lebih santai. Kepalanya menggeleng pelan.
"Sama sekali tidak."
Sherry mengerjap. Udara yang ia tahan keluar perlahan, melewati bibir yang masih setengah terbuka. Dadanya terasa lebih ringan, meski tidak sepenuhnya lega.
"Oh." Hanya satu suku kata, tapi di dalamnya ada rasa syukur yang begitu besar hingga matanya terasa panas. Bukan narkoba. Bukan kejahatan. Dia tidak akan masuk penjara.
Tapi kalau bukan itu, lalu apa?
Sherry menggigit bibirnya. Pertanyaan lain muncul di ujung lidah, tapi ia menahannya. Satu per satu. Jangan terlalu banyak bertanya. Jangan membuat Nyonya Mueller berubah pikiran.
"Apa saya masih bisa bekerja di sini?" tanyanya akhirnya, memilih pertanyaan yang paling aman.
Ivana mengangguk. "Tentu saja. Selama itu membuatmu nyaman."
Sherry menghela napas. Setidaknya itu satu hal yang tidak akan hilang. Pekerjaan tetapnya. Rutinitasnya. Satu-satunya hal yang masih ia pegang di tengah segala ketidakpastian.
Ia menatap Ivana. Di matanya, masih ada banyak pertanyaan yang mengendap, pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan. Tapi ia sudah mendapat cukup jawaban untuk hari ini. Atau setidaknya, cukup untuk membuatnya tidak lari dari ruangan ini.
"Jadi," Sherry menggenggam tangannya sendiri lebih erat, "apa yang harus saya lakukan, Nyonya?"
Suaranya bergetar di ujung kalimat. Gugup. Ia menyadari bahwa sejak tadi jari-jarinya tidak berhenti meremas. Meremas ujung celemek, meremas tangannya sendiri, meremas ketakutan yang tidak bisa ia tunjukkan.
Ivana menatapnya sebentar. Matanya bergerak, memindai wajah Sherry, lingkaran hitam di bawah mata, kerutan halus di kening, bibir yang kering karena gugup. Lalu ia berbicara, suaranya lembut tapi tegas, seperti memberikan instruksi pada anak kecil.
"Untuk hari ini, kamu bisa bekerja dulu sampai shift-mu selesai. Seperti biasa. Tidak ada yang berbeda."
Sherry mengangguk, mencoba mencerna.
"Setelah itu kamu pulang. Istirahat." Ivana menjeda. "Dan kita bertemu besok."
"Besok?" Sherry mengulang, tidak mengerti.
"Ya. Ingat ...." Ivana mengangkat satu jari, "kamu tidak harus datang pagi. Kamu bisa datang terlambat. Bahkan, kamu tidak perlu bekerja besok."
Sherry mengerjap. Tidak masuk kerja? Itu berarti kehilangan satu hari gaji. Tapi ... Nyonya Mueller sendiri yang menyuruhnya.
"Besok aku akan mengajakmu keluar. Untuk melakukan sesuatu." Ivana menatapnya lekat. "Itu adalah hari pertama pekerjaan khususmu dimulai."
Sherry menelan ludah lagi. Kepalanya terasa penuh dengan pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan. Keluar? Ke mana? Untuk melakukan apa? Tapi ia hanya mengangguk, karena itulah yang bisa ia lakukan.
"Baiklah, Nyonya." Suaranya kecil. "Saya akan kembali ke dapur."
Ia berbalik, langkahnya sudah setengah menuju pintu, ketika suara Ivana memanggilnya lagi.
"Sherry."
Ia berhenti. Membalikkan tubuh. Wajahnya bertanya-tanya.
Ivana meraih sesuatu dari atas meja, sebuah amplop coklat tipis, sama seperti yang tadi ia lihat. Amplop itu melayang di udara sejenak sebelum jari-jari Ivana mendorongnya ke tepi meja, mendekat ke arah Sherry.
"Kamu tidak mau bawa ini?"
