bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

book_age18+
202
IKUTI
1.6K
BACA
family
police
sweet
bxg
lighthearted
kicking
campus
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Menjadi perwira polisi dengan karier cemerlang membuat hidup Bagas Dewantara nyaris sempurna. Bagi Bagas, mengamankan demonstrasi massa jauh lebih mudah daripada mengamankan Zhafira Lettania. Gadis super nekat itu gemar menjajal hal berbahaya demi meluluskan rasa penasarannya dan kabur dari kekangan ayahnya, yang notabene adalah atasan Bagas sendiri. Mulai dari jadi korlap demo hingga balap liar, sialnya semua kenakalan Zhafira selalu berakhir tragis di tangan Bagas.​Di tengah patah hatinya karena ditinggal sang kekasih demi pria lain, kehadiran Zhafira yang ceria dan penuh warna justru menerobos masuk, mengubah sifat manjanya menjadi debaran manis yang membuat Bagas salah tingkah.​Namun, saat kenyamanan itu bermutasi menjadi cinta, barikade tinggi bernama "Restu Orangtua" mendadak dipasang. Belum lagi, sang mantan mendadak kembali mengetuk pintu setelah dikhianati lelaki lain. Di antara dinginnya aturan kepolisian dan kembalinya masa lalu, akankah Bagas berani melanggar prosedur demi mencintai putri tunggal atasannya sendiri?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
“Kawan-kawan sekalian! Jangan mau mundur! Hak kita sedang dikebiri oleh tikus-tikus berdasi di dalam sana!” Suara gadis itu, Zhafira Lettania, melengking lewat pengeras suara. “Kita di sini bukan untuk jalan-jalan atau mejeng! Kita di sini untuk menuntut keadilan! Hidup mahasiswa!” “HIDUP MAHASISWA!!!” Sahutan kompak dari massa di belakangnya membuat bumi seolah bergetar. Zhafira tersenyum bangga di balik masker yang menutupi wajahnya. Gila, keren banget gue, batinnya norak. Jiwa muda nya yang berumur sembilan belas tahun bergejolak hebat. Ini baru minggu pertama ia resmi menjadi mahasiswa baru jurusan Hukum, dan entah bagaimana ceritanya, bualan lantangnya di forum kemahasiswaan kemarin, membuat para senior mendapuknya menjadi salah satu Korlap alias Koordinator Lapangan aksi hari ini. Zhafira yang dasarnya emang hobi cari perkara dan penasaran dengan segala hal, tentu saja langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Matahari di atas gedung DPR sangat panas. Teriknya membakar aspal, berpadu sempurna dengan hawa panas dari ribuan mahasiswa berjaket almamater kampusnya yang memenuhi jalanan. Pekikan yel-yel keadilan, dan kepulan asap dari ban bekas yang dibakar membuat suasana siang itu mirip seperti medan perang. Tepat di tengah pasukan, berdiri seorang polisi muda dengan tameng di tangannya. Posturnya tegap, bahunya lebar, dan tatapan matanya dari balik kaca helm pelindung terlihat begitu tajam. Pria itu sedang berbicara serius lewat handy talky (HT) di pundaknya. Zhafira masih terus berorasi, situasi di garis depan mendadak chaos. Entah siapa yang memulai, beberapa botol air mineral dan batu-batu kecil mulai melayang dari arah belakang massa mahasiswa, menyasar barisan polisi. "Woy! Jangan lempar-lempar! Satu komando! Tahan kawan-kawan! Tapi gak apa-apa.. lanjutttt!" teriak Zhafira lewat megaphonenya. Sial, ia menganggap jika ini bagian dari rangkaian demo, suaranya yang berteriak tenggelam oleh gemuruh massa. “Fir, lo gila?! Jangan nyuruh massa buat lempar-lempar” teriak salah satu senior Zhafira. “Gak jadi! Jangan lempar-lempar! Tahan emosi kalian, kita harus satu komando!” teriak Zhafira kembali melalui megaphone nya. Dalam sekejap, situasi damai itu berubah menjadi perang. Lemparan botol kaca tadi memicu amarah massa yang lain. Botol air mineral, batu-batu kecil, hingga potongan kayu mulai melayang dari arah belakang massa mahasiswa, menyasar barisan polisi. "Woy! Jangan lempar-lempar! Satu