Setelah David dan Aleta berangkat ke sekolah, Sherry berdiri di teras beberapa saat, menatap jalan kosong di depan, lalu menarik napas panjang dan masuk ke dalam.
Di ruang tamu, seperti biasa, ayahnya tidur di sana. Pulang ke rumah pagi-pagi sekali dalam keadaan mabuk, posisinya tidak berubah sejak tadi. Mulut terbuka, dengkur berat keluar dari tenggorokannya dalam ritme yang tidak menentu. Bau alkohol masih melekat di udara, bercampur dengan aroma kopi murah yang tertumpah di kemejanya. Selalu seperti itu.
Sherry melewatinya tanpa suara.
Dapur kecil menantinya dengan tumpukan piring dan gelas bekas sarapan. Ia menyalakan keran, membiarkan air mengalir dingin di tangannya sejenak sebelum mulai mencuci. Dia menggosok, membilas, meniriskan. Piring-piring itu ia susun rapi di rak besi di samping wastafel.
Ia tidak mau meninggalkan rumah dalam keadaan kotor. Kuman, penyakit, hal-hal yang bisa membuat adik-adiknya sakit, itu adalah kemewahan yang tidak mampu ia bayar. Lebih baik mencegah daripada harus membawa Aleta atau David ke rumah sakit dengan uang yang entah dari mana.
Setelah piring terakhir diletakkan di rak, Sherry memandangi dapur kecilnya. Meja makan kayu lapuk itu bersih, lantai sudah disapu, sampah dikumpulkan dalam kantong plastik di belakang pintu. Rumah ini mungkin tidak mewah, tapi setidaknya tidak kotor.
Ia masuk ke kamarnya, mandi, dan bersiap untuk pergi kerja. Saat keluar dari kamar, matanya tanpa sadar tertarik ke ruang tamu. Sosok di sofa masih tergeletak, tak bergerak. Dengkurnya sesekali terputus, lalu mulai lagi. Sherry berhenti sejenak di ambang pintu dapur, menatap pria yang seharusnya menjadi ayahnya.
Dadanya terasa sesak. Bukan karena kasihan. Bukan karena rindu. Tapi karena ada sesuatu yang tidak pernah bisa ia bunuh dalam dirinya, sesuatu yang terus membuatnya kembali, meski setiap kali ia membenci dirinya sendiri karenanya.
Ia berjalan ke rak dapur, mengambil piring bersih yang baru saja ia susun. Roti lapis sisa sarapan, ia letakkan di atas piring. Lalu ia meletakkan piring itu di atas meja makan, tepat di tempat yang akan terlihat begitu ayahnya bangun.
Ia tidak meninggalkan secangkir kopi. Pria itu sudah cukup banyak minum.
Sherry menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, lalu berjalan ke pintu depan. Ia membukanya pelan, menutupnya di belakang tubuhnya tanpa suara, dan mengunci. Tidak ada suara dari dalam yang menunjukkan bahwa pria di sofa itu terbangun atau bahkan peduli.
Sherry berbalik, menatap jalan di depan. Waktu terus berjalan. Dan ia harus terus bergerak.
Ia mulai berlari kecil di trotoar. Sepatu kerjanya yang sudah agak longgar di bagian kanan membuat langkahnya sedikit canggung, tapi ia terbiasa. Jalan dari rumah ke Petals & Pour hanya beberapa blok, rute yang sudah ia hafal di luar kepala, termasuk setiap lubang di aspal dan setiap pohon yang akarnya menonjol.
Tiga blok lagi. Dua. Satu.
Lalu matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sejenak.
Mobil berwarna hitam dengan kaca film gelap terparkir rapi di tempat parkir khusus di depan cafe. Mobil itu milik Nyonya Ivana Mueller, bosnya. Wanita yang jarang datang pagi-pagi. Wanita yang membuat semua pegawai tegang hanya dengan kehadirannya.
"Oh, sial!" Sherry mengumpat pelan. Nafasnya memburu karena berlari.
Ia mempercepat langkah, hampir setengah berlari sekarang. Di pergelangan tangannya, jam murahan menunjukkan angka. Ia menggerakkan tangannya ke depan mata, memastikan tidak salah lihat.
Masih ada tujuh menit.
Tujuh menit. Aku tidak mungkin terlambat. Tidak mungkin.
Tapi kenapa jantungnya berdebar seperti orang yang bersalah?
