Tolong aku, Tuan!!
Freya Celeste Morgan menatap gelisah ke arah bangunan megah dengan lampu neon berkelap-kelip di depannya. Dentuman musik dari dalam bahkan sudah terasa sampai area parkir, membuat jantungnya berdebar tidak nyaman.
“Sayang…” Freya menggenggam lengan William pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara bass. “Katanya kita cuma mau makan malam. Kenapa malah ke club malam begini? Aku nggak kuat… bau alkoholnya, lampu diskotiknya… musiknya juga terlalu keras.”
William menoleh, lalu tersenyum tipis seolah semua kecemasan Freya hanyalah hal berlebihan.
“Freya…” ujarnya santai sambil merangkul bahu gadis itu. “Di sini juga ada restorannya, sayang. Bukan cuma tempat dugem doang.”
“Tapi aku tetap nggak nyaman…” Freya menatap sekitar dengan canggung. Banyak wanita berpakaian terbuka, pria-pria mabuk, dan aroma alkohol bercampur parfum menyengat membuatnya ingin mundur.
William terkekeh pelan.
“Kamu tuh harus sesekali makan di tempat elite begini, jangan warteg terus.” Nada suaranya terdengar bercanda, tapi cukup menusuk. “Masa pacaran sama aku yang kamu tahu cuma kosan, mall, kampus,perpustakaan sama tempat makan sederhana? Bosan, Freya.”
Freya menunduk pelan. “Aku bukan nggak mau nemenin kamu, William… cuma aku memang nggak suka tempat seperti ini.”
William mengangkat dagu Freya pelan, memaksanya menatap wajah tampannya.
“Sekali ini aja buat aku. Kita kan udah dua tahun pacaran. Masa kamu nggak mau ngikutin kemauan pacar sendiri?”
Freya terdiam. Perasaannya tak enak, tapi ia terlalu sungkan menolak.
“Yaudah…” jawabnya lirih. “Tapi jangan lama-lama ya…”
William tersenyum puas.
“Nah, gitu dong. Pacar aku harus bisa diajak ke mana aja.”
Mereka pun masuk ke dalam.
Begitu pintu terbuka, dentuman musik keras langsung menghantam telinga Freya. Lampu warna-warni berputar cepat, aroma alkohol menusuk, dan pemandangan orang-orang berjoget bebas membuat tubuh Freya menegang.
Ia refleks memegang tangan William erat.
“William… aku pusing…”
William justru tersenyum samar.
“Biasa aja kali, Frey. Lama-lama juga terbiasa.”
Dalam hati, pria itu tertawa penuh kemenangan.
“Akhirnya kena juga kamu, Freya… Pacaran dua tahun, jangankan HS, ciuman aja kamu nggak pernah ngasih. Jual mahal banget. Tapi malam ini… kamu bakal jadi milikku.”
William menoleh pada Freya yang masih tampak gugup.
“Kamu duduk dulu ya di sana,” katanya menunjuk sofa VIP di sudut ruangan. “Aku pesenin minum.”
Freya langsung menarik tangannya panik.
“Jangan lama-lama…”
William mengusap puncak kepala Freya manis, seolah pria paling pengertian di dunia.
“Iya, sayang. Tenang aja.”
Freya akhirnya duduk sendiri, memegangi tasnya erat sambil menatap sekitar dengan gelisah.
Sementara itu, William berjalan ke bar dengan seringai licik.
" Oranye jus satu… sama campurin ini ke minuman cewek gue nanti.”
Bartender menatap sekilas, lalu paham.
William memang bukan pria baik-baik.
Sebagai cucu pemilik yayasan kampus ternama tempat mereka kuliah, uang, kuasa, dan wanita bukan hal sulit baginya. Meniduri banyak perempuan bahkan sudah seperti hiburan biasa.
Namun Freya berbeda.
Gadis sederhana, cantik, dan memegang teguh prinsip tidak ada seks sebelum pernikahan.
Dan justru karena itulah…
Freya menjadi target paling menantang untuk William taklukkan.
Bartender itu menyeringai sambil menyerahkan segelas orange juice berwarna cerah pada William.
“Siapa lagi yang mau lo dapetin, Wil?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alis, sudah hafal dengan tabiat pria di depannya.
William terkekeh pelan, menerima gelas itu dengan santai.
“Ada lah…” jawabnya penuh percaya diri. “Masih virgin pula.”