komando! Tahan kawan-kawan, ini rusuh! Ada provokator ini!" teriak Zhafira panik lewat megafonnya. Pagar kawat berduri mulai didorong paksa oleh mahasiswa dari arah belakang yang panik ingin merangsek maju. Mobil yang dinaiki Zhafira bergoyang hebat akibat desakan ratusan orang. Seseorang dari belakang mendorong badan mobil hingga Zhafira kehilangan keseimbangan. Megafonnya terlepas, berguling ke aspal, dan tubuh mungilnya jatuh bebas ke depan tepat ke arah barikade kawat berduri yang mulai runtuh karena didorong massa. "Aaaaa!" Zhafira memejamkan mata pasrah. Dalam otaknya, ia sudah membayangkan kulitnya akan robek terkena kawat berduri, atau lebih parah, wajah cantiknya terinjak-injak massa yang beringas akibat kerusuhan ini. Bap! Bukannya rasa sakit, Zhafira justru merasakan sebuah lengan kekar menangkap tubuhnya di udara dengan kasar, lalu menariknya berputar masuk ke dalam barisan polisi, menjauhi kawat berduri. "Pasukan, rapatkan barisan! Dorong ke depan!" Sebuah suara bariton dan penuh wibawa terdengar menggelegar di dekat telinganya, memberikan instruksi tegas di tengah kekacauan. Zhafira terengah-engah. Ia terduduk di atas aspal di belakang tameng-tameng polisi yang kini menahan desakan mahasiswa yang mengamuk. Jantungnya berdegup seperti mau copot. Pria itu yang menangkapnya tadi kini berlutut di depannya. Dengan gerakan cepat dan efisien, pria itu melepas helm taktisnya, menaruhnya di samping, lalu menatap Zhafira dengan napas yang agak memburu. "Kamu gak apa-apa? Ada yang luka?" tanya pria itu tegas, menelisik tubuh Zhafira dari kepala hingga kaki, ia merasa kenal dengan postur tubuh gadis ini. Bagas membuka paksa masker wajah yang dikenakan Zhafira. Zhafira mendongak. Begitu mata mereka bertemu, waktu rasanya berhenti berputar di tengah riuhnya suara gas air mata yang mulai ditembakkan polisi untuk membubarkan massa di kejauhan. "Om.. Om Bagas?" cicit Zhafira pelan. Bagas Dewantara, perwira muda yang menjabat sebagai Komandan Kompi pengamanan hari ini, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Detik itu juga, mata Bagas melotot sempurna. “Zhafira?!” “Hehehe... halo, Om Bagas,” sapa Zhafira dengan cengiran paling tidak berdosa yang ia punya, mencoba menutupi rasa takutnya karena tertangkap basah di tengah kerusuhan. “Kamu...” Bagas menunjuk wajah Zhafira dengan jari telunjuknya yang gemetar, menahan kaget. “Kamu ngapain di sini?! Pakai teriak-teriak di atas mobil tadi, ikut demo kamu?!” “Ya... Iya ikut demo lah, Om. Tadi awalnya damai, suer! Aku gak tahu kalau yang lempar api tadi ternyata provokator, aku kira itu bagian dari konsep demonya...” jawab Zhafira dengan polosnya, membuat Bagas rasanya ingin menepuk jidat sendiri mendengar kebodohan anak komandannya ini. “Zhafira Lettania!” bentak Bagas. “Kamu sadar gak ini bahaya? Kalau kamu tadi keinjak-injak gimana?!” “Ya kan tadi Om Bagas narik aku. Berarti aman, kan?” Zhafira membela diri, matanya berkedip-kedip polos. Bagas mengusap wajahnya kasar, frustrasi. “Ikut saya sekarang.” Bagas berdiri, lalu menarik lengan baju almamater Zhafira seperti seorang warga yang sedang mengamankan maling jemuran. Zhafira terpaksa setengah berlari mengikuti langkah lebar Bagas menerobos barisan belakang polisi, menuju ke area parkir mobil-mobil dinas yang tidak dapat dijangkau massa. Bagas membuka pintu baris kedua sebuah mobil dinas kepolisian, lalu mendorong pelan tubuh Zhafira agar masuk ke dalam. Pria itu menyusul masuk dan menutup pintu dengan bantingan keras. Brak! Seketika, suara bising dari luar teredam oleh kekedapan mobil dan dinginnya AC. “Buka almamater kamu,” perintah Bagas dingin. Ia duduk di samping Zhafira sambil melipat tangan di d**a. “Eh? Mau ngapain? Om Bagas jangan macam-macam ya, aku aduin