Gavin yang semula fokus pada berkas di tangannya perlahan mengangkat kepala.
Tatapan mereka bertemu.
Ada sekejap keterkejutan di wajahnya, namun seperti biasa, ia cepat menguasai diri.
Ekspresinya kembali tenang, profesional seolah malam itu tidak pernah terjadi.
“Kamu,” ucapnya singkat, nadanya datar, tapi sorot matanya jelas mengenali.
Freya berdiri kaku di depan pintu. Jantungnya berdetak tidak karuan, tangannya mencengkeram ujung tas.
Ruangan itu terasa mendadak sempit.
Gavin bersandar sedikit di kursinya, lalu menutup map di tangannya dengan tenang.
“Silakan duduk, Nona Morgan,” katanya akhirnya, suaranya kini lebih formal. “Dunia memang sempit… kita bertemu lagi.”
Freya menelan ludah, lalu melangkah pelan menuju kursi di depan meja. Ia duduk dengan canggung, menghindari tatapan Gavin.
“A-aku…” ia sempat ragu, lalu menghela napas. “Saya ingin periksa.”
Gavin mengangguk ringan, mengambil pulpen.
“Sebagai pasien… atau ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?” tanyanya, nada suaranya tipis namun penuh makna.
Freya langsung menatapnya, sedikit tersinggung.
“Sebagai pasien,” jawabnya cepat. “Dan… tolong bersikap profesional, Dokter.”
Sudut bibir Gavin terangkat tipis.
“Saya selalu profesional.”
Ia membuka berkas baru.
“Keluhan?”
Freya menggenggam kedua tangannya di pangkuan, jemarinya saling menekan seolah menahan gugup.
“Saya…” ia berhenti sejenak, menelan ludah. “Area… intim saya terasa sakit sejak kejadian semalam. Dan… saya ingin KB. Saya takut hamil… karena kita tidak menggunakan pengaman.”
Ruangan itu hening sesaat.
Gavin tidak langsung menjawab. Ia menatap Freya dengan serius, mencoba membaca ekspresi di wajah gadis itu.
“Kenapa?” tanyanya akhirnya, suaranya tenang. “Apa yang akan terjadi jika kamu hamil?”
Freya langsung mengangkat kepala, matanya terlihat tegas meski masih ada sisa kegelisahan.
“Saya masih mahasiswa,” jawabnya jujur.
“Dan… kita bahkan tidak saling kenal.”
Gavin menyandarkan punggungnya ke kursi, menarik napas pelan.
“Tidak saling kenal…” ulangnya pelan, seolah mempertimbangkan sesuatu.
Lalu ia menatap Freya lagi, kali ini lebih dalam.
“Kalau begitu,” katanya perlahan, “bagaimana jika saya bertanggung jawab?”
Freya mengernyit.
“Maksud Anda?”
Gavin tetap tenang, nada suaranya tidak berubah.
“Jika memang terjadi sesuatu…” ujarnya, “kita bisa menikah. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi semalam.”
Freya langsung terdiam.
Ia tidak menyangka arah pembicaraan akan sejauh itu.
“Menikah?” ulangnya pelan, jelas terkejut.
Gavin tetap tenang, menatapnya tanpa ragu.
“Ya,” jawabnya singkat. “Itu salah satu bentuk tanggung jawab.”
Freya menggeleng cepat, napasnya sedikit memburu.
“Tidak bisa sesederhana itu, Dokter,” ujarnya.
“Kita bahkan tidak saling kenal. Semalam… itu bukan sesuatu yang direncanakan.”
Gavin menyilangkan tangan di depan d**a, tetap mempertahankan sikapnya yang dingin.
“Justru karena itu terjadi di luar rencana, harus ada solusi yang jelas,” balasnya. “Saya tidak terbiasa lari dari tanggung jawab.”
Freya menatapnya, kali ini lebih tajam.