Bartender langsung tertawa pelan.
“Wah… pantesan semangat banget. Have fun, bro.”
William hanya menyunggingkan senyum tipis penuh arti sebelum melangkah kembali menuju sofa VIP tempat Freya menunggu dengan gelisah.
Freya yang sejak tadi duduk kaku langsung menoleh begitu William datang.
“Lama banget…” gumam Freya.
William duduk di sampingnya, lalu menyerahkan gelas itu dengan senyum manis yang selalu berhasil membuat Freya lengah.
“Maaf, sayang. Nih… jus jeruk buat kamu. Kamu kan nggak minum alkohol.”
Freya menatap gelas itu, lalu tersenyum kecil.
“Iya… makasih.” Ia menerima minuman itu tanpa curiga. “Kamu nggak minum?”
William menggeleng santai.
“Nggak. Aku udah minum tadi disana.”
Freya pun meneguk jus itu perlahan. Rasa manis segar jeruk membuatnya sedikit tenang.
“Hmm… enak.”
William memperhatikannya diam-diam, senyum samar terselip di bibirnya.
Freya kembali melihat sekitar yang semakin ramai.
“Kapan kita makan? Katanya dinner…”
William bersandar santai.
“Bentar ya. Sebenarnya aku lagi nungguin teman.”
“Teman?” Freya mengernyit. “Kok nggak bilang dari awal?”
“Dadakan. Tenang aja, nanti habis itu kita makan.”
Freya mengangguk pelan meski hatinya masih tak nyaman. Namun karena percaya pada William, ia kembali meminum jusnya hingga hampir habis.
Beberapa menit berlalu.
Awalnya Freya hanya merasa pipinya menghangat.
Namun lama-kelamaan…
“William…” suara Freya berubah pelan.
William menoleh pura-pura bingung. “Hm? Kenapa?”
Freya memegang lehernya sendiri, napasnya mulai tak beraturan.
“Sayang… kenapa badan aku panas banget ya?”
William menatapnya, berpura-pura panik.
“Panas? Mungkin karena suasananya ramai.”
Freya menggeleng cepat. Wajahnya kini memerah, bahkan pandangannya mulai sedikit kabur.
“Nggak… bukan…” Ia menarik napas, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. “Rasanya aneh… tubuh aku…”
William mendekat, merangkul bahu Freya seolah menenangkan.
“Aneh gimana?”
Freya menggigit bibir bawahnya pelan, tubuhnya mulai gelisah sendiri.
“Aku… pusing… terus…” Ia menelan ludah susah payah. “Badan aku panas… banget…”
Tangannya refleks mencengkeram lengan William erat.
“William… aku kenapa?”
William menyembunyikan seringai puasnya di balik wajah pura-pura khawatir.
“Mungkin kamu kecapekan, sayang.”
“Nggak…” Freya menggeleng lemah. “Ini beda… kaki aku… lemes…”
Freya bahkan nyaris terjatuh jika William tak sigap menahannya.
“Hey… hati-hati.” William memeluk tubuh Freya lebih erat. “Kayaknya kamu perlu istirahat.”
Freya menatap William dengan mata setengah basah karena rasa asing yang menyerang tubuhnya.
“Tolong… aku nggak nyaman…”
William mengusap rambutnya lembut, lalu berbisik di telinganya dengan nada menenangkan yang justru menyimpan niat busuk.
“Tenang, sayang… bentar lagi kita pulang nunggu teman aku dulu.”
Dalam hati, William tersenyum penuh kemenangan.
“Sebentar lagi… prinsip itu bakal runtuh juga, Freya.”
“Sayang… ayo, kita istirahat aja ya. Kamu kelihatan nggak kuat,” ujar William dengan suara dibuat selembut mungkin sambil menopang tubuh Freya yang kini nyaris seluruh bebannya bertumpu padanya.
Freya yang wajahnya merah padam hanya mampu mengangguk lemah.
“Panas… William… panas banget…”
William menyeringai tipis, lalu menggiring Freya menuju resepsionis hotel yang masih terhubung dengan club tersebut.
“Satu kamar,” katanya singkat sambil menyerahkan kartu.
Resepsionis itu mengangguk profesional, lalu memberikan kartu akses kamar premium.
“Selamat menikmati, Sir.”
William merangkul Freya masuk ke lift. Pintu tertutup, menyisakan mereka berdua dalam ruang sempit dengan cermin besar di setiap sisi.