Sherry menatap amplop itu. Di dalamnya, ia yakin, berisi uang. Uang yang sangat banyak. Cukup untuk membayar utang pengobatan ibunya yang masih tersisa. Cukup untuk seragam baru David. Cukup untuk makan enak seminggu penuh.
Matanya terbelalak. "Bukankah saya belum memulainya, Nyonya?"
Ivana tersenyum. Senyum yang terlihat baik. "Tidak apa-apa. Aku yakin kamu lebih membutuhkannya." Ia mendorong amplop itu sedikit lagi. "Kamu bisa ambil sekarang. Aku akan memberimu lagi saat pekerjaannya selesai."
Sherry menatap amplop itu. Tangannya terasa berat di sisi tubuh. Ini terlalu cepat. Ia belum melakukan apa pun. Belum tahu apa yang akan ia lakukan. Tapi di sisi lain, uang itu ada di depan matanya. Nyata. Bisa ia pegang. Bisa ia bawa pulang.
Ia melangkah mendekat. Jari-jarinya meraih amplop itu. Kertasnya halus, berat, terasa begitu mahal di tangannya yang kasar karena sabun cuci piring setiap hari.
"Terima kasih, Nyonya." Suaranya nyaris berbisik.
Ia memasukkan amplop itu ke saku celemeknya, menekannya sekali untuk memastikan tidak jatuh. Lalu ia berbalik, berjalan ke pintu, membukanya, dan melangkah keluar.
Di dapur, suara piring dan gelas yang saling berbenturan menyambutnya. Beth sedang sibuk di dekat kitchen sink, Sam sedang menata pesanan di nampan. Semua berjalan seperti biasa.
Sherry berjalan melewati mereka, langsung menuju loker di sudut ruangan. Jari-jarinya gemetar saat membuka kunci. Ia memasukkan amplop itu ke dalam tasnya, di antara dompet dan buku kecil berisi catatan utang. Lalu ia menutup resletingnya, memastikan tas itu tertutup rapat.
Napasnya memburu. Dadanya naik turun cepat.
Ada dua rasa yang bertarung di dalam dirinya.
Yang pertama, perasaan lega. Uang itu ada di tasnya. Nyata. Cukup untuk membayar setidaknya tiga bulan kebutuhan hidupnya bersama dua adiknya. Mungkin lebih. Mungkin cukup untuk membeli sepatu baru untuk Aleta yang sepatunya sudah kekecilan. Mungkin cukup untuk membeli kebutuhan David yang selama ini dia tunda karena minimnya dana.
Tapi perasaan kedua. Rasa yang membuat tangannya terus gemetar meski amplop itu sudah aman di dalam tas. Rasa yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Pekerjaan apa yang menungguku besok?
Ia menutup loker. Meraih celemek bersih dari rak. Tangannya bergerak otomatis, mengikat tali di pinggang, merapikan lipatannya. Tapi pikirannya tidak di sini. Pikirannya melayang ke amplop coklat di dalam tas. Ke senyum Ivana yang terlalu baik. Ke kata-kata "aku akan memberimu lagi saat pekerjaannya selesai".
Pekerjaan apa yang dibayar semahal ini tanpa dimulai?
Ia tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu, lebih menakutkan daripada kelaparan, lebih menyesakkan daripada utang yang menumpuk.
Beth menyapanya dari seberang ruangan. "Sherry, kamu baik-baik saja? Apa yang Nyonya Mueller katakan padamu?"
Sherry menoleh. Ia memaksakan senyum. Senyum yang sudah ia latih selama tiga tahun bekerja di sini, senyum untuk pelanggan, senyum untuk Sam, senyum untuk semua orang yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, Beth, semua baik-baik saja."
Beth mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.
Sherry mengambil nampan kosong di rak, berjalan menuju pintu dapur. Di balik pintu itu, cafe masih berjalan. Ada pesanan yang harus diantar. Ada meja yang harus dibersihkan. Ada pelanggan yang harus dilayani.