Ia mendorong pintu belakang cafe dengan sedikit lebih keras. Pintu logam itu mengeluarkan bunyi derit pelan, lalu menutup di belakangnya dengan bunyi pelan.
Dapur belakang masih sepi. Hanya ada dua orang, Beth yang sedang merapikan celemeknya di dekat loker, dan seorang barista yang sudah sibuk di belakang mesin kopi. Bau biji kopi yang baru digiling menyambutnya, aroma yang biasanya menenangkan, tapi pagi ini tidak.
"Aku tidak terlambat kan, Beth?" Sherry meletakkan tasnya di loker, suaranya terdengar terburu-buru meski ia berusaha tenang.
Beth menoleh. Wajahnya santai, bahkan sedikit tersenyum. "Tidak. Masih ada beberapa menit lagi sebelum jam kerja mulai." Ia mengamati Sherry sebentar. "Kenapa kamu takut sekali? Muka kamu pucat, tahu."
Sherry menarik napas. Tangannya yang sedikit gemetar ia sembunyikan di balik celemek yang sedang ia ikat. "Aku melihat mobil Nyonya Mueller di tempat parkir."
Beth tertawa kecil, suara yang ringan dan tidak terbebani. "Kupikir ada apa." Ia membalikkan badannya, mengambil celemek sendiri. "Aku juga sedikit terkejut melihat beliau datang lebih pagi dari kita. Biasanya sih jam sepuluhan atau sebelas. Tapi ya, sudahlah, mungkin ada urusan."
Sherry mengangguk. Ia tersenyum tipis, bukan senyum bahagia, tapi senyum yang ia pasang setiap hari, senyum untuk meyakinkan orang lain bahwa ia baik-baik saja.
Tapi di dalam, ada sesuatu yang menggelitik. Perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada yang akan terjadi. Seperti hari ini akan berbeda.
Ia mengikat celemeknya lebih erat, menarik napas, dan menatap pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang utama cafe. Di balik pintu itu, di lantai dua, di ruang kerjanya yang nyaman, Ivana Mueller sedang menunggu hari kerjanya dimulai.
Dan Sherry tidak tahu mengapa, seperti ada perasaan tidak nyaman yang menggelayutinya.
Bukan takut terlambat. Bukan takut dimarahi.
Tapi takut pada sesuatu yang belum terjadi. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tapi sudah bisa ia rasakan, seperti awan gelap di cakrawala sebelum badai datang.
Beth sudah berjalan menuju pintu, membukanya, dan cahaya dari ruang utama masuk menerpa wajah Sherry.
"Ayo," kata Beth. "Kita mulai hari ini."
Sherry mengangguk. Ia mengikuti Beth, melangkah ke ruangan yang lebih terang, ke hari yang akan berjalan seperti biasa, melayani pelanggan, mengangkat piring, tersenyum, dan bertahan.
Tapi di hatinya, firasat itu terus bergemuruh.
Ia hanya berharap jika perasaannya salah.
~.~
Jam makan siang telah lewat. Keramaian di cafe mulai surut, berganti dengan suasana yang lebih tenang, hanya sesekali suara cangkir bertemu piring atau bisikan pelan dari pelanggan yang masih tersisa. Sherry mengusap meja nomor empat untuk ketiga kalinya, matanya sesekali melirik ke arah tangga menuju lantai dua.
Pintu ruang Ivana masih tertutup rapat.
Tidak terjadi apa-apa.
Sherry menghela napas lega, begitu lega hingga bahunya terasa lebih ringan. Mungkin kekhawatirannya pagi tadi hanya berlebihan. Mungkin Nyonya Mueller memang hanya kebetulan datang lebih awal. Mungkin nasib tidak sedang bermaksud jahat padanya.
Ia membawa baki berisi gelas-gelas kosong ke belakang, langkahnya lebih ringan dari sebelumnya.
"Sherry, ini."
Sam mengulurkan selembar uang, lembaran nominal yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk uang saku seminggu untuk David dan Aleta.
Sherry mengerjap. Tangannya tidak segera mengambil. "Apa ini, Sam?"
"Uang tip dari Nyonya Hudson." Sam menyelipkan uang itu ke telapak tangan Sherry. "Dia menitipkan ini padaku. Katanya kamu sudah menghilang ke dapur saat dia hendak keluar. Jadi dia minta aku yang kasih."