Papa nih!” ancam Zhafira. Bagas memutar bola matanya dengan malas. “Buka almamaternya, Zhafira. Kalau ada anggota lain atau kamera wartawan yang lihat kamu di dalam mobil dinas saya pakai baju itu, bisa panjang urusannya. Cepet.” Zhafira mengerucutkan bibirnya, lalu dengan ogah-ogahan melepas jaket almamaternya menyisakan kaus oblong hitam polos. “Kaku banget sih jadi orang. Heran.” “Sejak kapan kamu ikut-ikutan jadi provokator demo kayak gini? Papa kamu tahu?” Mendengar kata Papa disebut, nyali Zhafira yang setinggi langit langsung ambles ke inti bumi. “Y.. ya... Papa gak tahu lah! Kan izinnya hari ini ada kelas sampai malam.” “Oh, pinter ya sekarang. Sudah berani bohong sama orang tua,” sindir Bagas tajam. “Kalau begitu, kamu ikut saya, saya aduin kamu ke Papa kamu, sekarang..!” Zhafira langsung panik. Ia bergeser mendekati Bagas, lalu meraih lengan seragam Bagas dengan kedua tangannya, menggoyang-goyangkannya manja. “Ih, Om Bagas jangan gitu dong! Tega banget sama aku,” rengek Zhafira dengan mata berkaca-kaca yang dibuat-buat. “Kita kan udah kenal lama. Masa ‘Ajudan Kesayangan Papa’ tega nangkep anak komandannya sendiri? Entar kalau Papa tahu, aku bisa dikurung di kamar gak dikasih uang jajan sebulan, Om!” Bagas menghela napas berat. Tatapannya melunak saat melihat wajah memelas Zhafira. Sifat manja dan nekat bocah ini ternyata sama sekali tidak berubah sejak zaman SMP. Bedanya, bocah SMP yang dulu hobi menangis karena hanya ingin membeli batagor, sekarang sudah menjelma menjadi gadis remaja yang... manis. Dan sialnya, kedekatan fisik mereka di dalam mobil yang sempit ini membuat Bagas mendadak salah fokus. Bagas berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya. Ia melepaskan tangan Zhafira dari lengannya dengan pelan. “Jangan pasang muka kayak gitu, gak mempan,” ketus Bagas, walau hatinya sedikit goyah. “Saya punya kewajiban moral buat lapor ke Pak Ardi. Ini demi keselamatan kamu, Fir.” “Om Bagas, plissss!” Zhafira menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a, ia terus memohon. “Jangan bilang Papa, ya? Ya? Janji deh, habis ini aku langsung pulang ke rumah. Gak bakal ikutan demo lagi. Sumpah!” Bagas diam beberapa saat, menatap Zhafira yang menahan napas menunggu keputusannya. Akhirnya, sebuah embusan napas pasrah keluar dari mulut Bagas. “Oke. Kali ini saya gak akan bilang Pak Ardi,” putus Bagas. “Yesss! Makasih Om Bagas ganteng!” Zhafira melompat kegirangan hingga kepalanya membentur kap mobil. Dug “Aduh..” Zhafira mengusap-usap kepalanya yang terbentur. “Pecicilan sih..” ucap Bagas datar. “Kamu jangan seneng dulu, ini ada syaratnya,” ucap Bagas cepat, membuat senyum Zhafira langsung lenyap. “Mulai hari ini, kamu ada di bawah pengawasan saya. Nomor saya masih yang dulu, nomor ponsel kamu kirimkan ke saya dan kalau saya telepon atau chat, harus langsung dibalas. Paham?” Zhafira mencibir pelan. “Iya, iya, paham, Om Polisi yang terhormat.” Zhafira lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, ia membuka ponsel lalu mencari kontak Bagas, yang masih ia simpan sejak enam tahun lalu. “Sudah aku kirim chat ya..” “Oke” balas Bagas singkat, lalu ia membuka ponselnya sekilas hanya untuk melihat benar ada chat masuk dari Zhafira. Bagas kembali meraih helm taktisnya. “Kamu tunggu disini, jangan coba-coba kabur kalau kamu gak mau saya borgol di tiang bendera depan gedung DPR.” “Siap, Komandan!” jawab Zhafira dengan gaya hormatnya. Saat Bagas akan keluar mobil, tiba-tiba kaca mobil nya diketuk. Tok.. Tok.. Tok.. “Om itu siapa?" “Duh..” 💞💞💞

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
798.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
374.3K
bc

Not just, the Beta

read
357.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook