Suara hujan yang turun perlahan malam itu mengisi keheningan rumah besar keluarga Demian. Butirannya memantul lembut di kaca jendela, menambah dingin suasana yang sudah terasa sepi selama berhari-hari. Evana menatap jam di dinding untuk kesekian kalinya. Sudah hampir tengah malam. Tapi seperti biasanya, kamar itu tetap sunyi. Ia duduk di ujung ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, wajahnya muram dan mata sembab karena terlalu sering begadang menunggu seseorang yang entah kapan pulang. Dalam hati, ia tahu ia seharusnya tak lagi berharap. Namun setiap kali malam datang, rasa khawatir itu selalu kembali. Pintu kamar tiba-tiba berderit pelan. Suara langkah kaki berat terdengar menapaki lantai, pelan tapi pasti menuju ke arahnya. Evana tersentak, menoleh cepat. “Elvano…” suaranya nyaris