“Dan saya tidak terbiasa menikah hanya karena keadaan,” ucapnya tegas. “Saya datang ke sini untuk periksa… dan mencari pencegahan, bukan mencari suami.”
Sudut bibir Gavin terangkat tipis, seolah sedikit terkesan dengan ketegasan itu.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kita fokus ke tujuan kamu datang ke sini.”
Ia mengambil berkas dan mulai menulis.
“Kita bisa lakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi kamu baik-baik saja,” lanjutnya dengan nada profesional. “Dan untuk pencegahan, ada beberapa opsi… termasuk kontrasepsi darurat, tergantung waktunya masih memungkinkan atau tidak.”
Freya sedikit lebih tenang mendengar itu.
“Jadi… masih bisa dicegah?” tanyanya pelan.
Gavin mengangguk.
“Kita lihat dulu waktunya sejak kejadian, lalu saya jelaskan pilihan yang paling aman untuk kamu.”
Freya menghela napas lega, meski belum sepenuhnya.
“Terima kasih… Dokter.”
Namun sebelum kembali sepenuhnya ke mode profesional, Gavin menambahkan satu kalimat, suaranya lebih rendah.
“Tapi tawaran saya tadi… tetap berlaku.”
Freya langsung menatapnya lagi, kali ini campur aduk antara kesal dan bingung.
“Dokter…”
Gavin hanya menutup berkasnya ringan.
“Kita selesaikan satu hal dulu,” katanya. “Soal yang lain… bisa dipikirkan nanti.”
“Silakan berbaring di bed, saya akan melakukan pemeriksaan,” ujar Gavin dengan nada profesional.
Freya ragu sejenak, namun akhirnya ia naik ke ranjang pemeriksaan dengan gerakan pelan.
Gavin menyiapkan sarung tangan medis.
“Untuk pemeriksaan, area yang dikeluhkan perlu dilihat,” jelasnya tenang.
Freya langsung menatapnya dengan ekspresi tidak nyaman.
“Apa… harus dibuka?” tanyanya, nadanya sedikit defensif. “Dokter… jangan aneh-aneh.”
Gavin menghela napas tipis, tetap tenang.
“Saya tidak akan bisa menilai kondisi Anda tanpa pemeriksaan langsung,” jawabnya datar. “Dan saya tidak akan melakukannya sendiri. Perawat akan membantu.”
Freya mengerutkan kening.
“Bukannya… Anda sudah tahu kondisi saya?” ucapnya pelan, sedikit menyindir.
Tatapan Gavin berubah lebih tegas.
“Di sini saya bertindak sebagai dokter,” katanya. “Bukan berdasarkan asumsi, tapi pemeriksaan medis.”
Ia lalu menekan tombol panggil.
“Suster, bisa masuk sebentar.”
Tak lama, seorang perawat masuk ke dalam ruangan.
“Ya, Dok?”
“Tolong bantu pemeriksaan pasien,” ujar Gavin singkat.
“Baik, Dok.”
Perawat itu mendekati Freya dengan sikap profesional.
“Tenang ya, Mbak. Saya akan bantu,” katanya lembut.
Beberapa saat kemudian, pemeriksaan dilakukan dengan prosedur medis yang sesuai.
Setelah selesai, perawat menoleh pada Gavin.
“Dok, terdapat luka pada area dalam, kemungkinan akibat gesekan dan ini konsisten dengan pengalaman pertama,” lapor perawat dengan bahasa medis.
Gavin mengangguk pelan.
“Baik.”
Ia kemudian menatap Freya lagi, kali ini dengan nada lebih tenang.
“Saya akan berikan obat untuk membantu penyembuhan dan mengurangi rasa tidak nyaman,” jelasnya. “Selama kurang lebih satu minggu ke depan, sebaiknya tidak melakukan aktivitas yang bisa memperparah kondisi tersebut.”
Freya hanya mengangguk pelan, wajahnya masih sedikit pucat.
Gavin menulis resep.