Ia mendorong pintu.
Cahaya dari ruang utama menyilaukan matanya sejenak.
Besok, ia akan tahu. Besok, semuanya akan terjawab.
Tapi hari ini, ia masih Sherry, pelayan di Petals & Pour yang tersenyum pada pelanggan meski dadanya sesak, yang mengangkat piring kotor meski tangannya gemetar, yang berjalan di antara meja-meja meski kakinya terasa seperti menapak di atas kabut.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya besok.
Tapi ia tahu apa yang menunggunya jika ia pulang hari ini tanpa amplop itu. Dan ia sudah memilih.
Ia tersenyum pada pelanggan pertama yang ia temui. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
Di dalam tas di loker, amplop coklat itu menunggu. Di dalam dadanya, ketakutan itu menunggu.
Tapi untuk sekarang, ia hanya perlu bertahan sampai shift-nya selesai.
***
Dari balik pintu ruang keluarga, Ivana berhenti. Tangannya masih di kenop pintu, tapi matanya tidak bisa beralih dari pemandangan di dalam.
Raymond duduk di karpet bulu berwarna krem, kaki panjangnya terlipat tidak nyaman di bawah meja rendah. Di hadapannya, Anna duduk dengan buku mewarnai terbuka di atas meja, halaman bergambar kastil dengan menara-menara tinggi yang baru setengah diwarnai.
"Daddy, yang ini warna apa?" Suara Anna melengking kecil.
Raymond mencondongkan tubuh, menatap gambar yang ditunjuk putrinya. "Menurut kamu?"
"Pink!"
"Pink itu bagus. Tapi kalau pintu istana, biasanya warna cokelat atau emas."
"Emas seperti apa?"
Raymond meraih krayon kuning, menggambar garis-garis kecil di pintu kastil itu. "Emas itu kuning yang berkilau. Seperti matahari."
Anna bertepuk tangan kecil. "Wah! Cantik, Dad!"
Raymond tersenyum. Tangannya yang besar mengusap kepala Anna dengan lembut, jari-jarinya menyisir rambut halus putrinya. "Ini kastil untuk putri, ya kan?"
"Iya! Untuk Mommy!"
Ivana tersenyum. Hangat menjalar di dadanya. Di matanya, Raymond adalah pria yang bertanggung jawab, penuh perhatian, penuh kasih sayang, dan sangat peduli. Sosok yang ia pilih. Sosok yang tidak akan ia tukar dengan siapa pun.
Ia mendorong pintu, melangkah masuk.
"Mommy!"
Anna bangkit dari pangkuan Raymond, berlari kecil, dan melompat ke pelukan Ivana. Tangan mungil itu melingkar di lehernya, bibir mungil itu mencium pipinya dengan suara nyum yang nyaring.
Ivana mencium balik puncak kepala Anna. Wangi sampo anak-anak itu masih segar, menenangkan.
"Sedang apa, Sayang?"
Anna menarik tangan Ivana, membawanya mendekat ke buku mewarnai. "Dad bantu aku mewarnai, Mom. Lihat!" Ia menunjuk kastil dengan pintu emas itu, bangga.
Ivana menatap gambar itu, lalu menatap Raymond. Suaminya masih duduk di karpet, satu tangan memegang krayon kuning. Tapi matanya tidak menatap Ivana. Matanya tertuju pada Anna, pada buku mewarnai, pada krayon di tangannya. Di mana saja, kecuali pada istrinya.
Raymond berdiri. Gerakannya pelan, seperti orang yang tidak ingin terburu-buru tapi juga tidak ingin berlama-lama.
"Dad harus menelepon dulu, ya, Sayang." Ia membungkuk, mencium puncak kepala Anna. Lalu ia berbalik, melangkah ke arah pintu.
Saat melewati Ivana, ia tidak menoleh. Tidak ada tatapan. Tidak ada senyum. Hanya angin tipis yang membawa aroma parfumnya, aroma yang dulu selalu ia hirup setiap malam sebelum tidur.