Freya bersandar pada dinding lift, napasnya memburu. Tangannya gemetar menyentuh lehernya sendiri.
“William…” suaranya terdengar lirih dan kacau. “Aku panas banget… aku… nggak tahan…”
Jari Freya mulai menarik pelan cardigan yang dikenakannya, seolah ingin mencari udara.
“Aku mau buka baju…”
William menahan kedua tangan Freya, suaranya rendah penuh arti.
“Ssst… nanti aja, sayang.”
Freya menatapnya dengan mata setengah terpejam.
“Kenapa…”
William mendekat ke telinganya, tersenyum licik.
“Nanti kita buka bajunya di kamar. Ini masih di lift…” bisiknya. “Kamu nggak sabar ya?”
Freya tak lagi mampu berpikir jernih. Tubuhnya hanya dipenuhi rasa panas yang asing dan menyiksa.
Ting!
Pintu lift terbuka.
William menuntun Freya keluar beberapa langkah, namun ia mengingat kuncinya ketinggalan di sofa tadi.
“Damn… kunci mobil aku ketinggalan di bawah.”
Freya yang limbung langsung mencengkeram lengannya.
“Jangan pergi…”
William menahan senyum.Walaupun hasratnya sudah tidak tertahankan.
“Bentar aja, sayang. Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana ya? Aku cuma ambil kunci.”
“Kamu mau ke mana…” suara Freya terdengar seperti rengekan.
“Aku ke bawah sebentar.”
Tanpa memberi Freya kesempatan protes, William masuk kembali ke lift dan pintu tertutup.
Freya berdiri sendirian di lorong hotel mewah, tubuhnya bersandar pada dinding. Napasnya memburu, kepalanya pening, dan seluruh tubuhnya terasa terbakar.
“William… lama banget…” gumamnya gelisah.
Beberapa detik kemudian…
Ting!
Lift kembali terbuka.
Namun yang keluar bukan William.
Seorang pria tinggi, bertubuh tegap, berwajah tampan dengan aura dingin dan berbahaya melangkah keluar. Jas gelapnya rapi, tatapannya tajam, dan kehadirannya langsung terasa mendominasi.
Dalam pandangan Freya yang kabur, pria itu terlihat seperti William.
Freya langsung menghampirinya tanpa pikir panjang, lalu mengalungkan kedua tangan ke leher pria asing itu.
“Kenapa kamu lama sekali, sayang…” lirihnya manja dengan napas panas.
Pria itu langsung menegang.
Tatapan tajamnya menurun, meneliti Freya dari atas hingga bawah wajahnya memerah tidak normal.
“Kamu mabuk?”
Ia mencium aroma alkohol samar dari bibir gadis itu, namun instingnya mengatakan ini bukan sekadar mabuk biasa.
Freya menggeleng lemah, lalu mengalungkan tangganya dileher pria itu.
“Aku panas banget…” bisiknya. “Ayo ke kamar…”
Rahang pria itu mengeras. Ia tahu jelas gadis ini sedang tidak sadar sepenuhnya.
“Jangan main-main…” suaranya berat dan berbahaya. “Kamu sedang memancing orang yang salah.”
Freya yang sudah kehilangan kendali justru menangkup wajah pria itu dengan kedua tangan gemetar.
“Aku nggak kuat…” lirihnya.
Pria itu berusaha menahan diri.
“Dengar… saya jauh lebih berbahaya daripada pria b******k yang menjebakmu.”
Namun kalimat itu terpotong.
Cup.
Freya, dalam kondisi setengah sadar, tiba-tiba mengecup bibir pria itu singkat.
Pria tersebut membeku.
Netra tajamnya berubah gelap.
Freya menggenggam kerah jasnya erat dengan napas bergetar.
“Tolong aku, Tuan…” suaranya pecah. “Aku sudah nggak tahan lagi…”
Untuk beberapa detik, pria itu hanya diam. Rahangnya menegang keras, seolah sedang berperang dengan kendalinya sendiri.
Lalu ia menunduk sedikit, menatap Freya dalam.
“Jangan salahkan saya…” suaranya rendah, nyaris seperti peringatan terakhir. “Kalau saya mulai… saya nggak akan berhenti. Bahkan kalau kamu memohon sekalipun.”
Namun alih-alih takut…
Freya justru semakin mencengkeramnya, seakan pria asing itulah satu-satunya penyelamat dari rasa panas yang membakarnya.