Ranu menahan nafasnya. Ok, lelaki ini bisa jadi ayah kandung Gendis. Memang baru dugaan, tapi setidaknya sudah ada petunjuk. Kita mulai bergerak maju dan bisa mengawali penyelidikan. Wira terdiam menatap Ranu. Ia sedikit menahan nafasnya saat mendengar ‘lantai tujuh’. Aku tidak berani bertanya lebih lanjut. Ranu kemudian melihat jam di tangannya, “Ini sudah sore. Saya ada urusan lain. Kita bisa ketemu lagi di Kalimantan.” Wira ikut berdiri. “Terima kasih,” ucap Dimas menyalami Ranu dan Wira. Keduanya pun bergerak pergi tanpa berkata kata hingga tiba di lobi hotel, tempat mobil stand by menanti mereka. Ranu dan Wira masuk ke dalam mobil. “Apa bapak yakin kalau ada sesuatu dengan Dimas dan Ibu Dina?” tanya Wira ragu. “Belum tentu. Tapi ini petunjuk awal,” jawab Ranu. Wira hanya m

