Cahaya pertama menyelinap masuk melalui celah gorden, tipis dan temaram, tidak cukup terang untuk membangunkan, tapi cukup untuk mengusik tidur Sherry. Matanya terbuka perlahan. Bulu matanya berkibar beberapa kali sebelum akhirnya fokus pada langit-langit tinggi yang tidak ia kenal. Lukisan dinding berbingkai emas. Plafon dengan ukiran halus yang tidak pernah ia bayangkan ada di rumah seseorang. Ia masih di kamar itu. Bukan kamar rumahnya yang sempit dengan dinding retak dan plafon bocor. Tapi kamar mewah kediaman Nyonya Mueller. Kamar yang semalam menjadi saksi bisu kejatuhannya. Tubuh Sherry terlonjak duduk. Selimut putih yang menutupinya melorot ke pangkuan, memperlihatkan tubuhnya yang polos, tanpa bra, tanpa pakaian, tanpa apa pun kecuali kulitnya sendiri yang pucat di bawah cahay

