Acara makan siang yang sudah di persiapkan oleh Radit pun akhirnya gagal. Padahal moment siang ini adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan Lia pada Ayah dan Mama tirinya. Tapi, sambutan kedua orang tua itu tidak cukup baik atas pilihan yang yang sudah jelas membuat Radit bahagia. Tatapan Radit makin tajam ke arah dua bola mata Lia. Rasanya Radit seperti ingin menyerah saja. Berada di posisi tidak nyaman dan tidak membuat dirinya tenang. Hampir tujuh belas tahun menahan semua perasaan campur aduk dan kini Radit mau menyerah? Inilah yang di namakan kesabaran setipis tisu, mengambil keputusan yang terlalu cepat. "Lia gak bercanda Kak. Lia serius, gak permainkan perasaan kakak," ucap Lia terbata. Lia baru merasakan bagaimana tulusnya Radit mencintai dirinya. Pembelaan yang luar biasa me