Sherry menunduk, melihat lembaran di tangannya. Jari-jarinya menggenggamnya pelan, seolah takut uang itu akan terbang. Lalu ia tersenyum, senyum yang sungguhan kali ini, senyum yang membuat matanya sedikit berbinar.
"Oh, terima kasih banyak, Sam." Suaranya bergetar kecil, tapi bahagia.
Sam tersenyum tipis. "Katakan itu padanya kalau dia kembali. Bukan padaku."
"Ya, tentu saja." Sherry melipat uang itu rapi, memasukkannya ke saku celana, tempat paling aman, tempat yang tidak akan ia lupakan.
Suasana di dapur terasa hangat untuk sejenak. Sam kembali ke stok bahan makanan, Sherry mengambil kain lap untuk membersihkan meja lagi.
Tapi suasana hangat itu buyar ketika pintu dapur terbuka.
Berta melangkah masuk. Wajahnya datar seperti biasa, tidak ramah, tidak juga bermusuhan. Hanya profesional. Tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat udara di ruangan berubah.
Matanya menangkap Sherry. Lurus. Tanpa berkedip.
"Sherry Watson."
Sherry membeku. Kain lap di tangannya terjatuh ke lantai.
"Nyonya Mueller memanggilmu ke ruangannya." Suara Berta tidak tinggi, tidak rendah. Hanya pernyataan. Tugas.
Dan ia sudah berbalik, keluar dari dapur sebelum Sherry sempat menjawab.
Sherry berdiri di tempatnya. Jari-jari tangannya yang tadi menggenggam uang tip kini menggenggam celemeknya. Wajahnya yang beberapa detik lalu sempat berseri kini berubah pucat. Matanya melebar, menatap pintu yang sudah tertutup di belakang Berta.
Ternyata yang dikhawatirkannya terjadi.
"Sherry." Sam memanggil.
Sherry menoleh. Di wajah Sam, ada ekspresi yang sulit ia baca, antara ingin menenangkan atau ikut khawatir.
Sherry membuka mulut. Suaranya keluar parau, seperti orang yang lupa cara bicara. "Sam ... apakah ... apakah ...?"
Sam menarik napas, lalu meletakkan tangannya di bahu Sherry. Bukan dorongan yang kasar, tapi tekanan yang tegas. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sherry. Cepat temui beliau."
Tangan Sam mendorong pelan. Sherry melangkah, tapi kakinya terasa berat. Setiap langkah ke arah pintu dapur terasa seperti melangkah ke jurang.
Di Lantai Dua
Ivana Mueller duduk di kursinya. Punggungnya tegak, kakinya disilangkan dengan anggun, kedua tangan bertumpu di lengan kursi. Dari balik jendela dengan Venetian blind yang tertutup rapat, ia tidak bisa melihat ke luar, tapi itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang akan terjadi di dalam ruangan ini sebentar lagi.
Ia menunggu.
Di atas meja, secangkir teh hijau sudah dingin. Sejak tadi pagi ia mengamati, memerhatikan, memilih. Kini saatnya.
Suara ketukan pelan dari balik pintu. Begitu pelan, seperti orang yang takut mengganggu. Atau orang yang takut.
Ivana menyandarkan tubuhnya. "Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Sosok wanita dengan seragam krem dan celemek hitam melangkah masuk, langkah pendek, ragu, seolah setiap inci lantai yang ia injak bisa menjebaknya.
Sherry berhenti di tengah ruangan. Tangannya di depan, jari-jari saling mengunci, menggenggam erat. Matanya tertunduk, tidak berani menatap.
Ivana mengamatinya dalam diam. Memindai dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Sederhana. Tidak ada riasan, tidak ada perhiasan. Hanya seorang gadis yang terlalu lelah untuk berpura-pura. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu, bentuk wajah yang proporsional, tulang pipi yang baik, mata yang ... menarik. Mata yang meski tertunduk, tetap terlihat besar dan jernih.
Andai saja dia tahu cara merawat dirinya.
"Sherry Watson." Suara Ivana datar.
"Ya, Nyonya Mueller." Suara Sherry kecil. Hampir berbisik.
Ivana menyilangkan kakinya yang lain, memberi jeda. Biarkan gadis itu menunggu. Biarkan jantungnya berdetak lebih cepat. Tekanan adalah alat yang ampuh.
"Menurut catatan, kamu sudah tiga tahun bekerja di sini. Benar?"
Sherry mengangguk cepat. "Ya, Nyonya."