Pintu tertutup di belakangnya.
Ivana berdiri di tempatnya, memegang tangan Anna yang masih hangat. Senyumnya masih tersisa di bibir, tapi hangat di dadanya perlahan mendingin.
Dua jam kemudian, Anna sudah dibacakan dongeng, dinyanyikan lagu tidur, dan akhirnya terlelap dengan boneka beruang di pelukannya. Ivana berdiri di ambang pintu kamar putrinya, menatap wajah mungil yang tenang itu, lalu memberi isyarat pada Denise, pengasuh yang sudah menunggu di lorong.
"Jaga dia," bisiknya.
Denise mengangguk, melangkah masuk, dan duduk di kursi dekat ranjang.
Ivana berbalik. Ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamar utama. Lampu-lampu temaram menyinari lukisan-lukisan di dinding, foto-foto keluarga dalam bingkai perak, vas-vas bunga segar yang diganti setiap pagi.
Rumah ini indah. Sempurna. Tapi terasa dingin.
Di kamar, ia melepas pakaiannya satu per satu. Gaun sutra berwarna krem ia gantung di lemari. Ia memilih gaun tidur tipis berwarna putih berbahan sutra yang jatuh lembut di bahu dan berakhir di atas lutut. Di luar, ia melapisi kimono panjang berwarna lavender, ikat pinggangnya ia ikat longgar.
Di cermin, ia melihat bayangannya. Wajah yang masih segar meski usai merias, rambut yang tergerai indah ke pundak, tubuh yang masih terawat. Ia menghela napas, lalu keluar.
Di lorong, langkahnya pelan di lantai marmer. Ia tahu persis ke mana ia akan pergi. Ruang minum di ujung lorong, tempat Raymond biasa duduk di malam hari, dengan segelas wiski dan buku laporan yang tidak benar-benar ia baca.
Pintu ruang minum setengah terbuka. Lampu di dalam redup, hanya satu lampu meja yang menyala di sudut. Cahayanya jatuh miring, membentuk lingkaran emas di atas sofa panjang.
Raymond ada di sana.
Ia duduk di ujung sofa, kedua kakinya terbuka lebar, segelas wiski di tangan. Matanya menatap gelas itu, memutar cairan amber di dalamnya. Wajahnya teduh, tapi ada sesuatu di garis rahangnya yang keras, di cara jari-jarinya menggenggam gelas, terlalu erat untuk seseorang yang sedang santai.
Ivana melangkah masuk. Langkahnya sengaja ia buat terdengar, bukan ingin mengagetkan, tapi ingin memberi tahu bahwa ia ada di sini.
Raymond tidak menoleh.
Ivana duduk di sampingnya. Jarak satu tangan. Cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuhnya, cukup jauh untuk tidak menyentuh.
"Aku sudah menemukan gadisnya." Suara Ivana keluar pelan, tapi jelas di ruangan yang sunyi.
Raymond tidak bergerak. Matanya masih pada gelas di tangannya. "Baguslah." Suaranya datar. "Apa dia cantik?"
"Ya." Ivana menatap wajah suaminya dari samping, mencoba menangkap sesuatu apapun di matanya. "Aku carikan yang terbaik. Kamu tidak akan kecewa." Ia berhenti. "Dia juga sepertinya masih perawan."
Raymond mengangkat gelas ke bibir, meneguk wiski itu hingga tandas. Satu tegukan panjang yang membuat jakunnya naik turun. Ia meletakkan gelas di meja dengan bunyi yang pelan.
Ia masih tidak menoleh.
Ivana menatap garis rahang suaminya yang mengeras. Ia bisa melihat denyut nadi di leher Raymond, stabil, tenang, tidak terpengaruh. Seolah apa yang ia katakan hanya laporan cuaca, bukan tawaran untuk menghancurkan batasan pernikahan mereka.