“Selain itu, saya juga akan berikan penanganan pencegahan sesuai yang kamu butuhkan tadi,” tambahnya. “Ikuti aturan pakainya dengan benar.”
Freya menarik napas panjang.
“Iya… Dok. Terima kasih.”
Gavin menyerahkan resep itu ke meja, lalu menatap Freya sejenak seolah masih mempertimbangkan sesuatu.
“Jika kamu tidak mau menikah secara biasa…” ucapnya pelan, “kita bisa membuat pernikahan kontrak.”
Freya langsung mengangkat kepala, ekspresinya berubah tidak setuju.
“Pernikahan itu sakral, Dok,” balasnya tegas. “Bukan permainan atau kesepakatan sementara.”
Gavin tidak tersinggung. Ia justru menyandarkan tubuhnya, lalu berbicara lebih jujur.
“Saya tahu,” katanya. “Dan saya tidak menganggapnya ringan.”
Freya menatapnya, menunggu penjelasan.
“Saya berada di posisi yang… cukup rumit,” lanjut Gavin. “Keluarga saya sedang mendesak perjodohan. Usia saya sudah 35 tahun dan belum menikah. Mereka mulai berasumsi yang bukan-bukan… bahkan mengira saya memiliki orientasi yang berbeda.”
Freya terdiam, sedikit terkejut dengan keterusterangan itu.
“Saya butuh seseorang untuk saya ajak menikah,” lanjut Gavin tenang. “Untuk menghentikan tekanan itu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih serius.
“Selain itu, ada urusan warisan keluarga. Selama saya belum menikah, hak saya belum bisa dicairkan.”
Freya mengernyit.
“Jadi… Anda butuh saya untuk itu?”
Gavin menatapnya lurus.
“Saya butuh seseorang yang bisa saya percaya. Dan… situasi semalam membuat semuanya menjadi lebih jelas.”
Freya menghela napas panjang, jelas masih ragu.
“Ini bukan keputusan kecil, Dok…”
Gavin mengangguk.
“Saya tidak meminta jawaban sekarang,” ujarnya. “Tapi saya ingin kamu mempertimbangkannya dengan tenang.”
Gavin terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali membuka suara. Nada bicaranya tetap tenang, tapi kali ini lebih serius.
“Saya tidak akan meminta ini tanpa imbalan yang jelas,” ujarnya pelan.
Freya menatapnya, keningnya berkerut.
“Maksud Anda?”
Gavin menarik napas pendek, lalu menatapnya lurus.
“Saya akan memberikan kompensasi sebesar lima miliar,” katanya tanpa berputar-putar. “Untuk pernikahan selama tiga bulan.”
Freya langsung tertegun.
“Lima… miliar?” ulangnya pelan, jelas terkejut.
Gavin mengangguk.
“Pernikahan ini hanya untuk sementara,” lanjutnya. “Tujuannya… untuk menenangkan ibu saya.”
Nada suaranya sedikit berubah saat menyebut itu.
“Kondisinya tidak baik. Penyakit jantungnya sudah cukup parah,” ujarnya lebih rendah.
“Waktunya… mungkin tidak lama lagi.”
Freya terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Gavin bukan sekadar pria dingin, tapi seorang anak yang sedang menghadapi kehilangan.
“Saya ingin beliau melihat saya menikah,” lanjut Gavin. “Setidaknya sekali… sebelum terlambat.”
Freya menunduk, pikirannya bercampur aduk.
“Dan setelah tiga bulan?” tanyanya pelan.
“Kita berpisah secara baik-baik,” jawab Gavin. “Tanpa ikatan apa pun lagi.”
Freya menggenggam tangannya, jelas masih bimbang.
“Ini… terlalu besar untuk disebut kesepakatan biasa, Dok…”
Gavin tidak membantah.
“Saya tahu,” katanya singkat. “Karena itu saya tidak memaksa.”
Ia menatap Freya dalam.
“Tapi tawaran ini serius.”