Ivana mengangguk pelan, seolah mengkonfirmasi sesuatu yang sudah ia tahu. "Waktu yang cukup lama." Ia menjeda, memperhatikan bagaimana Sherry berdiri di sana, tubuh kaku dan tegang, seperti anak kecil yang dipanggil ke kantor kepala sekolah. "Aku senang karena kamu bisa bertahan selama itu di sini. Di saat pegawai lain sibuk keluar untuk mencari pengalaman yang lebih baik."
Ia berhenti. Matanya menajam.
"Apa kamu tidak berniat mengikuti jejak mereka?"
Kepala Sherry menggeleng pelan, terlalu cepat. "Tidak, Nyonya. Saya rasa semua ada masanya. Tapi menurut saya bekerja di sini juga lebih menyenangkan."
Ivana tersenyum. Senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Tangannya meraih cangkir teh yang sudah dingin, menyesapnya meski hanya untuk memberi kesan santai.
"Lebih menyenangkan." Ia mengulang kata itu perlahan, seperti mencicipinya. "Apa karena di sini kamu bebas mengambil jam shift dobel? Sehingga penghasilanmu lebih banyak?"
Sepasang mata Sherry terbelalak. Kepalanya terangkat, dan untuk pertama kalinya ia menatap Ivana, tatapan kaget, seperti kijang yang tiba-tiba mencium bau predator. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah lebih pucat.
"Maafkan saya, Nyonya." Suaranya gemetar. "Saya melakukan itu karena ingin menggantikan teman. Hanya sesekali. Saya tidak—"
"Dan makanan sisa." Ivana memotong, suaranya tetap datar. "Kudengar kamu juga membawa pulang menu sisa yang seharusnya dibuang. Yang tidak layak dikonsumsi." Ia meletakkan cangkirnya dengan bunyi pelan. "Banyak aturan dari restoran yang kamu langgar, Sherry."
Kata-kata itu jatuh satu per satu. Setiap suku kata seperti pukulan.
Sherry menangkup kedua tangannya di depan d**a. Jari-jarinya saling mengunci begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya, yang sejak tadi berusaha tenang, kini pecah. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya gemetar.
"Maafkan saya, Nyonya." Suaranya pecah. "Saya melakukan itu karena ... karena bagi saya itu sangat penting." Ia menunduk, hampir membungkuk. "Jika itu sangat merugikan restoran, saya tidak akan melakukannya lagi. Saya janji. Tapi saya mohon—" napasnya tersendat, "saya mohon jangan pecat saya."
Sherry mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi air mata tidak jatuh. Ia menahannya.
"Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Keheningan mengisi ruangan.
Ivana menatap gadis di depannya. Melihat bahu yang sedikit bergetar, tangan yang menggenggam erat, mata yang berusaha tegar meski ketakutan terpancar jelas di dalamnya.
Ia menunduk sebentar, membuka laci mejanya. Tangannya meraih sesuatu, sebuah amplop coklat tipis, lalu meletakkannya di atas meja.
"Sherry." Suaranya berubah. Tidak lagi dingin, tapi lebih lembut. Seperti ibu yang berbicara pada anaknya yang bermasalah. "Aku tidak akan memecatmu."
Sherry mengerjap. Napasnya yang tertahan keluar perlahan.
Tapi sebelum lega itu sempat hinggap, Ivana melanjutkan.
"Aku punya tawaran untukmu."
Jari Sherry yang tadi mulai mengendur, kembali menegang.
Ivana menatapnya lekat. Matanya tidak berkedip.
"Sebuah pekerjaan khusus. Dengan bayaran yang ...." ia menjeda, "sangat besar."
Sherry diam. Dadanya naik turun. Ia tidak mengerti. Tapi sesuatu di dalam ruangan ini berubah, udaranya terasa lebih berat, lebih dingin.
"Apa itu, Nyonya?" bisiknya.
Ivana tersenyum. Bukan senyum tipis seperti tadi. Tapi senyum yang lebih lebar. Senyum yang tidak membuat Sherry merasa tenang. Sama sekali.
"Kamu akan tahu nanti. Yang perlu kamu jawab sekarang ..." Ivana menyilangkan tangannya di atas meja, "apakah kamu bersedia, ya atau tidak?"
Sherry membuka mulut. Menutupnya lagi.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Dan Ivana tahu. Karena di mata Sherry, ia sudah melihat jawaban yang ia tunggu.
Keputusasaan selalu berbicara lebih jujur daripada kata-kata.