SEBUAH PROLOG : CEMBURUNYA SEORANG BANYU ADHIARJA
A… Apa yang aku lihat ini?
Sorot matanya yang tajam menatap penuh amarah. Ada gejolak emosi begitu membara di dalam dirinya. Tubuhnya memanas seperti ada bara api yang membakarnya. Wajah tampannya mengeras dan kulitnya yang cenderung gelap semakin gelap karena memerah.
Banyu Adhiarja yang jarang menunjukkan emosinya seperti lepas kendali. Ada luapan kekesalan tak terkontrol menguasai perasaannya. Tanpa ia sadari, yang dirasakannya adalah cemburu.
Ia pun bergerak mendekat tanpa bisa mengendalikan diri. Tangan kanannya yang kekar menarik kerah baju Pratama Wisesa dengan kekuatan penuh.
“AHH..” Jelita Maharani berteriak kaget. Saking mendadak, ia tidak bisa mencegahnya dan hanya menatap kejadian di hadapannya tanpa berkata kata.
“Apa yang kamu lakukan bersama istriku?” tanya Banyu dengan nada geram.
Pram hanya tersenyum simpul dan mencoba menahan diri agar tidak terbawa emosi. Ia merasa kesal dengan perlakuan lelaki di hadapannya ini. Meski sejujurnya, Pram memahaminya.
Mantan suami Jelita pasti cemburu kepadaku. Dia tidak bisa menutupi perasaannya. Aku bisa membacanya dengan jelas.
“Ba.. Banyu lepaskan,” Jelita berusaha melepaskan cengkraman tangan Banyu di leher Pram. Tapi kekuatan tangan lelaki yang pernah menjadi suaminya itu bukanlah lawannya. Jari jemari lelaki tinggi besar itu begitu kokoh dan kekar. Otot otot tangannya semakin menunjukkan kekuatannya.
Pram meremas tangan Banyu agar tidak lagi mencengkeramnya, “Jelita bukan istrimu lagi. Lepaskan aku…”
Banyu semakin marah mendengar ucapan tersebut. Ia hendak melayangkan kepalan tangan kanannya ke arah Pram, tapi Jelita menjerit, “Jangan… Oh Jangan…”
Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak suka keributan. Selain itu Jelita juga merasa cemas kalau sampai Banyu dan Pram saling baku hantam.
Jangan sampai mereka bertengkar gara gara aku.
“Tolong jangan,” Jelita menangis.
Banyu pun luluh hingga melepaskan cengkeraman tangannya, “Ma.. Maafkan aku… Jangan menangis.”
Ia mendekat ke arah mantan istrinya itu dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Amarahnya mendadak hilang tergantikan rasa tidak enak hati sekaligus sedih. Banyu tidak suka melihat Jelita menangis.
“Jangan membuat keributan Banyu. Aku takut…” Jelita bicara perlahan dan membiarkan Banyu menghapus air matanya. “Pram temanku. Dia hanya membantuku .. Pram orang baik.”
“Sekali lagi aku tegaskan, Jelita tidak berbuat salah. Aku juga…” Pram menoleh ke arah Banyu dengan kesal. “Kamu berutang ucapan maaf kepadaku.”
Banyu melotot dengan perasaan jengkel yang hampir hampir tak pernah ia rasakan selama ini. Ia begitu meledak ledak dan beremosi. Lelaki yang disebut Jelita dengan ‘PRAM’tersebut berhasil membuatnya merasa tersaingi.
“Kamu… Jangan bicara sepatah katapun kepadaku,” Tegasnya untuk menutupi rasa dongkol.
Pram menggertakkan giginya.
Jauh di lubuk hatinya, tidak cuma Banyu yang cemburu, tapi dirinya juga. Ia merasa terintimidasi lelaki yang ada di hadapannya ini. Bukan karena mantan suami Jelita ini kaya raya dan berkuasa, bukan juga karena ketampanannya.
Tapi, karena lelaki ini adalah ayah kandung dari Sena.
Hal ini yang membuat Pram merasa marah pada dirinya sendiri. Lelaki tinggi besar yang mencengkeramnya itu memiliki satu kelebihan yang tidak dimilikinya.