Ia bergerak. Merapat. Tubuhnya menyentuh lengan Raymond. Lalu ia memeluk suaminya dari samping, kedua tangan melingkar di lengan yang kekar itu, pipinya menempel di bahu yang bidang. Tidak ada penolakan, dan baginya itu cukup.
"Hanya satu kali ini saja, Sayang," bisiknya nyaris tanpa suara. "Sampai rasa penasaranku terpuaskan. Setelah itu, aku tidak akan memintamu lagi."
Ia merasakan tubuh Raymond di sampingnya. Kaku. Tidak membalas pelukannya, tapi juga tidak menolak.
"Entah mengapa aku tidak mempercayainya." Suara Raymond keluar dari tenggorokan yang sesak. Bukan marah. Tapi lebih seperti orang yang sudah lelah berdebat.
Ivana melepaskan pelukannya. Tangannya naik, jari-jarinya meraih dagu Raymond, memutar wajah itu perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya menatap mata suaminya, mata yang gelap, yang sulit ia baca, yang di dalamnya ada sesuatu yang retak.
"Ray." Ia memanggil namanya. Hanya satu kata, tapi penuh tekanan. "Percayalah padaku."
Raymond menatapnya. Tidak bergerak. Tidak berbicara.
Dan Ivana tidak menunggu jawaban.
Ia mendekat, bibirnya mendarat di bibir Raymond.
Ciuman itu lembut di awal, hanya tempelan, hanya pertanyaan. Tapi ketika Raymond tidak mundur, ketika bibirnya tidak mengeras menolak, Ivana menekan lebih dalam. Bibirnya membuka, lidahnya menyentuh bibir suaminya, meminta izin.
Untuk beberapa detik, Raymond diam. Tubuhnya kaku di sampingnya. Tangannya tidak naik memeluk, tapi juga tidak mendorong menjauh.
Lalu, perlahan, bibir Raymond melunak.
Tangan kanannya mulai naik, menyentuh pinggang Ivana. Bukan menggenggam erat seperti dulu. Hampir seperti ragu. Seperti menguji apakah ini nyata atau hanya mimpi.
Ivana membalas dengan lebih hangat. Lidahnya masuk, menyapu lidah Raymond, mengingatkan pada rasa yang sudah lama tidak ia cicipi. Tangan kirinya meremas kemeja Raymond di d**a, menariknya lebih dekat.
Di ruangan temaram itu, di bawah cahaya satu lampu meja yang berkedip pelan, mereka berciuman seperti dulu.
Tapi Ivana tahu.
Di balik ciuman ini, ada yang berbeda.
Ada sesuatu yang pecah dan tidak bisa direkatkan hanya dengan bibir.
Raymond akhirnya membalas, tangannya menggenggam pinggang Ivana lebih erat, lidahnya bergerak membalas, napasnya mulai memburu. Tapi di sela-sela ciuman itu, di antara helaan napas dan desahan kecil yang keluar dari tenggorokan Ivana, Raymond membuka mata.
Matanya terbuka lebar. Menatap langit-langit.
Dan di matanya, tidak ada gairah.
Hanya kosong.
Ivana tidak melihatnya. Matanya terpejam, menikmati ciuman yang ia yakini sebagai awal dari perbaikan.
Tapi di balik kelopak matanya yang tertutup, ia tidak tahu bahwa suaminya sedang memikirkan hal yang sama sekali berbeda.
Satu kali ini saja.
Ia berjanji pada dirinya sendiri. Satu kali. Lalu selesai. Lalu semuanya kembali seperti semula.
Ia percaya itu.
Ia hanya ingin ini cepat selesai.
Lalu entah bagaimana, setelah itu, ia harus mencari cara untuk melihat istrinya lagi tanpa mengingat bahwa wanita yang ia cintai memintanya untuk tidur dengan orang lain.
Itu bukan permintaan yang mudah dilupakan.
Itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dengan ciuman.
Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang bertanya, Setelah semua yang terjadi, Apa benar bisa kembali baik-baik saja?