“Dia bukan istrimu lagi,” Pram kembali menegaskan untuk meluapkan kekesalannya..
“Jaga mulutmu,” Banyu begitu dongkol mendengar kata katanya.
Kata kata ‘dia bukan istrimu lagi’ seperti skak mat untuknya. Ia menyadari tidak memiliki hak lagi pada perempuan yang disayanginya itu.
Jelita menatap Pram dengan memelas, “Sudah.. Please…”
Pram tersenyum dan bicara dengan lembut, “Iya. Maafkan. Tapi aku hanya bicara apa adanya kalau dia bukan suamimu lagi. Jadi dalam kejadian ini, baik aku ataupun kamu tidak salah apapun.”
Jelita pun mengangguk dan tersenyum simpul.
Banyu hanya diam karena menyadari kalau ucapan laki laki di hadapannya ini adalah benar.
Aku bukan suami Jelita lagi. Tapi…
Jelita kemudian melirik ke arah Banyu, “Kita harus bicara empat mata.”
“Pram, sorry aku tinggal dulu sebentar,” Jelita menatap ke arah mantan dokter kandungannya yang membalas dengan anggukan.
Banyu dan Jelita berjalan ke pojokan.
“Aku harus bilang kalau Pram adalah teman baikku. Dia.. Sudah membantuku selama ini. Jadi, jangan salah paham kepadanya,” Jelita bicara perlahan. “Kendalikan dirimu.”
“Apa kamu membelanya?” Banyu merasakan cemburunya semakin menjadi jadi tapi ia menahan diri.
“Bukan membela, tapi hanya menjelaskan,” Jelita menghela nafas panjang. “Bedakan hal tersebut.”
Banyu menunduk dan terdiam. Ia menggaruk rambutnya karena merasa bersalah pada Jelita. Tingkahnya seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh orangtuanya.
Jelita tersenyum memperhatikan tingkah mantan suaminya yang terlihat menggemaskan, “Tolong jangan sampai Sena mendengarmu marah marah.”
Banyu menarik nafas panjang dan akhirnya mengangguk.
“Janji?” tanya Jelita memastikan.
“Iya,” Banyu menurut pada kata kata mantan istrinya tersebut. “Aku janji.”
Ia kemudian mengelus perut mantan istrinya dengan lembut, “Maafkan ayah Sena, tapi lelaki itu menyentuh ibumu…”
Jelita tersenyum mendengar ucapan Banyu. Namun, tiba tiba saja ada rasa mulas yang ia rasakan.
“Oh.. Oh..” ia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali secara teratur.
“Kenapa? Kenapa? Apa kamu sakit?” Banyu langsung panik.
“Perutku… Perutku,” Jelita kembali mengatur nafasnya.
Pram dengan cepat menghampirinya. Ia memperhatikan sikap perempuan yang memang sedang hamil tua tersebut.
“Kamu… Kamu mulas?” Pram menggenggam tangan Jelita.
“Jangan sentuh dia,” Banyu berteriak.
“Ahh…” Jelita meringis sambil membalas remasan tangan Pram dengan kuat. “Iya.. Iya.. Aku mulas… Tolong ja.. Jangan ribut.
“Banyu, biarkan Pram. Dia tahu.. Dia tahu yang harus dilakukan. Pram seorang dokter kandungan.”
Ia terdiam mendengar ucapan mantan istrinya itu. Meski rasa cemburu menjalar di sekujur tubuhnya, tapi memperhatikan ekspresi Jelita seperti kesakitan membuatnya menahan diri.
“Atur nafasmu.. Ini kontraksi,” Banyu melihat jam tangannya dan mencoba menghitung durasi dan jarak kontraksi tersebut. “Jarak lima menit, durasi kurang dari satu menit.”
“Kita pergi ke rumah sakit sekarang.” Pram mengarahkan Jelita agar melangkah turun.
“Apa Jelita akan melahirkan?” tanya Banyu kaget.
“Kemungkinan besar. Dia berada di fase aktif,” jawab Pram sambil terus memapahnya dan merasakan intensitas kontraksi yang menguat dari genggaman tangan Jelita di jari jemarinya.
Banyu terhenyak.
Jantungnya berdebar kencang.
Anakku akan segera lahir ke dunia ini...